SulawesiPos.com – Ketua DPRD Bone Andi Tenri Walinonong membantah tuduhan bahwa dirinya melempar bosara berisi kue dan botol ke arah seorang staf Sekretariat DPRD Bone dalam insiden yang kini menjadi sorotan publik, Kamis, 23 Juli 2026.
Dalam klarifikasi yang disampaikan lewat WhatsApp, ia menegaskan benda yang dilempar saat itu tidak diarahkan ke korban, melainkan ke tanah sebagai luapan emosi.
“Waalaikum salam. Langsungmaki sama saksi untuk lebih jelasnya karena takutnya keterangan yang saya berikan tidak sesuai fakta di TKP, k’ tabe,” tulis Andi Tenri Walinonong saat dikonfirmasi.
Membantah Pelemparan
Meski meminta keterangan saksi dijadikan rujukan utama, Andi Tenri tetap memberi versinya atas peristiwa tersebut.
Ia membantah ada pelemparan bosara ke wajah staf bernama Yuli maupun pelemparan botol ke tubuh pelapor.
“Pada intinya tidak ada insiden pelemparan bosara di wajahnya Yuli dan pelemparan botol di badannya. Semua itu tidak benar karena pada saat itu saya melemparkan ke arah tanah sebagai bentuk kekesalan,” ujarnya.
Pernyataan itu muncul di tengah polemik dugaan penganiayaan yang menyeret nama Ketua DPRD Bone.
Perbedaan keterangan antara pihak yang melapor dan pihak terlapor diperkirakan menjadi bagian penting dalam proses klarifikasi lanjutan oleh pihak berwenang.
Andi Tenri juga menekankan pentingnya kesaksian orang-orang yang berada di lokasi.
Menurut dia, keterangan saksi langsung lebih tepat dijadikan acuan dibanding spekulasi yang berkembang di luar tempat kejadian.
Bosara Jadi Sorotan dalam Polemik
Bosara yang disebut dalam dugaan insiden itu merupakan wadah tradisional khas Bugis-Makassar yang lazim dipakai untuk menyajikan makanan, terutama kue-kue tradisional, kepada tamu dalam acara adat, penyambutan, maupun kegiatan seremonial di Sulawesi Selatan.
Karena itu, penyebutan bosara dalam kasus ini ikut menarik perhatian publik, bukan hanya karena posisi Andi Tenri sebagai Ketua DPRD Bone, tetapi juga karena benda tersebut identik dengan simbol jamuan adat dan penghormatan dalam tradisi lokal.
Hingga Jumat, 24 Juli 2026, belum ada titik temu antara bantahan pihak terlapor dan tuduhan yang beredar.
Klarifikasi para saksi diperkirakan akan menjadi penentu untuk memotret kronologi secara utuh.


