Seleksi Imam Kelurahan Makassar Ketat, Appi: Tak Bisa Mengaji Jangan Diluluskan

SulawesiPos.com – Sebanyak 140 peserta mengikuti seleksi calon Imam Kelurahan Kota Makassar tahun 2026 yang digelar di Kantor Wali Kota Makassar, Rabu (6/5/2026).

Para peserta berasal dari 103 kelurahan dan nantinya hanya 103 orang yang akan dinyatakan lolos.

Seleksi tersebut meliputi berbagai tahapan, mulai dari pemeriksaan administrasi, tes tertulis, wawancara, hingga kemampuan baca tulis Alquran.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menegaskan proses seleksi harus berjalan ketat, objektif, dan menjunjung integritas demi menghasilkan imam kelurahan yang berkualitas.

Saat membuka kegiatan yang dilaksanakan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) itu, Munafri atau yang akrab disapa Appi menekankan kemampuan membaca Alquran menjadi syarat mutlak bagi calon imam.

“Tidak perlu dipaksakan jika tidak mampu mengaji. Jangan sampai di satu kelurahan banyak yang bisa, tetapi justru yang tidak mampu yang terpilih. Ini tidak boleh terjadi,” ujarnya.

Selain kemampuan mengaji, Appi juga menyoroti pentingnya sikap toleransi bagi seorang imam.

BACA JUGA: 
Wali Kota Makassar Tegas Larang Parkir Liar Kendaraan Logistik, Janji Tertibkan Gudang Tanpa Izin

Menurutnya, imam harus mampu menjadi perekat masyarakat yang majemuk dan bukan memicu perpecahan.

“Kalau tidak memiliki sikap toleran, sebaiknya tidak diluluskan. Kita hidup dalam masyarakat majemuk, sehingga imam harus hadir membawa kesejukan,” tambahnya.

Imam Diminta Jadi Solusi Persoalan Sosial

Appi menilai peran imam tidak hanya sebatas memimpin ibadah di masjid, tetapi juga harus mampu menjadi tokoh penyelesai persoalan sosial di lingkungan masyarakat.

Ia berharap masjid bisa berfungsi lebih luas sebagai pusat musyawarah dan pembinaan generasi muda, bukan sekadar tempat ibadah.

“Imam harus menjadi bagian dari solusi. Ketika persoalan masyarakat dibawa ke masjid, di sanalah semestinya ada penyelesaian,” katanya.

Menurutnya, imam kelurahan memiliki posisi strategis sehingga harus diisi sosok berintegritas, bermoral, dan memiliki visi yang jelas dalam membangun masyarakat.

Appi juga menekankan pentingnya kemampuan manajemen bagi seorang imam karena imam merupakan pemimpin yang harus mampu bekerja sama dengan pengurus masjid serta mengelola organisasi secara efektif.

BACA JUGA: 
Wali Kota Minta Dishub Tampil Gagah di Jalan Raya, Upayakan Lalu Lintas Humanis

“Imam itu pemimpin. Kalau bicara pemimpin, berarti bicara manajemen. Hasil kerja masjid harus jelas dan memberikan dampak maksimal,” tegasnya.

Selain itu, Appi mengingatkan seluruh peserta agar tetap menjunjung sportivitas dalam proses seleksi. Ia tidak ingin peserta yang gagal justru menyebarkan sentimen negatif terhadap peserta yang dinyatakan lolos.

“Seleksi pasti ada yang lulus dan tidak. Tapi jangan sampai yang tidak lulus justru menyebarkan hal negatif. Kita butuh kebersamaan membangun masjid,” ujarnya.

Ia juga memberi peringatan kepada tim penguji untuk menjaga integritas selama proses seleksi berlangsung.

“Pastikan yang lulus benar-benar yang memiliki kemampuan, bukan karena kedekatan atau hubungan tertentu,” katanya.

Kemenag Makassar Tekankan Standar Kelulusan

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar, Muhammad, menegaskan standar kelulusan calon imam harus diterapkan secara ketat.

Menurutnya, peserta yang tidak mampu mengaji maupun tidak memiliki sikap toleran tidak layak untuk dinyatakan lulus.

“Kalau tidak bisa mengaji, jangan diluluskan. Tidak mungkin satu kelurahan tidak ada yang mampu. Begitu juga dengan sikap toleransi, itu wajib,” ujarnya.

BACA JUGA: 
Makassar Waspada Cuaca Ekstrem, Wali Kota Kerahkan Seluruh Aparat Siaga 24 Jam

Ia menyebut Kota Makassar tengah membangun citra sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai toleransi, sehingga aspek tersebut menjadi perhatian utama dalam seleksi imam kelurahan.

Muhammad juga menyinggung sejumlah persoalan keagamaan yang masih membutuhkan perhatian, mulai dari pelayanan di wilayah kepulauan, urusan pernikahan, hingga dukungan terhadap fasilitas Kantor Urusan Agama (KUA).

Ia mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Makassar terhadap penguatan sektor keagamaan melalui kerja sama bersama Baznas dan Badan Wakaf.

Menurutnya, masih banyak aset wakaf yang belum memiliki sertifikat sehingga membutuhkan penanganan serius. Ia berharap kehadiran imam kelurahan yang berintegritas mampu memperkuat pelayanan keagamaan di tengah masyarakat.

“Kementerian Agama siap mendukung pemerintah kota dalam memberikan pelayanan keumatan yang lebih baik,” pungkasnya.

