SulawesiPos.com – Kabar kurang menyenangkan datang dari salah satu Sekolah Rakyat (SR) di Makassar. Seorang siswa berinisial Amr dilaporkan menjadi korban dugaan pengeroyokan oleh sekelompok pelajar di lingkungan sekolah pada 23 April 2026.
Peristiwa ini diduga bermula setelah korban memilih keluar dari sebuah geng yang disebut-sebut dibentuk oleh para terduga pelaku.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, korban awalnya didatangi oleh sekitar 20 pelajar, sementara di sisi lain Amr hanya bersama kurang lebih tujuh rekannya.
Situasi kemudian memanas ketika salah satu pelaku mengajak korban berduel.
Namun, duel tersebut diduga berujung pada aksi pengeroyokan. Saat duel berlangsung, korban justru diserang oleh anggota kelompok lain hingga terjatuh.
“Ketika korban terjatuh, dia langsung dikeroyok. Saat berada di tanah, korban melihat ada dua orang yang memukul dan menginjak-injak dirinya,” ungkap Ilham, keluarga korban kepada BKM.
Korban Alami Luka dan Trauma
Keluarga menyebut dua siswa yang diduga terlibat dalam pengeroyokan masing-masing berinisial AH dan IM.
Akibat kejadian tersebut, korban mengalami lebam di wajah serta pembengkakan di bagian pundak belakang.
Korban juga sempat kehilangan kesadaran sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Pihak keluarga mengaku telah melaporkan peristiwa ini kepada pihak sekolah.
Namun demikian, respons sekolah dinilai belum memuaskan. Keluarga menduga ada kecenderungan untuk melindungi pelaku dan mendorong penyelesaian secara damai.
“Kami merasa pihak sekolah seakan melindungi pelaku dan ada upaya untuk memaksa agar kasus ini diselesaikan secara damai,” kata Ilham.
Pasca kejadian, korban disebut mengalami trauma mendalam dan menolak kembali bersekolah lantaran para terduga pelaku masih berada di lingkungan sekolah.
“Saat ini korban sudah tidak mau masuk sekolah karena para pelaku masih ada,” ujarnya.
Keluarga berharap aparat penegak hukum dapat menindaklanjuti laporan tersebut demi mencegah kejadian serupa terulang.
“Untuk itu kami berharap keadilan bisa ditegakkan, karena kalau pelaku masih ada di lingkungan sekolah tentu itu berbahaya,” tutupnya.
Pihak Sekolah Bantah Pengeroyokan
Sementara itu, Kepala SRMP 23 Makassar, Radiah, membantah adanya pengeroyokan. Ia menyatakan insiden tersebut merupakan perkelahian antarsiswa.
Menurut Radiah, pihak sekolah pertama kali mengetahui kejadian tersebut sekitar pukul 11.00 Wita pada hari kejadian. Setelah mendapat laporan, sekolah langsung mengambil langkah penanganan dengan menugaskan petugas kesehatan untuk memberikan pertolongan.
Selain itu, sekolah juga disebut telah mendampingi dan membiayai pengobatan siswa di rumah sakit, serta menghadirkan dokter dan psikolog dari sentra layanan terkait.
“Sekolah juga telah melakukan upaya mediasi terhadap ketiga keluarga siswa yang terlibat perkelahian,” ujarnya.
Terkait dugaan adanya geng di sekolah, Radiah mengaku baru mengetahuinya setelah insiden tersebut terjadi dan memastikan bahwa kelompok tersebut telah dibubarkan.
“Sekolah mengetahui adanya geng setelah kejadian tersebut dan saat ini telah dibubarkan,” jelasnya.
Ia juga menerangkan, saat peristiwa berlangsung pihak sekolah tengah menggelar lomba fashion show dan tari dalam rangka peringatan Hari Kartini, sehingga fokus pengawasan guru berada di lokasi kegiatan.
Dua siswa yang terlibat disebut telah membuat kesepakatan untuk berkelahi di lapangan futsal yang lokasinya cukup jauh dari area acara. Pihak sekolah mengklaim telah memberikan teguran kepada guru dan tenaga kependidikan agar lebih waspada dalam mengawasi siswa.
Menanggapi tudingan melindungi pelaku, Radiah menegaskan sikap netral sekolah karena seluruh pihak yang terlibat merupakan peserta didik di sekolah tersebut.
“Ketiganya adalah siswa kami, sekolah bersifat netral dan tidak memihak,” tegasnya.
Ia menambahkan, mediasi telah diupayakan namun pihak yang mengaku sebagai korban menolak berdamai. Saat ini, kasus tersebut telah dilaporkan ke Polda Sulawesi Selatan untuk ditangani lebih lanjut.

