Overview
SulawesiPos.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons pelemahan nilai tukar rupiah yang nyaris menyentuh level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat.
Ia menilai pergerakan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor fundamental ekonomi dan sentimen pasar yang bersifat sementara.
Menurut Purbaya, nilai tukar rupiah pada dasarnya akan mengikuti kondisi fundamental perekonomian nasional.
Ia menegaskan indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kinerja positif, salah satunya tercermin dari penguatan pasar saham.
“Ya, rupiah kan akan tergantung pada fundamental ekonominya. Anda lihat IHSG kan, berapa sekarang? 9.133, all time high,” kata Purbaya usai rapat tertutup bersama Komisi XI DPR RI, Senin (19/1).
Purbaya menjelaskan, penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa menjadi sinyal masuknya arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia.
Aliran dana tersebut diyakini akan memperkuat pasokan valuta asing dan menopang nilai tukar rupiah dalam waktu ke depan.
“Begini kalau indeks naik itu, pasti ada flow asing masuk ke situ juga, kan? Nggak mungkin domestik sendiri yang bisa mendorong itu ke level yang seperti itu, jadi tinggal tunggu waktu aja rupiahnya menguat juga karena suplai dolar akan bertambah,” ujarnya.
Selain faktor pasar, Purbaya juga menyinggung munculnya spekulasi yang mengaitkan pelemahan rupiah dengan isu independensi Bank Indonesia.
Spekulasi tersebut mencuat seiring pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI, yang diketahui merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto.
“Jadi ini mungkin sebagian spekulasi ketika Thomas akan ke sana (BI). Wow, orang spekulasi dia (BI) independensinya akan hilang, saya pikir nggak akan begitu,” jelasnya.
Purbaya optimistis sentimen negatif tersebut bersifat sementara dan akan mereda seiring terjaganya kredibilitas kebijakan moneter dan fiskal.
Pemerintah, kata dia, saat ini memprioritaskan upaya menjaga stabilitas serta likuiditas sistem keuangan nasional.
Ia mengungkapkan terdapat tiga langkah utama yang disiapkan pemerintah untuk memperkuat fondasi ekonomi dalam negeri.
Langkah pertama adalah memastikan likuiditas sistem keuangan tetap terjaga melalui koordinasi lintas lembaga.
Kedua, pemerintah akan mempercepat realisasi belanja negara di awal tahun guna mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Pertama kita pastikan likuiditas sistem finansial cukup baik dan keuangan sudah setuju untuk menjaga itu bersama. Kedua, saya pastikan program-program belanja pemerintah dibelanjain cepat di awal tahun ini,” ucap Purbaya.
Selain itu, pemerintah juga berupaya meningkatkan iklim investasi dengan menyelesaikan berbagai hambatan regulasi.
Dengan strategi tersebut, Purbaya menilai target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada tahun ini masih realistis untuk dicapai, meskipun dampak stimulus ekonomi tidak dapat dirasakan secara instan.
“Semuanya kita jalankan, 6 persen nggak terlalu sulit. Tahun ini 6 persen bisa karena ekonomi itu responnya cenderung agak lambat terhadap stimulus, pulih berapa bulan. Kalau saya inject sekarang, ke sistem mungkin 4 bulan baru kelihatan,” pungkasnya.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah ditutup melemah di level Rp16.955 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (19/1) sore.
Mata uang Garuda tercatat turun 68 poin atau sekitar 0,40 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.