SulawesiPos.com – Sebanyak 140 peserta mengikuti seleksi calon Imam Kelurahan Kota Makassar tahun 2026 yang digelar di Kantor Wali Kota Makassar, Rabu (6/5/2026).

Para peserta berasal dari 103 kelurahan dan nantinya hanya 103 orang yang akan dinyatakan lolos.

Seleksi tersebut meliputi berbagai tahapan, mulai dari pemeriksaan administrasi, tes tertulis, wawancara, hingga kemampuan baca tulis Alquran.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menegaskan proses seleksi harus berjalan ketat, objektif, dan menjunjung integritas demi menghasilkan imam kelurahan yang berkualitas.

Saat membuka kegiatan yang dilaksanakan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) itu, Munafri atau yang akrab disapa Appi menekankan kemampuan membaca Alquran menjadi syarat mutlak bagi calon imam.

“Tidak perlu dipaksakan jika tidak mampu mengaji. Jangan sampai di satu kelurahan banyak yang bisa, tetapi justru yang tidak mampu yang terpilih. Ini tidak boleh terjadi,” ujarnya.

Selain kemampuan mengaji, Appi juga menyoroti pentingnya sikap toleransi bagi seorang imam.

BACA JUGA: 
Wali Kota Makassar Tegas Larang Parkir Liar Kendaraan Logistik, Janji Tertibkan Gudang Tanpa Izin

Menurutnya, imam harus mampu menjadi perekat masyarakat yang majemuk dan bukan memicu perpecahan.

“Kalau tidak memiliki sikap toleran, sebaiknya tidak diluluskan. Kita hidup dalam masyarakat majemuk, sehingga imam harus hadir membawa kesejukan,” tambahnya.

Imam Diminta Jadi Solusi Persoalan Sosial

Appi menilai peran imam tidak hanya sebatas memimpin ibadah di masjid, tetapi juga harus mampu menjadi tokoh penyelesai persoalan sosial di lingkungan masyarakat.

Ia berharap masjid bisa berfungsi lebih luas sebagai pusat musyawarah dan pembinaan generasi muda, bukan sekadar tempat ibadah.

“Imam harus menjadi bagian dari solusi. Ketika persoalan masyarakat dibawa ke masjid, di sanalah semestinya ada penyelesaian,” katanya.

Menurutnya, imam kelurahan memiliki posisi strategis sehingga harus diisi sosok berintegritas, bermoral, dan memiliki visi yang jelas dalam membangun masyarakat.

Appi juga menekankan pentingnya kemampuan manajemen bagi seorang imam karena imam merupakan pemimpin yang harus mampu bekerja sama dengan pengurus masjid serta mengelola organisasi secara efektif.

BACA JUGA: 
Musda Golkar Sulsel: Appi Kantongi Dukungan Tertulis DPD II, Ilham Arief Dapat Sinyal dari Bahlil

“Imam itu pemimpin. Kalau bicara pemimpin, berarti bicara manajemen. Hasil kerja masjid harus jelas dan memberikan dampak maksimal,” tegasnya.

Selain itu, Appi mengingatkan seluruh peserta agar tetap menjunjung sportivitas dalam proses seleksi. Ia tidak ingin peserta yang gagal justru menyebarkan sentimen negatif terhadap peserta yang dinyatakan lolos.

“Seleksi pasti ada yang lulus dan tidak. Tapi jangan sampai yang tidak lulus justru menyebarkan hal negatif. Kita butuh kebersamaan membangun masjid,” ujarnya.

Ia juga memberi peringatan kepada tim penguji untuk menjaga integritas selama proses seleksi berlangsung.

“Pastikan yang lulus benar-benar yang memiliki kemampuan, bukan karena kedekatan atau hubungan tertentu,” katanya.

Kemenag Makassar Tekankan Standar Kelulusan

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar, Muhammad, menegaskan standar kelulusan calon imam harus diterapkan secara ketat.

Menurutnya, peserta yang tidak mampu mengaji maupun tidak memiliki sikap toleran tidak layak untuk dinyatakan lulus.

“Kalau tidak bisa mengaji, jangan diluluskan. Tidak mungkin satu kelurahan tidak ada yang mampu. Begitu juga dengan sikap toleransi, itu wajib,” ujarnya.

BACA JUGA: 
49.209 KK di Makassar Nikmati Iuran Sampah Gratis, Janji Mulia Mulai Terwujud

Ia menyebut Kota Makassar tengah membangun citra sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai toleransi, sehingga aspek tersebut menjadi perhatian utama dalam seleksi imam kelurahan.

Muhammad juga menyinggung sejumlah persoalan keagamaan yang masih membutuhkan perhatian, mulai dari pelayanan di wilayah kepulauan, urusan pernikahan, hingga dukungan terhadap fasilitas Kantor Urusan Agama (KUA).

Ia mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Makassar terhadap penguatan sektor keagamaan melalui kerja sama bersama Baznas dan Badan Wakaf.

Menurutnya, masih banyak aset wakaf yang belum memiliki sertifikat sehingga membutuhkan penanganan serius. Ia berharap kehadiran imam kelurahan yang berintegritas mampu memperkuat pelayanan keagamaan di tengah masyarakat.

“Kementerian Agama siap mendukung pemerintah kota dalam memberikan pelayanan keumatan yang lebih baik,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru