Bank Dunia Siapkan Stop Pinjaman ke China pada 2031, Status Ekonomi Beijing Jadi Alasan Utama

SulawesiPos.com – Bank Dunia berencana menghentikan seluruh pinjaman kepada China pada 2031 setelah menilai ekonomi negara itu telah berubah jauh dari kondisi awal saat mulai menerima pembiayaan pembangunan pada awal 1980-an, ketika Beijing masih tergolong negara berkembang dengan tingkat pendapatan yang relatif rendah.

Rencana itu menjadi penanda perubahan besar dalam hubungan Bank Dunia dengan China, yang kini telah tumbuh menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia.

Dalam kerangka kemitraan lima tahunan atau Country Partnership Framework yang baru, Bank Dunia disebut akan membatasi total pinjaman kepada China hingga US$2 miliar selama masa transisi sebelum penghentian penuh pada 2031.

Kebijakan ini sekaligus mempertegas bahwa China tidak lagi ditempatkan sebagai negara yang sangat membutuhkan dukungan pembiayaan pembangunan dari lembaga keuangan multilateral tersebut.

Nilai Pinjaman Sudah Turun dalam Beberapa Tahun Terakhir

Rencana penghentian pinjaman ini tidak muncul secara tiba-tiba karena nilai pembiayaan Bank Dunia ke China sudah terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA:  Sikap AS Dinilai Inkonsisten, Kemarin Ingin Damai Sekarang Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Energi Iran

Pada 2017, nilai pinjaman ke China masih berada di kisaran US$2,4 miliar per tahun.

Namun, pada 2025 jumlah itu turun menjadi sekitar US$750 juta per tahun.

Penurunan tersebut mencerminkan perubahan kebutuhan pembiayaan China sekaligus arah baru strategi Bank Dunia dalam menyalurkan dana pembangunan.

Tekanan Amerika Serikat Ikut Mempengaruhi

Selain faktor perubahan status ekonomi China, kebijakan itu juga tidak lepas dari tekanan sejumlah negara anggota, terutama Amerika Serikat.

Selama bertahun-tahun, pejabat AS berpendapat China tidak lagi layak menerima pinjaman pembangunan dari Bank Dunia karena telah menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia sekaligus salah satu kreditur terbesar secara global.

Desakan tersebut bahkan meluas ke lembaga keuangan multilateral lain agar mengambil langkah serupa terhadap China.

Di sisi lain, pemerintah China menilai pengurangan pinjaman itu sebagai perubahan yang wajar seiring perkembangan ekonomi nasional.

SulawesiPos.com – Bank Dunia berencana menghentikan seluruh pinjaman kepada China pada 2031 setelah menilai ekonomi negara itu telah berubah jauh dari kondisi awal saat mulai menerima pembiayaan pembangunan pada awal 1980-an, ketika Beijing masih tergolong negara berkembang dengan tingkat pendapatan yang relatif rendah.

Rencana itu menjadi penanda perubahan besar dalam hubungan Bank Dunia dengan China, yang kini telah tumbuh menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia.

Dalam kerangka kemitraan lima tahunan atau Country Partnership Framework yang baru, Bank Dunia disebut akan membatasi total pinjaman kepada China hingga US$2 miliar selama masa transisi sebelum penghentian penuh pada 2031.

Kebijakan ini sekaligus mempertegas bahwa China tidak lagi ditempatkan sebagai negara yang sangat membutuhkan dukungan pembiayaan pembangunan dari lembaga keuangan multilateral tersebut.

Nilai Pinjaman Sudah Turun dalam Beberapa Tahun Terakhir

Rencana penghentian pinjaman ini tidak muncul secara tiba-tiba karena nilai pembiayaan Bank Dunia ke China sudah terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA:  Belgia Singkirkan Amerika Serikat 4-1 di Piala Dunia 2026, De Ketelaere Cetak Dua Gol

Pada 2017, nilai pinjaman ke China masih berada di kisaran US$2,4 miliar per tahun.

Namun, pada 2025 jumlah itu turun menjadi sekitar US$750 juta per tahun.

Penurunan tersebut mencerminkan perubahan kebutuhan pembiayaan China sekaligus arah baru strategi Bank Dunia dalam menyalurkan dana pembangunan.

Tekanan Amerika Serikat Ikut Mempengaruhi

Selain faktor perubahan status ekonomi China, kebijakan itu juga tidak lepas dari tekanan sejumlah negara anggota, terutama Amerika Serikat.

Selama bertahun-tahun, pejabat AS berpendapat China tidak lagi layak menerima pinjaman pembangunan dari Bank Dunia karena telah menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia sekaligus salah satu kreditur terbesar secara global.

Desakan tersebut bahkan meluas ke lembaga keuangan multilateral lain agar mengambil langkah serupa terhadap China.

Di sisi lain, pemerintah China menilai pengurangan pinjaman itu sebagai perubahan yang wajar seiring perkembangan ekonomi nasional.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru