Ketertarikannya pada Paskibraka bermula ketika ia kecil dan sering ikut mendampingi sang kakak berlatih. Dari sana, Taswina melihat secara langsung proses latihan hingga pelaksanaan pengibaran bendera di Kabupaten Bone.
Sang kakak kemudian menjadi inspirator terbesarnya.
“Kakaknya (Taslinda) juga merupakan anggota Paskibraka Nasional 2005 di mana dia juga mewakili Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan,” kata Taslim kepada SulawesiPos.com.
Ia juga mengaku, menerapkan disiplin untuk putrinya. Ada jam tertentu bagi Taswina untuk tidak menggunakan gadget. Jam tersebut harus digunakan untuk belajar.
Kini, sejarah itu seolah kembali berulang. Jika sang kakak pernah membawa nama Bone dan Sulsel ke tingkat nasional pada 2005, Taswina kini mendapat kesempatan yang sama.
Untuk sampai ke tahap ini, Taswina harus membagi waktu antara pendidikan dan latihan. Selain aktif di Paskibra, ia juga pernah mengikuti Pramuka, seni tari dan marching band. Ia juga memiliki hobi bermain badminton dan menari.
Baginya, Paskibraka bukan hanya tentang baris-berbaris. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk membentuk karakter, kedisiplinan, mental kepemimpinan dan kemampuan bekerja dalam tim.
Taswina pun telah menyiapkan mimpi untuk masa depannya. Akademi Kepolisian menjadi pilihan utama, sementara menjadi pramugari menjadi pilihan keduanya.
Dan di setiap langkah itu, ada doa Taslim dan Wahidah yang terus mengiringi. Sebab bagi kedua orang tua tersebut, melihat putrinya berani mengejar mimpi sudah menjadi kebanggaan tersendiri.
Taswina boleh berdiri paling depan di barisan, tetapi di belakang setiap langkahnya, ada orang tua yang tak pernah berhenti memberi doa dan dukungan. (kar)

