SulawesiPos.com – Desa Lattekko kian dikenal sebagai salah satu destinasi kuliner tradisional di Kabupaten Bone. Ciri khasnya terletak pada sajian gogos dan tuak manis yang mudah ditemui di sepanjang jalan poros Bone–Wajo.
Deretan warung milik warga tampak berjajar di sisi jalan, menawarkan gogos yang dibakar langsung di tempat.
Aroma khas daun pisang yang terbakar menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengendara yang melintas. Tak sedikit yang singgah sekadar menikmati kudapan tradisional tersebut.
Gogos, yang terbuat dari beras ketan dan santan, memiliki cita rasa gurih dan tekstur lembut. Makanan ini kerap menjadi teman minum kopi maupun sajian dalam berbagai acara masyarakat.
“Saya kalau pulang dari kota Bone memang sering singgah disini, beristirahat sejenak sembari menikmati kuliner gogos dan tuak manis,” kata salah seorang pengendara, Muslimin kepada wartawan SulawesiPos.com, di salah satu warung di kawasan itu, Rabu (29/4/2026).
Selain itu, tuak manis juga menjadi pelengkap yang tak terpisahkan. Minuman yang berasal dari nira pohon aren atau lontar ini dikenal segar dan manis alami karena belum melalui proses fermentasi lama.
Tuak manis banyak diminati sebagai pelepas dahaga, terutama di siang hari.
Salah satu pemilik warung Gogos, Rahma mengaku, keberadaan warung di sepanjang poros jalan tersebut menjadi sumber penghasilan utama bagi masyarakat setempat.
Ramainya pengendara yang melintas turut mendongkrak penjualan, terlebih pada akhir pekan dan musim liburan.
“Kami bersyukur karena banyak orang singgah. Gogos dan tuak manis ini memang sudah jadi ciri khas desa kami,” ujarnya.
Keberadaan kuliner tradisional ini tidak hanya memperkuat identitas Desa Lattekko, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga.
Pemerintah desa diharapkan dapat terus mendorong penataan dan promosi kawasan kuliner tersebut agar semakin dikenal luas sebagai salah satu destinasi singgah favorit di jalur Bone-Wajo. (kar)

