Menelusuri Jejak Empat Generasi Warkop Daeng Anas: Dari Paotere hingga Menjadi Magnet Para Tokoh di Jantung Kota Makassar

SulawesiPos.com – Di tengah menjamurnya kedai kopi modern dan dominasi warkop legendaris komunitas Tionghoa di Kota Makassar, satu nama tetap berdiri kokoh dan tak pernah sepi pengunjung, yakni Warung Kopi Daeng Anas.

Berlokasi di Jalan RS Islam Faisal Nomor 12, warkop ini telah menjadi titik kumpul favorit bagi berbagai kalangan, mulai dari warga sekitar hingga tokoh-tokoh penting di Sulawesi Selatan.

Kesuksesan yang diraih oleh Nasrullah Nawir (51), atau yang akrab disapa Daeng Anas, bukanlah sebuah keberuntungan semalam, melainkan buah dari DNA peracik kopi yang telah mengalir dalam darah keluarganya selama empat generasi.

Silsilah bisnis ini bermula jauh sebelum Indonesia merdeka melalui tangan kakek buyutnya, Haji Gani, yang merintis usaha warung kopi di dekat Pelabuhan Tradisional Paotere.

Daeng Anas mengisahkan bahwa keahlian meracik kopi tersebut kemudian diwariskan kepada sang kakek, Haji Rahim, dan berlanjut kepada ayahnya, Haji Nawir.

“Tahun 1982 saya mulai ikut jualan kopi, sejak SD kelas 5. Ini sudah turunan keempat, dari Pelabuhan Paotere meneruskan ke anaknya, Haji Nawir,” kenang Anas saat ditemui SulawesiPos.com di Warkop Daeng Anas, Rabu (29/4/2026).

Perjalanan bisnis Daeng Anas penuh dengan dinamika dan adaptasi ruang. Ketika lokasi usaha di Jalan Buru tidak lagi bisa disewa pada tahun 1989, ia sempat beralih berjualan sarabba dan gorengan di rumah orang tuanya di Jalan Sabutung sambil tetap mengasah insting wirausahanya.

Namun, gairah terhadap dunia warkop tidak pernah padam. Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMEA Negeri 2 Makassar (sekarang SMK Negeri 4) pada tahun 1994, ia kembali bergabung mengelola warkop milik ayahnya, Sinar Daya, di wilayah Daya.

Baru setelah menikah di tahun 2000, Daeng Anas memberanikan diri membuka usaha sendiri dengan nama Warkop Sumber Daya di Jalan Pettarani, sebelum akhirnya pindah ke Jalan Pelita pada tahun 2004.

Perubahan nama menjadi Warkop Daeng Anas sendiri bermula dari saran seorang sahabat karibnya, Aziz Malla.

Sang sahabat menilai nama Sumber Daya terlalu panjang dan kurang personal, sehingga menyarankan penggunaan nama panggilan Daeng Anas agar lebih mudah diingat dan identik dengan sosok pemiliknya.

Nama inilah yang kemudian membawa keberuntungan hingga ia membuka cabang di Jalan RS Islam Faisal pada tahun 2008. Sejak tahun 2020, Daeng Anas memutuskan untuk fokus mengelola gerai di Jalan Faisal dan menutup cabang lainnya demi menjaga kualitas serta kedekatan dengan pelanggan setianya.

Keunikan Warkop Daeng Anas terletak pada kesetiaannya menjaga teknik tradisional. Kopi di sini tetap diolah menggunakan teknik kopi tiam dengan ceret kuningan yang khas, memberikan aroma dan cita rasa yang konsisten dari waktu ke waktu.

Untuk harga secangkir kopi hitamnya, dari harga Rp11 ribu hingga Rp13 ribu, sedangkan kopi susunya dari harga Rp15 ribu ukuran gelas kecil, dan Rp 17 ribu untuk gelas ukuran sedang.

Sedangkan untuk paket take away (botol), ukuran botol mini 120 ml, Rp 17 ribu, ukuran 330ml 32 ribu, dan ukuran 600ml Rp 52 ribu. Sedangkan menu lainnya, yaitu kue-kue tradisional rata-rata Rp3.500 dan untuk menu nasi kuning Rp24 ribu perporsinya

Tak hanya itu, Daeng Anas juga menjadikan warkopnya sebagai wadah bagi pelaku UMKM lokal dengan menyediakan tempat bagi para pembuat kue tradisional di sekitar lingkungannya untuk menitipkan jualan mereka.

Keberpihakan pada ekonomi rakyat ini berdampingan harmonis dengan menu wajib seperti teh susu, nasi kuning, songkolo, dan gorengan hangat yang selalu tersedia.

Kini, Warkop Daeng Anas telah bertransformasi menjadi ruang publik yang prestisius namun tetap merakyat. Tokoh-tokoh nasional dan daerah seringkali terlihat duduk santai menikmati kopi di sini, mulai dari mantan Menkumham Prof Hamid Awaluddin, mantan Irjen Kemenkumham Prof Aidir Amin Daud, mantan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, politisi nasional Anas Urbaningrum, vokalis band Padi Fadly Arifuddin, hingga pengusaha ternama seperti Tauphan Ansar Nur dan Amirullah Nur.

Rahasia di balik ketangguhan bisnis ini bagi Daeng Anas terletak pada prinsip hidup yang kuat.

“Resepnya hanya istiqamah, ikhtiar, dan konsisten dalam berbisnis,” ungkapnya dengan tenang.

Warisan leluhur ini pun kini mulai ia persiapkan untuk diteruskan kepada anak-anaknya yang tetap dilibatkan dalam manajemen warkop sembari menempuh pendidikan formal, memastikan bahwa aroma kopi warisan kakek buyutnya, Haji Gani akan terus melegenda di Makassar.(mn abdurrahman)

SulawesiPos.com – Di tengah menjamurnya kedai kopi modern dan dominasi warkop legendaris komunitas Tionghoa di Kota Makassar, satu nama tetap berdiri kokoh dan tak pernah sepi pengunjung, yakni Warung Kopi Daeng Anas.

Berlokasi di Jalan RS Islam Faisal Nomor 12, warkop ini telah menjadi titik kumpul favorit bagi berbagai kalangan, mulai dari warga sekitar hingga tokoh-tokoh penting di Sulawesi Selatan.

Kesuksesan yang diraih oleh Nasrullah Nawir (51), atau yang akrab disapa Daeng Anas, bukanlah sebuah keberuntungan semalam, melainkan buah dari DNA peracik kopi yang telah mengalir dalam darah keluarganya selama empat generasi.

Silsilah bisnis ini bermula jauh sebelum Indonesia merdeka melalui tangan kakek buyutnya, Haji Gani, yang merintis usaha warung kopi di dekat Pelabuhan Tradisional Paotere.

Daeng Anas mengisahkan bahwa keahlian meracik kopi tersebut kemudian diwariskan kepada sang kakek, Haji Rahim, dan berlanjut kepada ayahnya, Haji Nawir.

“Tahun 1982 saya mulai ikut jualan kopi, sejak SD kelas 5. Ini sudah turunan keempat, dari Pelabuhan Paotere meneruskan ke anaknya, Haji Nawir,” kenang Anas saat ditemui SulawesiPos.com di Warkop Daeng Anas, Rabu (29/4/2026).

Perjalanan bisnis Daeng Anas penuh dengan dinamika dan adaptasi ruang. Ketika lokasi usaha di Jalan Buru tidak lagi bisa disewa pada tahun 1989, ia sempat beralih berjualan sarabba dan gorengan di rumah orang tuanya di Jalan Sabutung sambil tetap mengasah insting wirausahanya.

Namun, gairah terhadap dunia warkop tidak pernah padam. Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMEA Negeri 2 Makassar (sekarang SMK Negeri 4) pada tahun 1994, ia kembali bergabung mengelola warkop milik ayahnya, Sinar Daya, di wilayah Daya.

Baru setelah menikah di tahun 2000, Daeng Anas memberanikan diri membuka usaha sendiri dengan nama Warkop Sumber Daya di Jalan Pettarani, sebelum akhirnya pindah ke Jalan Pelita pada tahun 2004.

Perubahan nama menjadi Warkop Daeng Anas sendiri bermula dari saran seorang sahabat karibnya, Aziz Malla.

Sang sahabat menilai nama Sumber Daya terlalu panjang dan kurang personal, sehingga menyarankan penggunaan nama panggilan Daeng Anas agar lebih mudah diingat dan identik dengan sosok pemiliknya.

Nama inilah yang kemudian membawa keberuntungan hingga ia membuka cabang di Jalan RS Islam Faisal pada tahun 2008. Sejak tahun 2020, Daeng Anas memutuskan untuk fokus mengelola gerai di Jalan Faisal dan menutup cabang lainnya demi menjaga kualitas serta kedekatan dengan pelanggan setianya.

Keunikan Warkop Daeng Anas terletak pada kesetiaannya menjaga teknik tradisional. Kopi di sini tetap diolah menggunakan teknik kopi tiam dengan ceret kuningan yang khas, memberikan aroma dan cita rasa yang konsisten dari waktu ke waktu.

Untuk harga secangkir kopi hitamnya, dari harga Rp11 ribu hingga Rp13 ribu, sedangkan kopi susunya dari harga Rp15 ribu ukuran gelas kecil, dan Rp 17 ribu untuk gelas ukuran sedang.

Sedangkan untuk paket take away (botol), ukuran botol mini 120 ml, Rp 17 ribu, ukuran 330ml 32 ribu, dan ukuran 600ml Rp 52 ribu. Sedangkan menu lainnya, yaitu kue-kue tradisional rata-rata Rp3.500 dan untuk menu nasi kuning Rp24 ribu perporsinya

Tak hanya itu, Daeng Anas juga menjadikan warkopnya sebagai wadah bagi pelaku UMKM lokal dengan menyediakan tempat bagi para pembuat kue tradisional di sekitar lingkungannya untuk menitipkan jualan mereka.

Keberpihakan pada ekonomi rakyat ini berdampingan harmonis dengan menu wajib seperti teh susu, nasi kuning, songkolo, dan gorengan hangat yang selalu tersedia.

Kini, Warkop Daeng Anas telah bertransformasi menjadi ruang publik yang prestisius namun tetap merakyat. Tokoh-tokoh nasional dan daerah seringkali terlihat duduk santai menikmati kopi di sini, mulai dari mantan Menkumham Prof Hamid Awaluddin, mantan Irjen Kemenkumham Prof Aidir Amin Daud, mantan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, politisi nasional Anas Urbaningrum, vokalis band Padi Fadly Arifuddin, hingga pengusaha ternama seperti Tauphan Ansar Nur dan Amirullah Nur.

Rahasia di balik ketangguhan bisnis ini bagi Daeng Anas terletak pada prinsip hidup yang kuat.

“Resepnya hanya istiqamah, ikhtiar, dan konsisten dalam berbisnis,” ungkapnya dengan tenang.

Warisan leluhur ini pun kini mulai ia persiapkan untuk diteruskan kepada anak-anaknya yang tetap dilibatkan dalam manajemen warkop sembari menempuh pendidikan formal, memastikan bahwa aroma kopi warisan kakek buyutnya, Haji Gani akan terus melegenda di Makassar.(mn abdurrahman)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru