Masa kejayaan Ramang tidak berlangsung selamanya. Pada 1960, ia terkena skorsing setelah dituduh terlibat kasus suap. Dua tahun kemudian ia kembali dipanggil, tetapi masa keemasannya sudah berlalu.
Ia masih memperkuat PSM hingga 1968, ketika berusia sekitar 44 tahun, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan sebagai pelatih.
Ramang pernah menangani sejumlah tim, termasuk PSM Makassar dan Persipal Palu. Ia juga sempat melatih di Blitar. Pengalamannya sebagai pemain menjadi modal utama ketika membina generasi berikutnya.
Namun, perjalanan setelah menjadi pemain tidak sepenuhnya mudah. Ia menghadapi persoalan keterbatasan pendidikan formal dan sertifikat kepelatihan, meski pengalaman panjangnya di lapangan membuatnya memiliki pengetahuan sepak bola yang sangat kaya.
Ramang meninggal dunia pada 26 September 1987 dalam usia 63 tahun. Ia dimakamkan di TPU Panaikang, Makassar.

Untuk mengenang jasanya, namanya tidak hanya melekat pada PSM melalui julukan Pasukan Ramang.
Sebuah patung dirinya juga pernah ditempatkan di Lapangan Karebosi sebelum kemudian digantikan dengan patung baru di kawasan Pantai Losari.

Jejak namanya juga hadir dalam ruang kota melalui Jalan Dg. Ramang di Biringkanaya.
Ruas sekitar 2 kilometer tersebut berbatasan dengan kawasan Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan Pajjaiang di Sudiang, serta menjadi jalur alternatif menuju kawasan sekitar Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dan Jalan Poros Makassar-Maros.
Di sepanjang jalan terdapat permukiman warga dan akses menuju kawasan olahraga GOR Sudiang.
Pemerintah Kota Makassar sendiri mencantumkan Jalan Dg. Ramang sebagai salah satu ruas resmi di Kecamatan Biringkanaya.

