SulawesiPos.com – Kabupaten Enrekang di Sulawesi Selatan memiliki kuliner tradisional yang tak hanya terkenal karena cita rasanya, tetapi juga karena keunikan bahan bakunya.
Kuliner itu adalah Sokko Pulu Mandoti, sajian ketan khas masyarakat Massenrempulu yang dikenal gurih, pulen, dan memiliki aroma harum yang khas.
Makanan tradisional ini dibuat dari pulu mandoti, yakni beras ketan lokal khas Enrekang yang hanya tumbuh di wilayah tertentu, khususnya di Desa Salukanan dan Desa Kendenan, Kecamatan Baraka.
Di kalangan masyarakat Duri Enrekang, jenis padi dibedakan menjadi dua kelompok, yakni koah dan pulu.
Koah merujuk pada padi biasa yang diolah menjadi nasi, seperti pare tillok, pare jambu, hingga pare doi.
Sementara pulu merupakan jenis padi ketan, terdiri dari pulu mandoti atau ketan merah, pulu pinjan (ketan putih), dan pulu lotong (ketan hitam).
Nama “mandoti” sendiri berasal dari Bahasa Duri, gabungan kata mang yang berarti melakukan dan doti yang bermakna jampi atau pengaruh terhadap pikiran seseorang.
Istilah itu melekat karena aroma harum pulu mandoti disebut mampu menggugah selera siapa pun yang menciumnya.
Keunikan utama pulu mandoti memang terletak pada aromanya. Saat dikukus, beras ketan ini mengeluarkan wangi menyerupai daun pandan yang dapat tercium hingga jarak puluhan meter.
Karakter inilah yang membuatnya berbeda dari ketan pada umumnya.
Selain aromanya yang khas, pulu mandoti juga tumbuh di kawasan pegunungan dengan kondisi geografis tertentu.
Tanaman ini dibudidayakan di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut dengan kontur lereng mencapai 60 derajat.
Karena hanya tumbuh di wilayah terbatas dan memiliki kualitas premium, harga pulu mandoti tergolong tinggi.
Beras ketan ini bisa dijual sekitar Rp50 ribu per kilogram atau jauh lebih mahal dibanding ketan biasa.
Dalam penyajiannya, sokko pulu mandoti dimasak menggunakan santan sehingga menghasilkan tekstur lembut dan rasa gurih.
Kuliner ini biasanya disantap bersama lauk seperti ikan asin, telur rebus, hingga hidangan khas Sulawesi Selatan seperti nasu likku dan nasu palekko.
Nasu likku merupakan ayam berbumbu lengkuas yang dimasak dengan santan, sedangkan nasu palekko adalah olahan bebek pedas khas Bugis yang kaya rempah.
Bagi masyarakat Enrekang, sokko pulu mandoti bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari tradisi dan budaya.
Sajian ini kerap hadir dalam acara adat, pesta pernikahan, hingga prosesi kematian.
Masyarakat Salukanan juga menggunakan sokko pulu mandoti dalam sejumlah ritual adat, termasuk tradisi mangpakande sangsuran.
Namun khusus untuk acara aqiqah, makanan ini tidak digunakan karena adanya ketentuan adat setempat.
Dahulu, sokko mandoti disebut hanya disajikan untuk kalangan tertentu, termasuk dalam upacara adat dan jamuan pejabat kerajaan.
Kini, kuliner tersebut mulai dikenal luas dan menjadi salah satu ikon kuliner khas Enrekang.
Meski begitu, sokko pulu mandoti tidak selalu tersedia setiap hari. Masyarakat biasanya harus melakukan pemesanan lebih awal karena makanan ini tidak dapat bertahan lama setelah dimasak.

