Kue Dange Kini Hadir dengan Topping Keju dan Cokelat, Camilan Khas Pangkep yang Makin Variatif

SulawesiPos.com – Salah satu kue tradisional dari Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) yang masih mudah ditemukan hingga sekarang adalah kue dange.

Camilan ini sudah lama dikenal sebagai teman perjalanan, terutama bagi masyarakat yang melintas di jalur Pangkep.

Pembuatan dange masih mempertahankan cara tradisional. Campuran ketan, gula merah, dan kelapa parut dicetak menggunakan alat dari tanah liat, lalu dipanggang di atas bara api. Dalam sekitar 5 hingga 10 menit, aroma khas mulai tercium dan dange siap disajikan.

Hasilnya akhirnya berupa kue dengan tekstur padat dan rasa manis yang khas. Karena praktis dan mengenyangkan, dange sering dijadikan bekal saat perjalanan.

Namun kini, tampilannya tidak lagi hanya original.

Varian Baru yang Lebih Beragam

Seiring perkembangan, dange mulai hadir dengan tambahan topping yang membuat rasanya lebih bervariasi, yakni keju dan cokelat.

Varian ini memberi pilihan bagi yang ingin menikmati rasa berbeda tanpa menghilangkan ciri khas dange itu sendiri.

BACA JUGA: 
Putu Pesse’: Kue Ketan Tradisional yang Simple Dibuat Tanpa Proses Masak

Salah satu tempat yang menjual dange dengan varian tersebut adalah Dange 71.

Lokasinya berada di Manggalung, Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, yang dikenal sebagai salah satu jalur yang sering dilalui saat bepergian.

Dari Makassar, lokasi ini berjarak sekitar 77 km dengan waktu tempuh kurang lebih ±1 jam 57 menit perjalanan darat menggunakan mobil.

Harga Dange Khas Pangkep

Dange biasanya dijual dalam satu porsi dengan isi delapan. Harganya berbeda-beda sesuai dengfan topping yakni original, keju, atau coikelat.

Berikut daftar harga kue dange sesuai dengan topping-nya:

  • Dange original: Rp20.000
  • Dange keju: Rp25.000
  • Dange cokelat: Rp25.000

Dari kue tradisional sederhana, dange kini hadir dengan pilihan rasa yang lebih beragam. Meski tampil lebih modern, cara pembuatan dan ciri khasnya tetap dipertahankan, menjadikannya tetap dikenal sebagai camilan khas Pangkep.(ainun khairunnisa)

SulawesiPos.com – Salah satu kue tradisional dari Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) yang masih mudah ditemukan hingga sekarang adalah kue dange.

Camilan ini sudah lama dikenal sebagai teman perjalanan, terutama bagi masyarakat yang melintas di jalur Pangkep.

Pembuatan dange masih mempertahankan cara tradisional. Campuran ketan, gula merah, dan kelapa parut dicetak menggunakan alat dari tanah liat, lalu dipanggang di atas bara api. Dalam sekitar 5 hingga 10 menit, aroma khas mulai tercium dan dange siap disajikan.

Hasilnya akhirnya berupa kue dengan tekstur padat dan rasa manis yang khas. Karena praktis dan mengenyangkan, dange sering dijadikan bekal saat perjalanan.

Namun kini, tampilannya tidak lagi hanya original.

Varian Baru yang Lebih Beragam

Seiring perkembangan, dange mulai hadir dengan tambahan topping yang membuat rasanya lebih bervariasi, yakni keju dan cokelat.

Varian ini memberi pilihan bagi yang ingin menikmati rasa berbeda tanpa menghilangkan ciri khas dange itu sendiri.

BACA JUGA: 
Putu Pesse’: Kue Ketan Tradisional yang Simple Dibuat Tanpa Proses Masak

Salah satu tempat yang menjual dange dengan varian tersebut adalah Dange 71.

Lokasinya berada di Manggalung, Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, yang dikenal sebagai salah satu jalur yang sering dilalui saat bepergian.

Dari Makassar, lokasi ini berjarak sekitar 77 km dengan waktu tempuh kurang lebih ±1 jam 57 menit perjalanan darat menggunakan mobil.

Harga Dange Khas Pangkep

Dange biasanya dijual dalam satu porsi dengan isi delapan. Harganya berbeda-beda sesuai dengfan topping yakni original, keju, atau coikelat.

Berikut daftar harga kue dange sesuai dengan topping-nya:

  • Dange original: Rp20.000
  • Dange keju: Rp25.000
  • Dange cokelat: Rp25.000

Dari kue tradisional sederhana, dange kini hadir dengan pilihan rasa yang lebih beragam. Meski tampil lebih modern, cara pembuatan dan ciri khasnya tetap dipertahankan, menjadikannya tetap dikenal sebagai camilan khas Pangkep.(ainun khairunnisa)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru