Mengenal Pokon, Kuliner Khas Toraja yang Hadir di Tradisi Rambu’ Solo

SulawesiPos.com – Toraja Utara tidak hanya dikenal kaya akan wisata budaya, tetapi juga memiliki kuliner tradisional yang unik seperti pokon.

Makanan ini terbuat dari beras ketan putih yang dicampur santan dan garam.

Beberapa resep menambahkan parutan kelapa untuk cita rasa gurih yang khas.

Pokon berbentuk seperti lontong, dibungkus menggunakan daun bambu, kemudian diikat rapi dengan tali rafia.

Sajian ini paling nikmat dinikmati bersama segelas teh hangat atau kopi.

Tradisi Ma’Pokon di Toraja

Tradisi ma’pokon menjadi salah satu rangkaian prosesi dalam upacara kedukaan Rambu’ Solo, terutama bagi keturunan bangsawan.

Kata “ma’pokon” sendiri berarti membuat pokon yang biasanya dilakukan ibu-ibu secara gotong royong sejak pagi hari.

Beras ketan yang digunakan dicuci dan direndam terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan santan dan garam secukupnya sebelum dibungkus dengan daun bambu.

Proses membungkus ini membutuhkan ketelitian agar beras tidak tumpah dan daun bambu tidak robek saat diikat.

BACA JUGA: 
Tara’jong, Jajanan Singkong Khas Sulsel yang Manis dan Renyah

Peran Para Pria dalam Ma’Pokon

Keseruan pembuatan pokon juga terlihat dari interaksi dan canda tawa ibu-ibu yang bekerja bersama.

Sementara itu, para pria menyiapkan tungku dari besi dengan kayu bakar untuk memasak pokon.

Pokon direbus dalam kuali besar dari aluminium yang dialasi dengan daun pandan agar aroma lebih harum dan rasa lebih legit.

Beras ketan yang sudah dibungkus ditata rapi di dalam kuali, ditutup daun pandan, lalu air dimasukkan hingga seluruh pokon terendam.

Proses perebusan berlangsung selama 3–5 jam dengan api kayu bakar yang stabil.

Pokon tidak langsung disantap di hari yang sama, melainkan disajikan keesokan harinya saat prosesi ma’tammu tedong atau ma’pasa’ tedong, yakni acara pengumpulan kerbau yang akan dipotong.

SulawesiPos.com – Toraja Utara tidak hanya dikenal kaya akan wisata budaya, tetapi juga memiliki kuliner tradisional yang unik seperti pokon.

Makanan ini terbuat dari beras ketan putih yang dicampur santan dan garam.

Beberapa resep menambahkan parutan kelapa untuk cita rasa gurih yang khas.

Pokon berbentuk seperti lontong, dibungkus menggunakan daun bambu, kemudian diikat rapi dengan tali rafia.

Sajian ini paling nikmat dinikmati bersama segelas teh hangat atau kopi.

Tradisi Ma’Pokon di Toraja

Tradisi ma’pokon menjadi salah satu rangkaian prosesi dalam upacara kedukaan Rambu’ Solo, terutama bagi keturunan bangsawan.

Kata “ma’pokon” sendiri berarti membuat pokon yang biasanya dilakukan ibu-ibu secara gotong royong sejak pagi hari.

Beras ketan yang digunakan dicuci dan direndam terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan santan dan garam secukupnya sebelum dibungkus dengan daun bambu.

Proses membungkus ini membutuhkan ketelitian agar beras tidak tumpah dan daun bambu tidak robek saat diikat.

BACA JUGA: 
Resep Sop Kikil Sederhana dan 3 Warung Legendaris di Makassar

Peran Para Pria dalam Ma’Pokon

Keseruan pembuatan pokon juga terlihat dari interaksi dan canda tawa ibu-ibu yang bekerja bersama.

Sementara itu, para pria menyiapkan tungku dari besi dengan kayu bakar untuk memasak pokon.

Pokon direbus dalam kuali besar dari aluminium yang dialasi dengan daun pandan agar aroma lebih harum dan rasa lebih legit.

Beras ketan yang sudah dibungkus ditata rapi di dalam kuali, ditutup daun pandan, lalu air dimasukkan hingga seluruh pokon terendam.

Proses perebusan berlangsung selama 3–5 jam dengan api kayu bakar yang stabil.

Pokon tidak langsung disantap di hari yang sama, melainkan disajikan keesokan harinya saat prosesi ma’tammu tedong atau ma’pasa’ tedong, yakni acara pengumpulan kerbau yang akan dipotong.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru