Investasi Hilirisasi Tembus Rp300,1 Triliun, Bauksit Salip Nikel Jadi Primadona Baru

SulawesiPos.com – Ada perubahan besar dalam peta investasi hilirisasi Indonesia pada 2026. Setelah bertahun-tahun didominasi nikel, bauksit kini menjadi komoditas dengan investasi hilirisasi terbesar pada kuartal II 2026, menandai bergesernya fokus pengembangan industri pengolahan mineral nasional.

Perubahan tersebut terjadi di tengah pertumbuhan investasi hilirisasi yang terus meningkat.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun sepanjang semester I 2026, naik 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau berkontribusi hampir 30 persen terhadap total investasi nasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan dominasi bauksit terjadi karena banyak proyek smelter dan industri pengolahan baru yang mulai dibangun, baik oleh investor domestik maupun asing.

“Biasanya nikel selalu nomor satu. Sekarang terjadi shifting, bauksit menjadi nomor satu karena ada beberapa pembangunan bauksit baik yang dilakukan dalam negeri maupun luar negeri,” ujar Rosan.

Data BKPM menunjukkan, dari investasi hilirisasi mineral senilai Rp108,2 triliun pada kuartal II 2026, investasi bauksit mencapai Rp40,1 triliun, melampaui nikel yang selama ini menjadi motor utama hilirisasi.

BACA JUGA:  Ekspor CPO Menguat, Nilai Tembus US$4,69 Miliar di Awal Tahun 2026

Meski demikian, secara kumulatif selama Januari-Juni 2026, nikel masih menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai Rp71 triliun.

Posisi berikutnya ditempati bauksit Rp53,8 triliun, tembaga Rp37,4 triliun, besi dan baja Rp30,2 triliun, pasir silika Rp5,9 triliun, serta komoditas mineral lainnya Rp8,2 triliun.

Perubahan komposisi investasi ini menunjukkan kebijakan hilirisasi mulai menjangkau lebih banyak komoditas strategis.

Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah memang mendorong pembangunan fasilitas pemurnian dan industri turunan tidak hanya untuk nikel, tetapi juga bauksit, tembaga, timah hingga pasir silika guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Kontribusi sektor mineral sendiri masih mendominasi investasi hilirisasi dengan nilai Rp206,5 triliun, atau sekitar dua pertiga dari total investasi hilirisasi semester I 2026.

Di luar sektor mineral, investasi juga mengalir ke perkebunan dan kehutanan sebesar Rp54,4 triliun, terutama dari industri kelapa sawit, kayu, dan karet. Sementara sektor minyak dan gas bumi menyerap investasi Rp35,4 triliun, sedangkan perikanan dan kelautan mencapai Rp3,8 triliun.

BACA JUGA:  Indonesia dan Prancis Bentuk Dewan Bisnis, Targetkan Perdagangan Naik Tiga Kali Lipat pada 2035

Menurut Rosan, pemerintah akan terus memperluas hilirisasi ke berbagai sektor agar tidak bergantung pada mineral semata.

“Nanti kita juga akan mendorong di bidang perkebunan dan kehutanan dan juga hilirisasi dari minyak dan gas bumi termasuk perikanan dan kelautan,” katanya.

Menariknya, investasi hilirisasi masih didominasi wilayah luar Pulau Jawa dengan nilai Rp227,3 triliun atau 75,7 persen dari total investasi.

Sebagian besar investasi tersebut tersebar di daerah penghasil sumber daya alam seperti Sulawesi, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Barat, yang kini menjadi pusat pengembangan industri pengolahan berbasis komoditas.

SulawesiPos.com – Ada perubahan besar dalam peta investasi hilirisasi Indonesia pada 2026. Setelah bertahun-tahun didominasi nikel, bauksit kini menjadi komoditas dengan investasi hilirisasi terbesar pada kuartal II 2026, menandai bergesernya fokus pengembangan industri pengolahan mineral nasional.

Perubahan tersebut terjadi di tengah pertumbuhan investasi hilirisasi yang terus meningkat.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun sepanjang semester I 2026, naik 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau berkontribusi hampir 30 persen terhadap total investasi nasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan dominasi bauksit terjadi karena banyak proyek smelter dan industri pengolahan baru yang mulai dibangun, baik oleh investor domestik maupun asing.

“Biasanya nikel selalu nomor satu. Sekarang terjadi shifting, bauksit menjadi nomor satu karena ada beberapa pembangunan bauksit baik yang dilakukan dalam negeri maupun luar negeri,” ujar Rosan.

Data BKPM menunjukkan, dari investasi hilirisasi mineral senilai Rp108,2 triliun pada kuartal II 2026, investasi bauksit mencapai Rp40,1 triliun, melampaui nikel yang selama ini menjadi motor utama hilirisasi.

BACA JUGA:  Danantara Yakin IHSG Rebound Usai Pasar Pahami Skema BUMN Ekspor

Meski demikian, secara kumulatif selama Januari-Juni 2026, nikel masih menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai Rp71 triliun.

Posisi berikutnya ditempati bauksit Rp53,8 triliun, tembaga Rp37,4 triliun, besi dan baja Rp30,2 triliun, pasir silika Rp5,9 triliun, serta komoditas mineral lainnya Rp8,2 triliun.

Perubahan komposisi investasi ini menunjukkan kebijakan hilirisasi mulai menjangkau lebih banyak komoditas strategis.

Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah memang mendorong pembangunan fasilitas pemurnian dan industri turunan tidak hanya untuk nikel, tetapi juga bauksit, tembaga, timah hingga pasir silika guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Kontribusi sektor mineral sendiri masih mendominasi investasi hilirisasi dengan nilai Rp206,5 triliun, atau sekitar dua pertiga dari total investasi hilirisasi semester I 2026.

Di luar sektor mineral, investasi juga mengalir ke perkebunan dan kehutanan sebesar Rp54,4 triliun, terutama dari industri kelapa sawit, kayu, dan karet. Sementara sektor minyak dan gas bumi menyerap investasi Rp35,4 triliun, sedangkan perikanan dan kelautan mencapai Rp3,8 triliun.

BACA JUGA:  Istana Buka Suara soal Rupiah Melemah, Pemerintah Pastikan Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

Menurut Rosan, pemerintah akan terus memperluas hilirisasi ke berbagai sektor agar tidak bergantung pada mineral semata.

“Nanti kita juga akan mendorong di bidang perkebunan dan kehutanan dan juga hilirisasi dari minyak dan gas bumi termasuk perikanan dan kelautan,” katanya.

Menariknya, investasi hilirisasi masih didominasi wilayah luar Pulau Jawa dengan nilai Rp227,3 triliun atau 75,7 persen dari total investasi.

Sebagian besar investasi tersebut tersebar di daerah penghasil sumber daya alam seperti Sulawesi, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Barat, yang kini menjadi pusat pengembangan industri pengolahan berbasis komoditas.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru