SulawesiPos.com – Gunung Nona di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, kembali menjadi sorotan setelah kebakaran melanda kawasan hutan di sekitarnya sejak Sabtu (15/8/2026).
Peristiwa tersebut berdampak pada sekitar 10 hektare kawasan hutan lindung dan membuat aktivitas masyarakat di sekitar kaki gunung diperketat.
Di balik kabar kebakaran tersebut, Gunung Nona merupakan salah satu bentang alam yang paling mudah dikenali di Enrekang.
Keunikannya terletak pada panorama pegunungan dan bentuk perbukitan yang membuatnya memiliki nama populer Gunung Nona.
Nama asli gunung ini adalah Buttu Kabobong, atau bahasa lokal suku di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (bahasa Massenrempulu), yang memiliki arti “gunung perempuan” atau sering disebut sebagai “gunung erotis” karena bentuknya yang unik
Lokasinya berada di jalur utama yang menghubungkan Enrekang dengan Tana Toraja, sehingga wisatawan yang melakukan perjalanan dari Makassar menuju Tana Toraja kerap menjadikan kawasan ini sebagai tempat singgah.
Gunung Nona di Jalur Enrekang-Tana Toraja
Gunung Nona berada sekitar 18 kilometer dari pusat Kabupaten Enrekang ke arah utara. Sejumlah sumber mengenai kawasan ini menyebut ketinggiannya berada di kisaran 1.580 mpdl di atas permukaan laut.
Dari sisi akses, daya tarik Gunung Nona justru terletak pada lokasinya yang berada tidak jauh dari jalan poros Enrekang-Makale. Wisatawan tidak harus melakukan pendakian panjang untuk menikmati lanskapnya.
Dari sejumlah titik di sekitar Bambapuang, gugusan perbukitan yang mengelilingi Buttu Kabobong dapat terlihat jelas.
Pemandangan tersebut menjadi salah satu alasan pengendara maupun pelancong memilih berhenti sejenak untuk berfoto atau menikmati suasana pegunungan.
Kawasan di sekitarnya juga dikenal dengan udara yang sejuk, pepohonan, serta warung-warung yang menjadi tempat beristirahat bagi wisatawan.
Panorama Gunung Nona bahkan menjadi salah satu pemandangan yang kerap dinikmati sambil menyeruput kopi khas Enrekang.
Mengapa Disebut Gunung Nona?
Keunikan paling mencolok dari Gunung Nona atau Buttu Kabobong adalah bentuk permukaannya.

