Gunung Nona Enrekang, Ikon Alam Unik yang Kembali Disorot Usai Kebakaran

Dari sudut pandang tertentu, lekukan bukit tersebut terlihat menyerupai organ reproduksi perempuan. Bentuk inilah yang kemudian membuat masyarakat lebih familiar menyebutnya sebagai Gunung Nona.

Dalam berbagai catatan mengenai kawasan tersebut, Buttu Kabobong disebut sebagai nama lokal yang telah digunakan masyarakat Enrekang.

Keunikan itu tidak berhenti pada satu bentang alam. Di seberang Buttu Kabobong terdapat bukit memanjang yang oleh masyarakat juga diasosiasikan dengan bentuk alat kelamin laki-laki.

Kedua bentang alam tersebut dipisahkan oleh aliran Sungai Mata Allo dan menjadi bagian dari cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Enrekang.

Karena bentuknya yang tidak biasa, Gunung Nona menjadi salah satu titik yang menarik perhatian wisatawan.

Foto dengan latar Buttu Kabobong menjadi pemandangan yang lazim ditemui dari kawasan Bambapuang.

Legenda Kerajaan Tindalun

Di balik bentuk uniknya, Gunung Nona juga menyimpan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu versi yang cukup dikenal berkaitan dengan Kerajaan Tindalun yang dipercaya pernah berdiri di sekitar kaki gunung.

BACA JUGA:  Air Terjun Kali Jodoh: Wisata Alam Pinrang yang Dipercaya Bisa Mendatangkan Jodoh

Dalam cerita tersebut, muncul seorang anak berparas tampan yang diyakini berasal dari langit.

Masyarakat menyebut sosok itu To Mellao Ri Langi. Ia kemudian ditemukan oleh seorang perempuan bernama Masaang dari Kampung Tindalun.

Seiring berjalannya waktu, To Mellao Ri Langi tumbuh dewasa dan menikah dengan seorang putri dari Kerajaan Tindalun.

Dari pernikahan itu lahirlah Kalando Palapana yang kelak dipercaya menjadi pemimpin kerajaan.

Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Tindalun diceritakan mengalami kemakmuran. Namun, kesejahteraan tersebut kemudian membuat masyarakat terlena.

Kehidupan yang awalnya makmur berubah menjadi pesta dan perilaku yang dianggap melanggar norma adat serta ajaran agama.

Dari sudut pandang tertentu, lekukan bukit tersebut terlihat menyerupai organ reproduksi perempuan. Bentuk inilah yang kemudian membuat masyarakat lebih familiar menyebutnya sebagai Gunung Nona.

Dalam berbagai catatan mengenai kawasan tersebut, Buttu Kabobong disebut sebagai nama lokal yang telah digunakan masyarakat Enrekang.

Keunikan itu tidak berhenti pada satu bentang alam. Di seberang Buttu Kabobong terdapat bukit memanjang yang oleh masyarakat juga diasosiasikan dengan bentuk alat kelamin laki-laki.

Kedua bentang alam tersebut dipisahkan oleh aliran Sungai Mata Allo dan menjadi bagian dari cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Enrekang.

Karena bentuknya yang tidak biasa, Gunung Nona menjadi salah satu titik yang menarik perhatian wisatawan.

Foto dengan latar Buttu Kabobong menjadi pemandangan yang lazim ditemui dari kawasan Bambapuang.

Legenda Kerajaan Tindalun

Di balik bentuk uniknya, Gunung Nona juga menyimpan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu versi yang cukup dikenal berkaitan dengan Kerajaan Tindalun yang dipercaya pernah berdiri di sekitar kaki gunung.

BACA JUGA:  Air Terjun Kali Jodoh: Wisata Alam Pinrang yang Dipercaya Bisa Mendatangkan Jodoh

Dalam cerita tersebut, muncul seorang anak berparas tampan yang diyakini berasal dari langit.

Masyarakat menyebut sosok itu To Mellao Ri Langi. Ia kemudian ditemukan oleh seorang perempuan bernama Masaang dari Kampung Tindalun.

Seiring berjalannya waktu, To Mellao Ri Langi tumbuh dewasa dan menikah dengan seorang putri dari Kerajaan Tindalun.

Dari pernikahan itu lahirlah Kalando Palapana yang kelak dipercaya menjadi pemimpin kerajaan.

Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Tindalun diceritakan mengalami kemakmuran. Namun, kesejahteraan tersebut kemudian membuat masyarakat terlena.

Kehidupan yang awalnya makmur berubah menjadi pesta dan perilaku yang dianggap melanggar norma adat serta ajaran agama.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru