Menyusuri Lorong Waktu di Masjid Tua Katangka: Monumen Lahirnya Peradaban Islam di Sulawesi Selatan

SulawesiPos.com – Di bilangan Jalan Syekh Yusuf, yang menjadi garis pembatas antara hiruk-pikuk Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, berdiri sebuah monumen sejarah yang tak lekang oleh zaman.

Masjid Al Hilal Katangka, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Tua Katangka, bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah jantung dari narasi besar masuknya Islam di tanah Sulawesi Selatan.

Nama “Al Hilal” yang berarti bulan muda dalam bahasa Arab, secara filosofis dimaknai sebagai fajar baru bagi Kerajaan Gowa.

Kehadiran masjid ini menandai masa transisi besar di mana Islam mulai menjadi napas bagi pemerintahan dan masyarakat di bawah kekuasaan Kerajaan Gowa.

Warisan Sultan Alauddin yang Tak Tersentuh Penjajah

Masjid agung ini didirikan pada tahun 1603 oleh Sultan Alauddin, Raja Gowa ke-14 sekaligus penguasa pertama yang memeluk Islam. Sosoknya merupakan kakek dari pahlawan nasional kebanggaan kita, Sultan Hasanuddin.

Harun Rahman Daeng Ngella (41), pengurus masjid yang juga merupakan keturunan dari pengurus masjid terdahulu, menjelaskan betapa bangunan ini sangat dijaga keasliannya.

BACA JUGA: 
Masjid Tua Katangka: Jejak Sejarah dan Perpaduan Budaya di Peninggalan Kerajaan Gowa

Tembok masjid yang memiliki ketebalan luar biasa, yakni 120 centimeter, hingga saat ini masih berdiri kokoh menopang atap dengan bantuan tiang besi padat.

“Kita harus mempertahankan bentuk keasliannya, karena bangunan ini dilindungi Undang-Undang Kepurbakalaan. Ini adalah saksi sejarah awal mula Islam menyebar di Sulawesi Selatan,” tegas Harun.

Pusat Peradaban dan “Rumah” Bagi Para Wali

Di abad ke-17, masjid ini bukan sekadar tempat ruku dan sujud. Sultan Alauddin menjadikannya pusat penyebaran agama bagi masyarakat di bawah payung Kerajaan Kembar: Gowa dan Tallo.

Bahkan, tokoh besar seperti Syekh Yusuf Al Makassari, ulama yang pengaruhnya sampai ke Afrika Selatan, dibesarkan oleh Sultan Alauddin di lingkungan masjid ini sebelum ia berkelana ke Banten dan Aceh.

Tidak hanya itu, tiga ulama besar asal Minangkabau yang masyhur sebagai penyebar Islam pertama di Sulsel—Datuk ri Tiro, Datuk Ribandang, dan Datuk Patimang—pernah menggunakan mimbar masjid ini untuk berdakwah.

Benteng Terakhir Pasca-Perjanjian Bongaya

Ada kisah heroik sekaligus memilukan di balik tembok tebal Katangka. Titik balik Kerajaan Gowa terjadi saat Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667 bersama Jenderal Cornelis Speelman dari VOC.

BACA JUGA: 
Masjid Tua Gantarang Lalang Bata, Jejak Awal Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan

Perjanjian tersebut sejatinya adalah “deklarasi” kekalahan yang berujung pada penghancuran benteng-benteng pertahanan Gowa di pesisir Makassar.

Namun, di tengah amuk penghancuran istana dan benteng oleh Belanda, Masjid Tua Katangka menjadi tempat perlindungan terakhir.

“Keturunan Raja Gowa dan pasukannya berlindung di lingkungan Masjid Tua setelah istana dan bentengnya dihancurkan Belanda. Ajaibnya, masjid ini sama sekali tidak disentuh oleh penjajah Belanda,” ungkap Harun.

Akulturasi Budaya dan Simbol Rukun Islam

Arsitektur Masjid Tua Katangka menyimpan keunikan tersendiri. Nama “Katangka” sendiri diambil dari nama pohon yang kayunya digunakan sebagai struktur awal bangunan sebelum akhirnya dipugar menjadi tembok.

Secara visual, pengaruh gaya arsitektur Tiongkok sangat kental terasa pada bagian atap mimbar yang memiliki ukiran khas serupa kelenteng.

Sementara itu, jendela masjid yang berjumlah enam buah melambangkan enam Rukun Iman, dan lima pintu masuk utamanya melambangkan lima Rukun Islam.

Yang tak kalah menarik adalah inskripsi pada jendela-jendela masjid. Terdapat ukiran aksara Arab namun ditulis dalam bahasa Makassar, serta berbagai catatan sejarah yang diukir di batu pada bagian mihrab dan pintu, menceritakan sosok-sosok kerajaan yang berjasa dalam pembangunan masjid.

BACA JUGA: 
Masjid Tua Gantarang Lalang Bata, Jejak Awal Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan

Meski tetap mempertahankan ruh aslinya, masjid ini tercatat telah mengalami enam kali renovasi besar, dari tahun 1816 masa kepemimpinan Raja Gowa XXX, Sultan Abdul Rauf, lalu di tahun 1884, di masa Raja Gowa XXXII, Sultan Abdul Kadir, hingga di era tahun 2000-an dengan bantuan Pemprov Sulawesi Selatan.

Hingga kini, Masjid Tua Katangka tetap berdiri tegak. Ia dikelilingi oleh makam para Raja Gowa, dan hanya sejengkal dari makam Sultan Hasanuddin di kompleks Palantikang.

Bagi siapa saja yang berkunjung, masjid ini memberikan pesan kuat bahwa meski kekuasaan politik bisa runtuh, namun nilai spiritual dan iman akan tetap abadi melintasi zaman. (mna)

SulawesiPos.com – Di bilangan Jalan Syekh Yusuf, yang menjadi garis pembatas antara hiruk-pikuk Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, berdiri sebuah monumen sejarah yang tak lekang oleh zaman.

Masjid Al Hilal Katangka, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Tua Katangka, bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah jantung dari narasi besar masuknya Islam di tanah Sulawesi Selatan.

Nama “Al Hilal” yang berarti bulan muda dalam bahasa Arab, secara filosofis dimaknai sebagai fajar baru bagi Kerajaan Gowa.

Kehadiran masjid ini menandai masa transisi besar di mana Islam mulai menjadi napas bagi pemerintahan dan masyarakat di bawah kekuasaan Kerajaan Gowa.

Warisan Sultan Alauddin yang Tak Tersentuh Penjajah

Masjid agung ini didirikan pada tahun 1603 oleh Sultan Alauddin, Raja Gowa ke-14 sekaligus penguasa pertama yang memeluk Islam. Sosoknya merupakan kakek dari pahlawan nasional kebanggaan kita, Sultan Hasanuddin.

Harun Rahman Daeng Ngella (41), pengurus masjid yang juga merupakan keturunan dari pengurus masjid terdahulu, menjelaskan betapa bangunan ini sangat dijaga keasliannya.

BACA JUGA: 
Masjid Tua Gantarang Lalang Bata, Jejak Awal Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan

Tembok masjid yang memiliki ketebalan luar biasa, yakni 120 centimeter, hingga saat ini masih berdiri kokoh menopang atap dengan bantuan tiang besi padat.

“Kita harus mempertahankan bentuk keasliannya, karena bangunan ini dilindungi Undang-Undang Kepurbakalaan. Ini adalah saksi sejarah awal mula Islam menyebar di Sulawesi Selatan,” tegas Harun.

Pusat Peradaban dan “Rumah” Bagi Para Wali

Di abad ke-17, masjid ini bukan sekadar tempat ruku dan sujud. Sultan Alauddin menjadikannya pusat penyebaran agama bagi masyarakat di bawah payung Kerajaan Kembar: Gowa dan Tallo.

Bahkan, tokoh besar seperti Syekh Yusuf Al Makassari, ulama yang pengaruhnya sampai ke Afrika Selatan, dibesarkan oleh Sultan Alauddin di lingkungan masjid ini sebelum ia berkelana ke Banten dan Aceh.

Tidak hanya itu, tiga ulama besar asal Minangkabau yang masyhur sebagai penyebar Islam pertama di Sulsel—Datuk ri Tiro, Datuk Ribandang, dan Datuk Patimang—pernah menggunakan mimbar masjid ini untuk berdakwah.

Benteng Terakhir Pasca-Perjanjian Bongaya

Ada kisah heroik sekaligus memilukan di balik tembok tebal Katangka. Titik balik Kerajaan Gowa terjadi saat Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667 bersama Jenderal Cornelis Speelman dari VOC.

BACA JUGA: 
Masjid Tua Katangka: Jejak Sejarah dan Perpaduan Budaya di Peninggalan Kerajaan Gowa

Perjanjian tersebut sejatinya adalah “deklarasi” kekalahan yang berujung pada penghancuran benteng-benteng pertahanan Gowa di pesisir Makassar.

Namun, di tengah amuk penghancuran istana dan benteng oleh Belanda, Masjid Tua Katangka menjadi tempat perlindungan terakhir.

“Keturunan Raja Gowa dan pasukannya berlindung di lingkungan Masjid Tua setelah istana dan bentengnya dihancurkan Belanda. Ajaibnya, masjid ini sama sekali tidak disentuh oleh penjajah Belanda,” ungkap Harun.

Akulturasi Budaya dan Simbol Rukun Islam

Arsitektur Masjid Tua Katangka menyimpan keunikan tersendiri. Nama “Katangka” sendiri diambil dari nama pohon yang kayunya digunakan sebagai struktur awal bangunan sebelum akhirnya dipugar menjadi tembok.

Secara visual, pengaruh gaya arsitektur Tiongkok sangat kental terasa pada bagian atap mimbar yang memiliki ukiran khas serupa kelenteng.

Sementara itu, jendela masjid yang berjumlah enam buah melambangkan enam Rukun Iman, dan lima pintu masuk utamanya melambangkan lima Rukun Islam.

Yang tak kalah menarik adalah inskripsi pada jendela-jendela masjid. Terdapat ukiran aksara Arab namun ditulis dalam bahasa Makassar, serta berbagai catatan sejarah yang diukir di batu pada bagian mihrab dan pintu, menceritakan sosok-sosok kerajaan yang berjasa dalam pembangunan masjid.

BACA JUGA: 
Masjid Tua Gantarang Lalang Bata, Jejak Awal Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan

Meski tetap mempertahankan ruh aslinya, masjid ini tercatat telah mengalami enam kali renovasi besar, dari tahun 1816 masa kepemimpinan Raja Gowa XXX, Sultan Abdul Rauf, lalu di tahun 1884, di masa Raja Gowa XXXII, Sultan Abdul Kadir, hingga di era tahun 2000-an dengan bantuan Pemprov Sulawesi Selatan.

Hingga kini, Masjid Tua Katangka tetap berdiri tegak. Ia dikelilingi oleh makam para Raja Gowa, dan hanya sejengkal dari makam Sultan Hasanuddin di kompleks Palantikang.

Bagi siapa saja yang berkunjung, masjid ini memberikan pesan kuat bahwa meski kekuasaan politik bisa runtuh, namun nilai spiritual dan iman akan tetap abadi melintasi zaman. (mna)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru