Rupiah Tembus Rp17.671 per Dolar AS, Ekonom Ingatkan Risiko PHK dan Krisis Biaya Hidup

SulawesiPos.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (18/5/2026).

Pada pagi hari, rupiah tercatat melemah 33 poin atau 0,19 persen ke posisi Rp17.630 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.597 per dolar AS.

Tekanan berlanjut hingga siang hari dengan kurs rupiah sempat menyentuh Rp17.671 per dolar AS.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai pelemahan rupiah terjadi akibat menurunnya kepercayaan terhadap kebijakan dalam negeri, terutama kebijakan fiskal dan pengelolaan anggaran.

Menurut Bhima, dampak pelemahan kurs akan langsung dirasakan masyarakat melalui kenaikan biaya hidup sehari-hari.

“Karena semua barang yang kita pakai ini juga terpengaruh dari pelemahan nilai tukar. Mulai dari kosmetik, kendaraan bermotor, elektronik, sampai bahan pangan. Itu semua akan terpengaruh oleh rentetan pelemahan nilai tukar rupiah,” kata Bhima dikutip dari JawaPos, Senin (18/5/2026).

Bhima menjelaskan pelemahan rupiah dalam setahun terakhir telah mencapai lebih dari 7 persen dan bergerak sangat fluktuatif.

BACA JUGA: 
Kurs Rupiah Terus Turun Sejak Maret 2026, Kini Sentuh Rp17.600-an

Kondisi tersebut dinilai berpotensi memunculkan efek domino terhadap sektor industri karena biaya impor bahan baku dan logistik menjadi semakin mahal.

Akibatnya, perusahaan diperkirakan akan menekan kapasitas produksi demi menjaga biaya operasional.

“Maka industri akan mengurangi kapasitas produksinya dan menyebabkan mereka untuk melakukan PHK. Itu yang dikhawatirkan,” jelasnya.

Bhima menilai ancaman penurunan pendapatan dan pemutusan hubungan kerja perlu diantisipasi masyarakat sejak dini.

Sarankan Dana Darurat hingga Pegang Cash

Di tengah tekanan ekonomi, Bhima meminta masyarakat menyiapkan dana darurat sebesar 30–40 persen dari total penghasilan untuk menghadapi kemungkinan terburuk.

“Ini misalkan penghasilannya Rp 5 juta, berarti Rp 2,5 juta itu harus ada di rekening yang terpisah. Sehingga begitu kehilangan pekerjaan, begitu gajinya kemudian tidak dibayarkan karena ada masalah perusahaan, mereka masih bisa bertahan hidup. Jadi dimohon untuk mempersiapkan dana darurat,” ungkap dia.

Selain itu, masyarakat juga diminta menahan pengeluaran tersier yang tidak mendesak, termasuk belanja gaya hidup dan hiburan.

BACA JUGA: 
Ekonom CELIOS Kritik Keras Kesepakatan Dagang RI-AS, Dinilai Berpotensi Rugikan Indonesia

Bhima menyoroti fenomena lipstick effect yang menurutnya justru meningkat saat tekanan ekonomi terjadi.

“Sekarang ini muncul fenomena lipstick effect, karena tekanan ekonomi, akhirnya belanja konser, belanja lipstik, skincare, dan belanja barang-barang untuk hiburan itu naik. Tapi ini kan sebenarnya pengeluaran yang harusnya bisa ditunda dulu. Apalagi kalau membayar pengeluaran-pengeluaran tadi, belanja pengeluaran tersier tadi dengan utang, dengan pinjol. Ini jangan ya,” tegas Bhima.

Ia juga mengimbau masyarakat memperkuat solidaritas sosial dan saling membantu keluarga maupun tetangga yang terdampak penurunan ekonomi.

Selain itu, Bhima menyarankan masyarakat memperbanyak kepemilikan uang tunai atau aset likuid untuk menghadapi potensi guncangan mendadak.

“Nah yang keempat, saya sarankan buat masyarakat ini untuk memegang cash. Jadi, cash is the king. Karena kebutuhan yang mendadak, ketika ada sudden shock atau tekanan yang hebat, dia masih punya cash. Jadi, jangan berinvestasi ke instrumen-instrumen yang tidak likuid untuk saat ini,” tukas dia.

BACA JUGA: 
Rupiah Berpeluang Menguat, Ketegangan Global Mereda Usai Pernyataan Trump soal Selat Hormuz

SulawesiPos.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (18/5/2026).

Pada pagi hari, rupiah tercatat melemah 33 poin atau 0,19 persen ke posisi Rp17.630 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.597 per dolar AS.

Tekanan berlanjut hingga siang hari dengan kurs rupiah sempat menyentuh Rp17.671 per dolar AS.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai pelemahan rupiah terjadi akibat menurunnya kepercayaan terhadap kebijakan dalam negeri, terutama kebijakan fiskal dan pengelolaan anggaran.

Menurut Bhima, dampak pelemahan kurs akan langsung dirasakan masyarakat melalui kenaikan biaya hidup sehari-hari.

“Karena semua barang yang kita pakai ini juga terpengaruh dari pelemahan nilai tukar. Mulai dari kosmetik, kendaraan bermotor, elektronik, sampai bahan pangan. Itu semua akan terpengaruh oleh rentetan pelemahan nilai tukar rupiah,” kata Bhima dikutip dari JawaPos, Senin (18/5/2026).

Bhima menjelaskan pelemahan rupiah dalam setahun terakhir telah mencapai lebih dari 7 persen dan bergerak sangat fluktuatif.

BACA JUGA: 
Ekonom CELIOS Kritik Keras Kesepakatan Dagang RI-AS, Dinilai Berpotensi Rugikan Indonesia

Kondisi tersebut dinilai berpotensi memunculkan efek domino terhadap sektor industri karena biaya impor bahan baku dan logistik menjadi semakin mahal.

Akibatnya, perusahaan diperkirakan akan menekan kapasitas produksi demi menjaga biaya operasional.

“Maka industri akan mengurangi kapasitas produksinya dan menyebabkan mereka untuk melakukan PHK. Itu yang dikhawatirkan,” jelasnya.

Bhima menilai ancaman penurunan pendapatan dan pemutusan hubungan kerja perlu diantisipasi masyarakat sejak dini.

Sarankan Dana Darurat hingga Pegang Cash

Di tengah tekanan ekonomi, Bhima meminta masyarakat menyiapkan dana darurat sebesar 30–40 persen dari total penghasilan untuk menghadapi kemungkinan terburuk.

“Ini misalkan penghasilannya Rp 5 juta, berarti Rp 2,5 juta itu harus ada di rekening yang terpisah. Sehingga begitu kehilangan pekerjaan, begitu gajinya kemudian tidak dibayarkan karena ada masalah perusahaan, mereka masih bisa bertahan hidup. Jadi dimohon untuk mempersiapkan dana darurat,” ungkap dia.

Selain itu, masyarakat juga diminta menahan pengeluaran tersier yang tidak mendesak, termasuk belanja gaya hidup dan hiburan.

BACA JUGA: 
Rupiah Sentuh Rp17.600 per Dolar AS, Berpotensi Capai Rp18.000

Bhima menyoroti fenomena lipstick effect yang menurutnya justru meningkat saat tekanan ekonomi terjadi.

“Sekarang ini muncul fenomena lipstick effect, karena tekanan ekonomi, akhirnya belanja konser, belanja lipstik, skincare, dan belanja barang-barang untuk hiburan itu naik. Tapi ini kan sebenarnya pengeluaran yang harusnya bisa ditunda dulu. Apalagi kalau membayar pengeluaran-pengeluaran tadi, belanja pengeluaran tersier tadi dengan utang, dengan pinjol. Ini jangan ya,” tegas Bhima.

Ia juga mengimbau masyarakat memperkuat solidaritas sosial dan saling membantu keluarga maupun tetangga yang terdampak penurunan ekonomi.

Selain itu, Bhima menyarankan masyarakat memperbanyak kepemilikan uang tunai atau aset likuid untuk menghadapi potensi guncangan mendadak.

“Nah yang keempat, saya sarankan buat masyarakat ini untuk memegang cash. Jadi, cash is the king. Karena kebutuhan yang mendadak, ketika ada sudden shock atau tekanan yang hebat, dia masih punya cash. Jadi, jangan berinvestasi ke instrumen-instrumen yang tidak likuid untuk saat ini,” tukas dia.

BACA JUGA: 
Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Ini Pemicunya

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru