Jangan Langsung Dimakan, Begini Cara Masyarakat Pangkep Menikmati Cao

SulawesiPos.com – Jika mendengar nama Cao, sebagian orang mungkin masih merasa asing. Padahal, kuliner tradisional khas Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) ini telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat pesisir dan kepulauan.

Uniknya, Cao bukan makanan yang langsung disantap begitu saja. Ada cara khusus yang membuat cita rasanya semakin nikmat.

Berasal dari wilayah kepulauan, khususnya Pulau Salemo, Cao merupakan makanan hasil fermentasi yang dibuat dari udang atau ikan kecil yang dicampur dengan nasi tape dan sejumlah bahan tradisional lainnya.

Proses fermentasi selama beberapa hari menghasilkan warna merah muda khas serta aroma yang cukup kuat.

Di balik aromanya yang unik, Cao menyimpan cerita panjang tentang kehidupan masyarakat pulau.

Dahulu, warga membutuhkan cara untuk mengawetkan hasil tangkapan laut agar dapat bertahan lebih lama saat akses transportasi dan perdagangan ke daratan masih terbatas.

Dari kebutuhan itulah lahir Cao, makanan sederhana yang kini menjadi salah satu identitas kuliner Pangkep.

Bukan Dimakan Langsung

Bagi yang baru pertama kali melihatnya, Cao dalam botol mungkin terlihat seperti sambal atau bumbu masakan. Namun masyarakat Pangkep memiliki cara tersendiri untuk menikmatinya.

Biasanya Cao terlebih dahulu ditumis bersama bawang merah, bawang putih, dan kelapa parut hingga aromanya lebih harum. Setelah matang, Cao dijadikan lauk pendamping nasi atau cocolan berbagai makanan segar.

Yang menarik, masyarakat setempat sering menikmati Cao bersama beberapa pelengkap sederhana seperti:

  • Unti-unti (pisang muda rebus)
  • Timun segar
  • Mangga muda / matang

Perpaduan rasa gurih, asin, sedikit asam hasil fermentasi dengan segarnya buah dan sayuran menciptakan sensasi yang khas di lidah. Tak heran jika banyak perantau asal Pangkep mengaku rindu dengan cita rasa tradisional satu ini.

Kuliner Fermentasi Khas Sulawesi Selatan

Cao dibuat melalui proses yang cukup unik. Udang atau ikan kecil dibersihkan terlebih dahulu lalu diberi garam agar lebih awet.

Di sisi lain, nasi dicampur ragi hingga menjadi tape. Kedua bahan tersebut kemudian dicampur dan difermentasi kembali di dalam botol selama beberapa hari.

Hasil akhirnya adalah makanan berwarna merah muda yang memiliki aroma khas fermentasi. Meski bagi sebagian orang aromanya cukup tajam, para pencinta Cao justru menganggap itulah daya tarik utamanya.

Selain menggunakan udang, beberapa masyarakat juga memanfaatkan ikan teri atau ikan tembang sebagai bahan dasar.

Mulai Jarang Ditemukan

Seiring berkembangnya zaman, keberadaan Cao mulai jarang dijumpai. Generasi muda lebih akrab dengan makanan modern, sementara produsen Cao tradisional tidak sebanyak dulu.

Meski begitu, kuliner khas ini masih bisa ditemukan di beberapa wilayah Pangkep.

Salah satu yang masih aktif memproduksi dan menjual Cao adalah Cao Favya Pangkep yang berlokasi di Jalan Taladilau, Sapanang, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.

Dengan harga sekitar Rp12 ribu per botol, Cao kerap diburu sebagai oleh-oleh khas daerah yang sulit ditemukan di tempat lain.

Di tengah gempuran makanan kekinian dan kuliner viral, Cao tetap bertahan sebagai salah satu warisan rasa masyarakat kepulauan Pangkep.

Mungkin aromanya tidak langsung akrab bagi semua orang, namun sekali mengetahui cara menikmatinya, banyak yang akhirnya jatuh hati pada kuliner tradisional ini.

Jadi, jika suatu saat berkunjung ke Pangkep dan menemukan sebotol Cao berwarna merah muda, jangan buru-buru menilai dari aromanya.

Cobalah menikmatinya bersama timun segar atau mangga muda seperti yang dilakukan masyarakat setempat. Siapa tahu, Anda justru menemukan cita rasa khas yang tak terlupakan. (ainun khairunnisa)

SulawesiPos.com – Jika mendengar nama Cao, sebagian orang mungkin masih merasa asing. Padahal, kuliner tradisional khas Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) ini telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat pesisir dan kepulauan.

Uniknya, Cao bukan makanan yang langsung disantap begitu saja. Ada cara khusus yang membuat cita rasanya semakin nikmat.

Berasal dari wilayah kepulauan, khususnya Pulau Salemo, Cao merupakan makanan hasil fermentasi yang dibuat dari udang atau ikan kecil yang dicampur dengan nasi tape dan sejumlah bahan tradisional lainnya.

Proses fermentasi selama beberapa hari menghasilkan warna merah muda khas serta aroma yang cukup kuat.

Di balik aromanya yang unik, Cao menyimpan cerita panjang tentang kehidupan masyarakat pulau.

Dahulu, warga membutuhkan cara untuk mengawetkan hasil tangkapan laut agar dapat bertahan lebih lama saat akses transportasi dan perdagangan ke daratan masih terbatas.

Dari kebutuhan itulah lahir Cao, makanan sederhana yang kini menjadi salah satu identitas kuliner Pangkep.

Bukan Dimakan Langsung

Bagi yang baru pertama kali melihatnya, Cao dalam botol mungkin terlihat seperti sambal atau bumbu masakan. Namun masyarakat Pangkep memiliki cara tersendiri untuk menikmatinya.

Biasanya Cao terlebih dahulu ditumis bersama bawang merah, bawang putih, dan kelapa parut hingga aromanya lebih harum. Setelah matang, Cao dijadikan lauk pendamping nasi atau cocolan berbagai makanan segar.

Yang menarik, masyarakat setempat sering menikmati Cao bersama beberapa pelengkap sederhana seperti:

  • Unti-unti (pisang muda rebus)
  • Timun segar
  • Mangga muda / matang

Perpaduan rasa gurih, asin, sedikit asam hasil fermentasi dengan segarnya buah dan sayuran menciptakan sensasi yang khas di lidah. Tak heran jika banyak perantau asal Pangkep mengaku rindu dengan cita rasa tradisional satu ini.

Kuliner Fermentasi Khas Sulawesi Selatan

Cao dibuat melalui proses yang cukup unik. Udang atau ikan kecil dibersihkan terlebih dahulu lalu diberi garam agar lebih awet.

Di sisi lain, nasi dicampur ragi hingga menjadi tape. Kedua bahan tersebut kemudian dicampur dan difermentasi kembali di dalam botol selama beberapa hari.

Hasil akhirnya adalah makanan berwarna merah muda yang memiliki aroma khas fermentasi. Meski bagi sebagian orang aromanya cukup tajam, para pencinta Cao justru menganggap itulah daya tarik utamanya.

Selain menggunakan udang, beberapa masyarakat juga memanfaatkan ikan teri atau ikan tembang sebagai bahan dasar.

Mulai Jarang Ditemukan

Seiring berkembangnya zaman, keberadaan Cao mulai jarang dijumpai. Generasi muda lebih akrab dengan makanan modern, sementara produsen Cao tradisional tidak sebanyak dulu.

Meski begitu, kuliner khas ini masih bisa ditemukan di beberapa wilayah Pangkep.

Salah satu yang masih aktif memproduksi dan menjual Cao adalah Cao Favya Pangkep yang berlokasi di Jalan Taladilau, Sapanang, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.

Dengan harga sekitar Rp12 ribu per botol, Cao kerap diburu sebagai oleh-oleh khas daerah yang sulit ditemukan di tempat lain.

Di tengah gempuran makanan kekinian dan kuliner viral, Cao tetap bertahan sebagai salah satu warisan rasa masyarakat kepulauan Pangkep.

Mungkin aromanya tidak langsung akrab bagi semua orang, namun sekali mengetahui cara menikmatinya, banyak yang akhirnya jatuh hati pada kuliner tradisional ini.

Jadi, jika suatu saat berkunjung ke Pangkep dan menemukan sebotol Cao berwarna merah muda, jangan buru-buru menilai dari aromanya.

Cobalah menikmatinya bersama timun segar atau mangga muda seperti yang dilakukan masyarakat setempat. Siapa tahu, Anda justru menemukan cita rasa khas yang tak terlupakan. (ainun khairunnisa)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru