SulawesiPos.com – Krisis bahan baku kemasan plastik akibat dampak perang global sempat menghambat penyaluran bantuan pangan di Sulawesi Selatan pada alokasi Februari hingga Maret 2026.
Meski demikian, Perum Bulog Cabang Makassar memastikan distribusi kini mulai kembali normal seiring teratasinya kendala pasokan kemasan.
Pemimpin Bulog Cabang Makassar, Faris Sudirman AR, mengungkapkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada stok beras, melainkan pada terbatasnya bahan baku biji plastik impor yang digunakan untuk pengemasan bantuan pangan.
Menurutnya, situasi geopolitik internasional memberi dampak besar terhadap rantai distribusi bahan baku industri, termasuk sektor pangan nasional.
“Kendala utamanya memang di kemasan. Perang global membuat impor biji plastik terganggu sehingga proses pengemasan bantuan pangan ikut terlambat. Namun sekarang perlahan mulai teratasi dan kami berharap distribusi bantuan pangan ke depan bisa kembali lancar setiap bulan,” ujar Faris saat menerima kunjungan Komisi III DPR RI di Gudang Bulog Panaikang, Makassar, Senin (11/5/2026).
Meski sempat mengalami keterlambatan distribusi bantuan pangan, Bulog memastikan program stabilisasi harga dan operasi pasar tetap berjalan tanpa hambatan.
Penyaluran melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) dan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) disebut terus dilakukan untuk menjaga ketersediaan serta harga beras di masyarakat.
Di tengah tantangan distribusi tersebut, kondisi stok beras di Sulawesi Selatan justru mendapat sorotan positif dari DPR RI.
Anggota Komisi III DPR RI, Andi Amar Ma’ruf Sulaiman, mengaku terkesan dengan kapasitas stok yang tersimpan di gudang Bulog Sulsel.
Ia menyebut capaian stok beras mencapai 600 ribu ton merupakan kondisi luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya di Sulawesi Selatan.
“Dari hasil pemantauan tadi, stok yang tersedia sangat besar. Ini luar biasa dan insya Allah mampu menopang kebutuhan hingga musim panen tahun depan. Justru Bulog meminta dukungan untuk mempercepat penyaluran ke masyarakat, bukan karena kekurangan stok,” kata Ketua Umum BPD HIPMI Sulsel.
Pernyataan serupa juga disampaikan Wakil Ketua DPRD Sulsel, Yasir Mahmud.
Ia menilai stok beras yang melimpah harus dibarengi dengan distribusi yang tepat agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Menurut Yasir, keberhasilan menjaga cadangan beras hingga ratusan ribu ton menjadi indikator positif ketahanan pangan Sulawesi Selatan di tengah ancaman cuaca ekstrem dan ketidakpastian ekonomi global.
“Stok 600 ribu ton ini rekor tersendiri bagi Sulsel. Harapan kami distribusi bisa semakin baik sehingga tidak ada masyarakat yang kesulitan memperoleh pangan,” ujarnya.
Bulog Makassar juga memastikan sistem perputaran stok berjalan secara otomatis. Beras yang tersimpan di gudang akan terus disalurkan sambil tetap menyerap gabah petani selama musim panen berlangsung.
Strategi tersebut dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan petani sebagai produsen dan masyarakat sebagai konsumen.
Selain menjaga harga tetap stabil, langkah itu juga bertujuan memastikan gudang penyimpanan tidak mengalami kekosongan maupun penumpukan berlebih.
Dengan stok yang disebut aman hingga tahun depan, Sulawesi Selatan kini menjadi salah satu daerah dengan cadangan pangan terbesar di Indonesia Timur.
Pemerintah berharap distribusi bantuan pangan ke depan dapat berjalan lebih cepat dan tepat sasaran setelah hambatan kemasan mulai terselesaikan.

