Proyek Irigasi Rp29,8 Miliar di Takalar Diduga Mangkrak, Warga Keluhkan Saluran Belum Rampung

SulawesiPos.com – Proyek pembangunan jaringan irigasi senilai Rp29,8 miliar di Kabupaten Takalar menjadi sorotan. Pasalnya, pekerjaan yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2025 itu diduga belum selesai meski masa pelaksanaan kontraknya disebut telah berakhir pada Desember 2025. Proyek tersebut merupakan pembangunan Jaringan Daerah Irigasi (DI) Pamukkulu yang berada di Kecamatan Polongbangkeng Selatan dan Kecamatan Mangarabombang.

Pelaksana kegiatan adalah PT Jaya Etika Beton di bawah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, Kementerian Pekerjaan Umum.

Hingga pertengahan 2026, sejumlah warga mengaku masih menemukan banyak bagian saluran irigasi yang belum dikerjakan secara menyeluruh.

Kondisi itu memunculkan dugaan bahwa proyek bernilai hampir Rp30 miliar tersebut belum dapat difungsikan secara maksimal untuk mendukung kebutuhan irigasi pertanian.

Salah seorang warga Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Daeng Rate, mengatakan masih terdapat beberapa ruas saluran yang hanya selesai pada tahap penggalian tanpa dilanjutkan dengan pekerjaan konstruksi permanen.

BACA JUGA:  Kejari Luwu Ungkap Peran 5 Tersangka Korupsi Program Irigasi, Ada Suami Eks Bupati Luwu Utara

Menurutnya, di wilayah Kelurahan Canrego dan Pa’bundukang masih terdapat sekitar satu kilometer saluran yang belum dipasangi pasangan batu.

Sementara di Desa Cakura, panjang saluran yang belum tuntas diperkirakan mencapai sekitar 500 meter.

Ia juga menyebutkan masih ada sejumlah titik lain yang belum terselesaikan.

“Masih ada kurang lebih 3,5 kilometer yang belum dipasang batu. Salurannya sudah digali, tetapi ditinggalkan begitu saja tanpa penyelesaian,” ujar Daeng Rate dikutip Rabu (24/6/2026).

Warga berharap pemerintah pusat maupun instansi teknis segera melakukan peninjauan terhadap progres pekerjaan tersebut.

Mereka meminta proyek yang menggunakan anggaran negara itu segera diselesaikan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh petani.

Menurut masyarakat, keterlambatan penyelesaian jaringan irigasi berdampak langsung terhadap distribusi air ke lahan pertanian.

Padahal, keberadaan saluran tersebut dinilai sangat penting untuk mendukung produktivitas sektor pertanian di wilayah Polongbangkeng Selatan dan sekitarnya.

Diketahui, proyek pembangunan Jaringan Daerah Irigasi Pamukkulu memiliki nilai kontrak sebesar Rp29.826.844.000 yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2025.

BACA JUGA:  Proyek Miliaran Wisata Green Topejawa Coastal Mangkrak, Aktivis Desak Audit Menyeluruh

Pekerjaan mencakup pembangunan jaringan irigasi di sejumlah titik yang berada di Kecamatan Polongbangkeng Selatan dan Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar.

SulawesiPos.com – Proyek pembangunan jaringan irigasi senilai Rp29,8 miliar di Kabupaten Takalar menjadi sorotan. Pasalnya, pekerjaan yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2025 itu diduga belum selesai meski masa pelaksanaan kontraknya disebut telah berakhir pada Desember 2025. Proyek tersebut merupakan pembangunan Jaringan Daerah Irigasi (DI) Pamukkulu yang berada di Kecamatan Polongbangkeng Selatan dan Kecamatan Mangarabombang.

Pelaksana kegiatan adalah PT Jaya Etika Beton di bawah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, Kementerian Pekerjaan Umum.

Hingga pertengahan 2026, sejumlah warga mengaku masih menemukan banyak bagian saluran irigasi yang belum dikerjakan secara menyeluruh.

Kondisi itu memunculkan dugaan bahwa proyek bernilai hampir Rp30 miliar tersebut belum dapat difungsikan secara maksimal untuk mendukung kebutuhan irigasi pertanian.

Salah seorang warga Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Daeng Rate, mengatakan masih terdapat beberapa ruas saluran yang hanya selesai pada tahap penggalian tanpa dilanjutkan dengan pekerjaan konstruksi permanen.

BACA JUGA:  Modus Korupsi Irigasi Toraja Utara, Kelompok Tani Didorong Beli Material Hasil Mark Up

Menurutnya, di wilayah Kelurahan Canrego dan Pa’bundukang masih terdapat sekitar satu kilometer saluran yang belum dipasangi pasangan batu.

Sementara di Desa Cakura, panjang saluran yang belum tuntas diperkirakan mencapai sekitar 500 meter.

Ia juga menyebutkan masih ada sejumlah titik lain yang belum terselesaikan.

“Masih ada kurang lebih 3,5 kilometer yang belum dipasang batu. Salurannya sudah digali, tetapi ditinggalkan begitu saja tanpa penyelesaian,” ujar Daeng Rate dikutip Rabu (24/6/2026).

Warga berharap pemerintah pusat maupun instansi teknis segera melakukan peninjauan terhadap progres pekerjaan tersebut.

Mereka meminta proyek yang menggunakan anggaran negara itu segera diselesaikan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh petani.

Menurut masyarakat, keterlambatan penyelesaian jaringan irigasi berdampak langsung terhadap distribusi air ke lahan pertanian.

Padahal, keberadaan saluran tersebut dinilai sangat penting untuk mendukung produktivitas sektor pertanian di wilayah Polongbangkeng Selatan dan sekitarnya.

Diketahui, proyek pembangunan Jaringan Daerah Irigasi Pamukkulu memiliki nilai kontrak sebesar Rp29.826.844.000 yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2025.

BACA JUGA:  Gaji Belum Dibayar, Kakek 72 Tahun di Takalar Aniaya Majikan hingga Jari Putus

Pekerjaan mencakup pembangunan jaringan irigasi di sejumlah titik yang berada di Kecamatan Polongbangkeng Selatan dan Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru