Jalan Ramang, Legenda Pesepak Bola Makassar yang Pernah Merepotkan Kiper Terbaik Dunia

SulawesiPos.com – Di kawasan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, terdapat Jalan Dg. Ramang yang membentang sekitar 2 kilometer.

Ruas ini menjadi salah satu jalur yang menghubungkan kawasan sekitar Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dengan Jalan Poros Makassar-Maros.

Nama tersebut mengabadikan sosok Ramang, legenda PSM Makassar yang pernah membawa nama Indonesia ke panggung internasional dan menjadi salah satu penyerang paling disegani pada era 1950-an.

Secara administratif, Pemerintah Kota Makassar mencatat ruas tersebut sebagai Jalan Dg. Ramang di Kecamatan Biringkanaya.

Jalan Dg Ramang

Kawasan jalan ini kini berkembang sebagai lingkungan permukiman dan berada tidak jauh dari kawasan olahraga GOR Sudiang.

Di balik nama yang setiap hari dilalui warga tersebut, tersimpan perjalanan seorang pemain yang menjadikan sepak bola sebagai jalan hidupnya, meski harus melewati masa-masa sulit sebelum mencapai puncak ketenaran.

Dari Barru, Bakat Sepak Takraw Membawa Ramang ke Sepak Bola

Ramang lahir di Barru, Sulawesi Selatan, pada 24 April 1924. Ayahnya, Djonjo Daeng Nyo’lo, dikenal sebagai ajudan Raja Gowa dan memiliki kemampuan dalam permainan sepak takraw.

BACA JUGA:  Jalan La Maddukelleng: Mengenang Kisah Raja Wajo yang Gigih Lawan Belanda
Ramang, saat laga kualifikasi Piala Dunia 1958

Bakat tersebut kemudian mengalir kepada Ramang. Sejak kecil, ia terbiasa memainkan sepak takraw dengan peralatan sederhana, mulai dari bola rotan, gulungan kain, hingga buah jeruk.

Kebiasaan itu kelak menjadi salah satu penjelasan mengapa Ramang memiliki kemampuan akrobatik yang tidak biasa di lapangan sepak bola. Tendangan salto menjadi salah satu ciri khas permainannya.

Ia mulai bermain sepak bola secara lebih serius pada 1939 bersama klub di Barru. Perjalanan itu sempat terhenti ketika ia menikah dan bersama istrinya membuka kedai kopi kecil.

Setelah mengalami kehilangan anak yang baru lahir, Ramang dan keluarganya kemudian pindah ke Ujungpandang, nama Makassar pada masa itu.

Kehidupan di kota tidak langsung membawanya menjadi pesepak bola terkenal. Ia sempat bekerja sebagai penarik becak dan kenek truk sambil tinggal menumpang di rumah seorang teman.

Kondisi ekonomi keluarganya cukup berat. Namun, sepak bola tetap menjadi bagian yang tidak bisa ia tinggalkan.

BACA JUGA:  Jalan Karunrung Makassar: Jejak Tokoh Gowa-Tallo yang Dikagumi Syekh Yusuf

Satu Pertandingan 9-0 Mengubah Jalan Kariernya

SulawesiPos.com – Di kawasan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, terdapat Jalan Dg. Ramang yang membentang sekitar 2 kilometer.

Ruas ini menjadi salah satu jalur yang menghubungkan kawasan sekitar Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dengan Jalan Poros Makassar-Maros.

Nama tersebut mengabadikan sosok Ramang, legenda PSM Makassar yang pernah membawa nama Indonesia ke panggung internasional dan menjadi salah satu penyerang paling disegani pada era 1950-an.

Secara administratif, Pemerintah Kota Makassar mencatat ruas tersebut sebagai Jalan Dg. Ramang di Kecamatan Biringkanaya.

Jalan Dg Ramang

Kawasan jalan ini kini berkembang sebagai lingkungan permukiman dan berada tidak jauh dari kawasan olahraga GOR Sudiang.

Di balik nama yang setiap hari dilalui warga tersebut, tersimpan perjalanan seorang pemain yang menjadikan sepak bola sebagai jalan hidupnya, meski harus melewati masa-masa sulit sebelum mencapai puncak ketenaran.

Dari Barru, Bakat Sepak Takraw Membawa Ramang ke Sepak Bola

Ramang lahir di Barru, Sulawesi Selatan, pada 24 April 1924. Ayahnya, Djonjo Daeng Nyo’lo, dikenal sebagai ajudan Raja Gowa dan memiliki kemampuan dalam permainan sepak takraw.

BACA JUGA:  Jalan Kajao Laliddong, Jejak Sang Cendekiawan di Balik Kebesaran Bone
Ramang, saat laga kualifikasi Piala Dunia 1958

Bakat tersebut kemudian mengalir kepada Ramang. Sejak kecil, ia terbiasa memainkan sepak takraw dengan peralatan sederhana, mulai dari bola rotan, gulungan kain, hingga buah jeruk.

Kebiasaan itu kelak menjadi salah satu penjelasan mengapa Ramang memiliki kemampuan akrobatik yang tidak biasa di lapangan sepak bola. Tendangan salto menjadi salah satu ciri khas permainannya.

Ia mulai bermain sepak bola secara lebih serius pada 1939 bersama klub di Barru. Perjalanan itu sempat terhenti ketika ia menikah dan bersama istrinya membuka kedai kopi kecil.

Setelah mengalami kehilangan anak yang baru lahir, Ramang dan keluarganya kemudian pindah ke Ujungpandang, nama Makassar pada masa itu.

Kehidupan di kota tidak langsung membawanya menjadi pesepak bola terkenal. Ia sempat bekerja sebagai penarik becak dan kenek truk sambil tinggal menumpang di rumah seorang teman.

Kondisi ekonomi keluarganya cukup berat. Namun, sepak bola tetap menjadi bagian yang tidak bisa ia tinggalkan.

BACA JUGA:  Jalan Andi Pangerang Pettarani, Mengenang 51 Tahun Wafatnya Gubernur Sulawesi Terakhir

Satu Pertandingan 9-0 Mengubah Jalan Kariernya

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru