Rupiah Sentuh Rp17.600 per Dolar AS, Berpotensi Capai Rp18.000

SulawesiPos.com – Nilai tukar rupiah diprediksi masih berada dalam tekanan hingga awal pekan depan seiring meningkatnya tensi geopolitik global dan menguatnya dolar Amerika Serikat (AS).

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah saat ini dipicu memanasnya situasi di Timur Tengah, terutama setelah Iran menggelar latihan perang besar-besaran di Selat Hormuz.

Ketegangan kawasan juga meningkat setelah muncul insiden kapal kargo tenggelam di perairan Oman serta penahanan sejumlah kapal oleh Iran.

“Ketegangan geopolitik membuat harga minyak naik dan dolar AS menguat. Dampaknya rupiah mengalami tekanan cukup besar,” ujar Ibrahim dalam analisisnya, Jumat (15/5/2026).

Selain konflik Timur Tengah, pasar global juga mencermati kembali memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Hal itu terjadi setelah pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang turut membahas perang dagang hingga isu Taiwan.

Menurut Ibrahim, situasi global yang tidak menentu membuat investor cenderung memburu aset safe haven seperti dolar AS.

BACA JUGA: 
Rupiah Sentuh Rp17.600 per Dolar AS, Purbaya Pastikan Tak Akan Separah Krisis 1998

Di sisi lain, pelaku pasar juga memperkirakan Federal Reserve masih akan mempertahankan suku bunga tinggi sepanjang tahun ini.

“Kenaikan harga energi di Amerika berpotensi membuat inflasi tetap tinggi sehingga The Fed kemungkinan belum akan menurunkan suku bunga. Ini membuat indeks dolar semakin kuat,” jelasnya.

BI Lakukan Intervensi di Pasar

Di tengah tekanan tersebut, rupiah sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar AS di pasar internasional pada Jumat pagi.

Namun, Ibrahim menyebut Bank Indonesia langsung melakukan intervensi sehingga pelemahan rupiah dapat sedikit tertahan.

“Pagi tadi sempat di Rp17.600 lebih, lalu kembali turun di bawah level itu. Artinya BI melakukan intervensi cukup serius di pasar internasional,” katanya.

Ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlangsung hingga pembukaan pasar awal pekan depan karena ruang intervensi domestik lebih terbatas selama periode libur panjang.

Menurut Ibrahim, pemerintah dan BI kemungkinan akan memperkuat langkah stabilisasi melalui intervensi pasar dan penguatan likuiditas lewat instrumen surat utang saat perdagangan kembali normal.

BACA JUGA: 
Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Ini Pemicunya

Meski demikian, risiko pelemahan rupiah dinilai masih cukup besar. Bahkan, level Rp18.000 per dolar AS disebut berpotensi tercapai apabila ketidakpastian global terus meningkat.

“Kalau Rp18.000 tembus, tekanan terhadap rupiah bisa semakin berat. Karena itu pasar akan sangat menunggu langkah BI dalam rapat kebijakan berikutnya,” pungkasnya.

SulawesiPos.com – Nilai tukar rupiah diprediksi masih berada dalam tekanan hingga awal pekan depan seiring meningkatnya tensi geopolitik global dan menguatnya dolar Amerika Serikat (AS).

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah saat ini dipicu memanasnya situasi di Timur Tengah, terutama setelah Iran menggelar latihan perang besar-besaran di Selat Hormuz.

Ketegangan kawasan juga meningkat setelah muncul insiden kapal kargo tenggelam di perairan Oman serta penahanan sejumlah kapal oleh Iran.

“Ketegangan geopolitik membuat harga minyak naik dan dolar AS menguat. Dampaknya rupiah mengalami tekanan cukup besar,” ujar Ibrahim dalam analisisnya, Jumat (15/5/2026).

Selain konflik Timur Tengah, pasar global juga mencermati kembali memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Hal itu terjadi setelah pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang turut membahas perang dagang hingga isu Taiwan.

Menurut Ibrahim, situasi global yang tidak menentu membuat investor cenderung memburu aset safe haven seperti dolar AS.

BACA JUGA: 
Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp16.950, Sentimen Greenland dan BI Jadi Sorotan

Di sisi lain, pelaku pasar juga memperkirakan Federal Reserve masih akan mempertahankan suku bunga tinggi sepanjang tahun ini.

“Kenaikan harga energi di Amerika berpotensi membuat inflasi tetap tinggi sehingga The Fed kemungkinan belum akan menurunkan suku bunga. Ini membuat indeks dolar semakin kuat,” jelasnya.

BI Lakukan Intervensi di Pasar

Di tengah tekanan tersebut, rupiah sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar AS di pasar internasional pada Jumat pagi.

Namun, Ibrahim menyebut Bank Indonesia langsung melakukan intervensi sehingga pelemahan rupiah dapat sedikit tertahan.

“Pagi tadi sempat di Rp17.600 lebih, lalu kembali turun di bawah level itu. Artinya BI melakukan intervensi cukup serius di pasar internasional,” katanya.

Ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlangsung hingga pembukaan pasar awal pekan depan karena ruang intervensi domestik lebih terbatas selama periode libur panjang.

Menurut Ibrahim, pemerintah dan BI kemungkinan akan memperkuat langkah stabilisasi melalui intervensi pasar dan penguatan likuiditas lewat instrumen surat utang saat perdagangan kembali normal.

BACA JUGA: 
Rupiah Sentuh Rp17.600 per Dolar AS, Purbaya Pastikan Tak Akan Separah Krisis 1998

Meski demikian, risiko pelemahan rupiah dinilai masih cukup besar. Bahkan, level Rp18.000 per dolar AS disebut berpotensi tercapai apabila ketidakpastian global terus meningkat.

“Kalau Rp18.000 tembus, tekanan terhadap rupiah bisa semakin berat. Karena itu pasar akan sangat menunggu langkah BI dalam rapat kebijakan berikutnya,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru