Puluhan Tahun Terpisah, Secangkir Kopi Mempertemukan Kembali Dua Sahabat Pena

Ia kemudian bekerja di sejumlah media, antara lain Harian Suara Indonesia, Jawa Pos, Surabaya Minggu, dan Bisnis Indonesia, sebelum beralih ke bidang hubungan masyarakat korporasi dan akhirnya memilih hidup mandiri sejak Oktober 2005.

Bekal pengalaman jurnalistik, pendidikan komunikasi hingga jenjang doktoral, dan kegemarannya membangun jejaring kemudian mengantarkan Aqua Dwipayana dikenal sebagai pakar komunikasi, motivator nasional, konsultan, dosen, serta penulis buku _The Power of Silaturahim._

Melalui ribuan sesi berbagi komunikasi dan motivasi, Aqua Dwipayana telah menjangkau berbagai kelompok masyarakat di seluruh provinsi Indonesia dan sejumlah negara, mulai dari pelajar, pegawai, kalangan profesional, aparat TNI-Polri, hingga masyarakat yang membutuhkan penguatan semangat hidup.

Semakin jauh percakapan itu berlangsung, semakin terasa bahwa meskipun keduanya memilih jalan pengabdian berbeda, dunia jurnalistik tetap menjadi simpul yang mengikat perjalanan mereka.

Persahabatan yang Tidak Pernah Kadaluarsa

Di meja sederhana Kedai Ayah UQ itu, mereka berbicara tentang perubahan media, tantangan jurnalisme digital, pentingnya integritas, dan nasib generasi muda yang kini bekerja di tengah arus informasi yang bergerak jauh lebih cepat dibandingkan masa mereka dahulu.

BACA JUGA:  SulawesiPos Diskusi Publik Pemekaran Luwu Raya Digelar Besok, Hadirkan Akademisi hingga Pemerintah

Mereka sepakat bahwa teknologi dapat mengubah alat produksi dan pola penyebaran berita, tetapi tidak pernah dapat menggantikan kejujuran, empati, keberanian, dan tanggung jawab sebagai jiwa utama jurnalistik.

Sesekali percakapan mereka pecah menjadi tawa ketika salah seorang mengingat cerita lama yang hampir tenggelam oleh kesibukan, sementara pada kesempatan lain keduanya terdiam sejenak ketika menyadari betapa panjang waktu telah berlalu sejak pertemuan terakhir.

Tidak semua kenangan perlu diceritakan dengan lengkap karena beberapa di antaranya cukup dibaca melalui mata yang berkaca-kaca, genggaman tangan, dan senyum yang menyimpan rasa syukur.

“Puluhan tahun tidak bertemu, ternyata ketika berjumpa kembali rasanya seperti baru berpisah kemarin,” ucap Aqua Dwipayana.

Uki mengangguk perlahan sebelum menjawab bahwa pertemanan yang dibangun dengan ketulusan tidak akan lapuk oleh jarak, jabatan, maupun perjalanan waktu.

“Kita mungkin jarang bertemu, tetapi doa dan ingatan baik selalu membuat seorang sahabat tetap dekat,” kata Uki.

Ia kemudian bekerja di sejumlah media, antara lain Harian Suara Indonesia, Jawa Pos, Surabaya Minggu, dan Bisnis Indonesia, sebelum beralih ke bidang hubungan masyarakat korporasi dan akhirnya memilih hidup mandiri sejak Oktober 2005.

Bekal pengalaman jurnalistik, pendidikan komunikasi hingga jenjang doktoral, dan kegemarannya membangun jejaring kemudian mengantarkan Aqua Dwipayana dikenal sebagai pakar komunikasi, motivator nasional, konsultan, dosen, serta penulis buku _The Power of Silaturahim._

Melalui ribuan sesi berbagi komunikasi dan motivasi, Aqua Dwipayana telah menjangkau berbagai kelompok masyarakat di seluruh provinsi Indonesia dan sejumlah negara, mulai dari pelajar, pegawai, kalangan profesional, aparat TNI-Polri, hingga masyarakat yang membutuhkan penguatan semangat hidup.

Semakin jauh percakapan itu berlangsung, semakin terasa bahwa meskipun keduanya memilih jalan pengabdian berbeda, dunia jurnalistik tetap menjadi simpul yang mengikat perjalanan mereka.

Persahabatan yang Tidak Pernah Kadaluarsa

Di meja sederhana Kedai Ayah UQ itu, mereka berbicara tentang perubahan media, tantangan jurnalisme digital, pentingnya integritas, dan nasib generasi muda yang kini bekerja di tengah arus informasi yang bergerak jauh lebih cepat dibandingkan masa mereka dahulu.

BACA JUGA:  Pria Mengamuk di Halaman Polsek Wajo Makassar, Ternyata Sempat Terlibat Kecelakaan Lalu Lintas

Mereka sepakat bahwa teknologi dapat mengubah alat produksi dan pola penyebaran berita, tetapi tidak pernah dapat menggantikan kejujuran, empati, keberanian, dan tanggung jawab sebagai jiwa utama jurnalistik.

Sesekali percakapan mereka pecah menjadi tawa ketika salah seorang mengingat cerita lama yang hampir tenggelam oleh kesibukan, sementara pada kesempatan lain keduanya terdiam sejenak ketika menyadari betapa panjang waktu telah berlalu sejak pertemuan terakhir.

Tidak semua kenangan perlu diceritakan dengan lengkap karena beberapa di antaranya cukup dibaca melalui mata yang berkaca-kaca, genggaman tangan, dan senyum yang menyimpan rasa syukur.

“Puluhan tahun tidak bertemu, ternyata ketika berjumpa kembali rasanya seperti baru berpisah kemarin,” ucap Aqua Dwipayana.

Uki mengangguk perlahan sebelum menjawab bahwa pertemanan yang dibangun dengan ketulusan tidak akan lapuk oleh jarak, jabatan, maupun perjalanan waktu.

“Kita mungkin jarang bertemu, tetapi doa dan ingatan baik selalu membuat seorang sahabat tetap dekat,” kata Uki.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru