SulawesiPos.com – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, M. Qodari, menilai langkah Presiden Prabowo Subianto menggunakan kendaraan Maung saat menghadiri KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina, sebagai simbol kemandirian dan kemajuan teknologi otomotif nasional.
Menurut Qodari, penggunaan kendaraan produksi dalam negeri itu menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendorong lahirnya industri otomotif Indonesia yang kuat dan mampu bersaing secara global.
“Iya dong. Ini kan Maung ini kan merupakan simbol kemandirian sekaligus kemajuan teknologi bangsa Indonesia. Pak Prabowo ingin agar kita sebagai bangsa itu punya industri otomotif yang bagus dan kompetitif,” kata Qodari dikutip dari JawaPos, Jumat (8/5/2026).
Qodari menilai Indonesia sebenarnya memiliki pasar otomotif yang sangat besar sehingga seharusnya mampu melahirkan produk kendaraan nasional yang kompetitif.
Ia menyinggung tingginya angka pembelian kendaraan setiap tahun yang dinilai seharusnya dapat menjadi fondasi pengembangan industri otomotif nasional.
“Suatu ironi bahwa kita setiap tahun membeli mobil baru itu ratusan ribu, bahkan pada masa-masa jayanya itu bisa sampai satu juta per tahun. Masak sih istilahnya, kalau kata beliau tuh, 300.000-400.000 unit saja tidak ada mobil nasional yang dibeli,” ujarnya.
Menurutnya, dibutuhkan keberanian melakukan terobosan teknologi dan industri agar Indonesia memiliki kendaraan nasional yang kuat.
“Jadi sebetulnya dari skala ekonomi harusnya bisa dan harus ada keberanian untuk bisa melakukan terobosan-terobosan teknologi dan terobosan industri supaya industri otomotif Indonesia betul-betul maju,” lanjutnya.
Maung Digunakan Selama Agenda KTT ASEAN
Sebelumnya, Presiden Prabowo tiba di Cebu, Filipina, untuk menghadiri KTT ASEAN ke-48. Selama menjalani agenda kenegaraan di Filipina, Presiden menggunakan kendaraan Maung Putih produksi Indonesia.
Kendaraan tersebut digunakan dalam berbagai agenda, termasuk menghadiri pertemuan BIMP-EAGA dan sejumlah sesi KTT ASEAN.
Qodari menyebut penggunaan Maung dalam kunjungan luar negeri lainnya tetap akan menyesuaikan kondisi dan regulasi negara tujuan.
“Tentu harus melihat situasi dan kondisi ya, misalnya jarak gitu ya, terus peraturan yang berada di negara masing-masing. Kebetulan kan Filipina relatif tidak terlalu jauh dari Indonesia, kebetulan juga negara ASEAN, dan ya setiap kesempatan yang bisa dipergunakan untuk membangkitkan semangat, menunjukkan kualitas bangsa Indonesia tentu akan kita optimalkan,” tandasnya.

