SulawesiPos.com – Kondisi 4 Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi kru kapal MT Honour (sebelumnya ditulis MT Honour 25) di perairan Somalia dilaporkan kian memprihatinkan.
Sejak dibajak oleh perompak pada 22 April lalu, hingga kini belum ada titik terang terkait upaya pembebasan maupun negosiasi lanjutan.
Selain ancaman keselamatan nyawa dari kelompok pembajak, sebanyak lebih dari 50 orang yang berada di atas kapal kini menghadapi ancaman kelaparan akibat kehabisan stok logistik dan krisis air bersih.
Orang tua dari Kapten Kapal MT Honour Ashari Samadikun, Syamsuddin, mengungkapkan bahwa seluruh komunikasi dan proses negosiasi dari pihak perusahaan maupun pihak terkait saat ini terputus total.
“Kami menerima berita sampai sekarang sudah tidak ada lagi negosiasi, baik dari perusahaan maupun dari siapa pun. Semua terputus. Hanya ada negosiasi pertama dari perusahaan, setelah itu tidak ada tindak lanjutnya,” ujar Syamsuddin saat memberikan keterangan, Sabtu (30/5/2026).
Padahal, menurut Syamsuddin, pihak perompak sebenarnya telah menyepakati nominal tebusan senilai 2,5 juta dollar AS untuk membebaskan kapal beserta seluruh awaknya.
Syamsuddin juga membantah keras kabar yang menyebutkan bahwa para kru telah menerima bantuan logistik di atas kapal.
Ia menegaskan bahwa sejak awal penyanderaan hingga memasuki hari ke-38 ini, sama sekali tidak ada pengiriman makanan maupun air bersih.
“Berita bahwa sudah ada supply makanan ke atas kapal itu tidak benar. Faktanya, saat ini mereka sudah kehabisan makanan dan air bersih sudah tidak ada. Tangki air di kapal sudah berkarat dan usang, tidak bisa memproduksi air bersih lagi,” jelasnya.
Kondisi fisik kapal pun dilaporkan mulai tidak stabil akibat kerusakan teknis pada alat penyeimbang dan sejumlah suku cadang penting.
Situasi ini diperparah oleh cuaca buruk di perairan Somalia yang meningkatkan risiko kapal tenggelam.
Ketiadaan akses logistik dan ketidakpastian hukum membuat kondisi psikologis para awak kapal terguncang hebat. Beberapa kru dilaporkan mulai jatuh sakit di tengah situasi yang mencekam.
Bahkan, pada 24 Mei lalu, kapal sempat didatangi oleh kelompok perompak lain, hingga memicu bentrokan bersenjata dengan kelompok perompak yang berada di atas kapal.
“Para awak kapal sudah sangat stres, beberapa ada yang sakit-sakitan terus. Kata anak saya, mereka tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Akses Wi-Fi juga telah diputus dan diganti akun serta password-nya oleh pembajak,” kata Syamsuddin dengan nada cemas.
Pihak keluarga kini merasa sangat terpukul dan menilai pihak perusahaan terkesan menghindar dari tanggung jawab utama mereka.
“Perusahaan hanya mau cuci tangan saja dan lepas tanggung jawab. Itulah masalahnya, perusahaan tidak pernah jujur kepada kami,” sesalnya.
Mewakili seluruh keluarga kru, Syamsuddin meminta komitmen dan langkah taktis yang cepat dari Pemerintah RI untuk segera turun tangan menyelamatkan para WNI sebelum jatuh korban jiwa.
“Kami mohon kepada Bapak (Pemerintah), minta tolong agar anak kami dan seluruh awak kapal dapat secepatnya dibebaskan. Tolong ditindaklanjuti dengan cepat, kita tidak tahu sampai kapan situasi mencekam ini bisa mereka bertahan,” pungkasnya. (mn abdurrahman)

