SulawesiPos.com – Waktu boleh membawa dua sahabat menempuh jalan kehidupan yang berbeda, tetapi secangkir kopi di Kedai Ayah UQ, kawasan Boulevard, Makassar, Jumat (7/8/2026), membuktikan bahwa persahabatan sejati selalu mengetahui jalan untuk pulang.
Di salah satu sudut kedai yang hangat itu, Dr. Sukriansyah S. Latief SH MH—akrab disapa Uki—menyambut kedatangan sahabat lamanya, Dr. Aqua Dwipayana, dengan senyum lebar, pelukan erat, dan tatapan yang seolah sedang membuka kembali lembaran kehidupan puluhan tahun silam.
Tidak ada panggung megah, karpet merah, ataupun protokoler resmi dalam pertemuan tersebut, sebab hanya ada dua mantan wartawan yang duduk berhadapan sambil mengenang masa ketika berita harus dikejar dengan kaki, diketik di tengah tekanan tenggat, dan dipertanggungjawabkan kepada pembaca.
“Ini pertama kalinya saya datang ke Kedai Ayah UQ, dan ternyata tempatnya sangat nyaman serta terasa seperti rumah sendiri,” ujar Aqua Dwipayana sambil mengedarkan pandangan ke berbagai sudut kedai.
Uki tersenyum mendengar pengakuan itu, lalu menjelaskan bahwa kedai tersebut tidak semata-mata dibangun sebagai tempat menikmati makanan dan minuman, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi bagi sahabat, wartawan, akademisi, pejabat, pengusaha, aktivis, dan siapa pun yang ingin bertukar gagasan secara terbuka.
“Kalau begitu, saya terlambat datang ke sini, tetapi saya yakin silaturahmi yang baik tidak pernah mengenal kata terlambat,” jawab Aqua Dwipayana dengan nada bersahabat.
Kalimat sederhana itu membuat percakapan mereka mengalir semakin jauh, melampaui hiruk-pikuk pengunjung dan membawa keduanya kembali ke masa ketika mereka masih menjadi jurnalis muda di bawah payung besar manajemen Jawa Pos Group.
Dipertemukan oleh Dunia Jurnalistik
Pada masa itu, Uki meniti karier jurnalistik di Harian Fajar, Makassar, sedangkan Aqua Dwipayana bekerja di lingkungan Jawa Pos, Surabaya, sehingga mereka berada dalam satu keluarga besar media meskipun menjalankan tugas pada perusahaan dan kota yang berbeda.
Jarak Makassar dan Surabaya tidak menghalangi persahabatan mereka karena dunia jurnalistik mempunyai cara khas dalam mempertemukan orang-orang yang sama-sama mencintai informasi, keberanian, ketepatan, dan pelayanan kepada masyarakat.
Mereka pernah berada dalam zaman ketika telepon genggam belum menjadi ruang redaksi berjalan, internet belum mengirimkan berita dalam hitungan detik, dan seorang wartawan harus mengandalkan ketekunan untuk menemui sumber, mencatat fakta, memeriksa informasi, kemudian menyusun berita sebelum mesin cetak berputar.
Dari ruang redaksi itulah keduanya belajar bahwa pekerjaan wartawan bukan hanya menyampaikan peristiwa, tetapi juga membangun kepercayaan, merawat jejaring, memahami manusia, dan menjaga hubungan baik tanpa mengorbankan independensi.

