SulawesiPos.com – Ribuan mahasiswa dan pemuda menggelar aksi unjuk rasa besar di depan Gedung Parlemen India di New Delhi, Senin (20/7/2026), untuk memprotes dugaan kebocoran dan kecurangan berulang dalam ujian masuk perguruan tinggi, terutama National Eligibility cum Entrance Test (NEET), serta menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan yang dianggap bertanggung jawab atas krisis tersebut. Demonstrasi berlangsung bertepatan dengan pembukaan sidang musim panas parlemen dan berakhir dengan bentrokan ketika polisi membubarkan massa menggunakan gas air mata, pentungan, serta menahan sejumlah pengunjuk rasa. Berita ini dilaporkan Agence France-Presse (AFP) pada 20 Juli 2026.
Aksi tersebut diawali dengan long march menuju kompleks parlemen setelah selama beberapa pekan para mahasiswa rutin berkumpul di salah satu alun-alun ibu kota India atas seruan gerakan Cockroach People’s Party atau Partai Rakyat Kecoak, sebuah gerakan politik baru yang lahir melalui media sosial.
Polisi New Delhi sebelumnya menyatakan pawai itu tidak memperoleh izin sehingga mengerahkan ribuan personel keamanan untuk menjaga kawasan parlemen dan berbagai gedung pemerintahan.
Juru bicara demonstran, Sourav Das, mengingatkan seluruh peserta agar tetap berpegang pada prinsip perjuangan tanpa kekerasan yang diwariskan Mahatma Gandhi meskipun menghadapi tindakan aparat keamanan.
Krisis Integritas Ujian Memicu Kemarahan Nasional
Gelombang protes dipicu oleh dugaan kebocoran soal dan praktik kecurangan dalam penyelenggaraan ujian NEET yang menjadi pintu utama masuk fakultas kedokteran di perguruan tinggi negeri maupun swasta di India.
Kasus kebocoran soal yang terjadi pada awal 2026 memaksa pemerintah mengulang pelaksanaan ujian, sementara insiden serupa juga pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya sehingga memicu hilangnya kepercayaan publik terhadap sistem seleksi nasional.
Pada Mei 2026, pemerintah bahkan membatalkan hasil ujian yang diikuti lebih dari dua juta calon mahasiswa kedokteran setelah ditemukan indikasi kecurangan yang meluas.
Sejumlah media India melaporkan bahwa tekanan psikologis akibat pembatalan hasil ujian tersebut diduga ikut memicu beberapa kasus bunuh diri di kalangan peserta.
Gerakan Cockroach People’s Party sendiri didirikan pada Mei 2026 oleh seorang lulusan muda India yang baru kembali dari Amerika Serikat dengan tujuan menyatukan suara generasi muda yang kecewa terhadap berbagai skandal pendidikan tinggi.
Melalui akun resminya di platform X, gerakan itu menyerukan bahwa tidak ada yang dapat menghentikan aksi protes mereka pada hari demonstrasi berlangsung.
Pendidikan Berkualitas Menjadi Fondasi Masa Depan Bangsa
Menjelang akhir Juni 2026, sejumlah aktivis memulai aksi mogok makan sebagai bentuk solidaritas terhadap tuntutan mahasiswa, termasuk tokoh masyarakat sipil Sonam Wangchuk yang dikenal luas sebagai pegiat pendidikan dan inovasi di kawasan Ladakh.
Kondisi kesehatan Wangchuk memburuk setelah menjalani mogok makan sehingga polisi membawanya ke rumah sakit pada Sabtu, sementara istrinya, Geetanjali J. Angmo, mengecam tindakan tersebut sebagai penahanan yang tidak sah.
Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa integritas sistem pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan sumber daya manusia dan kepercayaan masyarakat terhadap negara.
Pakar pendidikan menilai transparansi, keamanan sistem ujian berbasis teknologi, pengawasan independen, serta perlindungan terhadap peserta didik harus menjadi prioritas agar kesempatan memperoleh pendidikan tinggi benar-benar ditentukan oleh kemampuan, bukan oleh praktik kecurangan.
Bagi negara dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa seperti India, kredibilitas seleksi pendidikan tinggi bukan sekadar persoalan akademik, melainkan juga penentu kualitas tenaga profesional, stabilitas sosial, dan daya saing bangsa pada masa depan. (Ali)


