SulawesiPos.com – Ketegangan di perbatasan Israel dan Lebanon kembali meningkat setelah militer Israel melancarkan rangkaian serangan terbaru yang menargetkan wilayah yang diduga menjadi basis kelompok Hizbullah.
Serangan tersebut terjadi pada Rabu (11/3/2026) waktu setempat dan disebut sebagai salah satu operasi militer berskala besar yang dilakukan Israel dalam beberapa waktu terakhir.
Operasi ini difokuskan pada kawasan Dahiyeh, wilayah pinggiran selatan Beirut yang selama ini dikenal sebagai salah satu basis pengaruh Hizbullah.
Pihak militer Israel menyatakan bahwa serangan tersebut ditujukan untuk menghancurkan sejumlah infrastruktur milik Hizbullah.
Kelompok bersenjata yang mendapat dukungan Iran itu disebut memiliki sejumlah fasilitas strategis di kawasan tersebut.
Namun, situasi dengan cepat berkembang setelah Hizbullah melancarkan serangan balasan.
Kelompok tersebut mengumumkan telah menembakkan puluhan roket ke wilayah utara Israel.
Dalam pernyataannya, Hizbullah menyebut serangan roket itu sebagai respons atas operasi militer Israel yang menargetkan berbagai kota dan desa di Lebanon, termasuk kawasan selatan Beirut.
Kelompok tersebut menyatakan serangan roket ke Israel utara merupakan bagian dari operasi militer baru yang mereka umumkan tak lama setelah serangan Israel terjadi.
Rangkaian aksi saling serang ini menambah panjang daftar eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah yang belakangan kembali memanas.
Kelompok Hizbullah
Hizbullah adalah organisasi politik dan paramiliter Syiah yang berbasis di Lebanon, didirikan pada tahun 1982 dengan dukungan Iran.
Sebagai salah satu aktor non-negara terkuat di dunia, Hizbullah menentang pengaruh Barat dan Israel, memiliki persenjataan besar, serta aktif dalam politik dan sosial Lebanon.

