SulawesiPos.com – Inggris datang ke semifinal Piala Dunia 2026 melawan Argentina dengan kepercayaan diri tinggi, tetapi beberapa laga terakhir juga memperlihatkan celah yang bisa menjadi masalah besar saat menghadapi Lionel Messi dan kawan-kawan di Atlanta, Rabu, 15 Juli 2026 waktu setempat atau Kamis pagi, 16 Juli 2026 WITA.
Rangkaian hasil Inggris memang cukup untuk membawa mereka ke empat besar, tetapi tidak semuanya datang dengan dominasi penuh. AP mencatat Inggris menang 3-2 atas Meksiko pada fase gugur, kemudian mengalahkan Panama 2-0 di laga lain, sebelum harus bekerja sampai extra time untuk menyingkirkan Norwegia 2-1 di perempat final.
Dari rangkaian itu, ada setidaknya tiga kelemahan yang kini sulit diabaikan menjelang bentrok dengan Argentina.
Belum Benar-Benar Dominan Sejak Awal
Masalah pertama adalah Inggris belum selalu mampu mengontrol pertandingan sejak menit awal. Saat melawan Norwegia, mereka justru tertinggal lebih dulu dan harus mengejar sebelum akhirnya lolos lewat gol Jude Bellingham di extra time.
AP juga mencatat Thomas Tuchel sendiri tidak sepenuhnya puas dengan penampilan timnya dalam laga itu. Artinya, kemenangan Inggris belum otomatis menutup fakta bahwa permainan mereka masih naik turun, khususnya ketika lawan mampu memaksa duel fisik dan membuat mereka kehilangan ritme.
Menghadapi Argentina, pola seperti itu berbahaya. Jika Inggris kembali lambat panas atau membiarkan laga terbuka terlalu lama, mereka memberi ruang bagi Messi dan para gelandang Argentina untuk mengendalikan tempo.
Pertahanan Masih Bisa Ditembus
Masalah kedua adalah lini belakang Inggris belum cukup rapat. Meksiko bisa mencetak dua gol saat kalah 3-2, dan Norwegia juga sempat memimpin lebih dulu sebelum akhirnya disalip Inggris.
Itu menunjukkan Inggris masih memberi lawan celah untuk menyerang, baik lewat transisi maupun momen ketika lini pertahanan gagal menutup ruang dengan cepat. Situasi ini makin sensitif karena Inggris juga dibayangi persoalan komposisi di sektor belakang.
AP melaporkan Jarell Quansah sempat mengalami cedera engkel pada fase grup, menambah daftar masalah di area bek kanan. Walau Inggris tetap bertahan di turnamen, kondisi seperti itu menunjukkan kestabilan lini belakang mereka tidak sepenuhnya ideal menjelang semifinal.
Terlalu Bertumpu pada Bellingham dan Kane
Masalah ketiga adalah Inggris masih sangat bergantung pada dua nama utama di depan, Jude Bellingham dan Harry Kane. Saat melawan Norwegia, dua gol Inggris datang dari Bellingham. Dalam turnamen ini, AP mencatat Bellingham dan Kane sama-sama sudah mengoleksi enam gol.
Data itu menunjukkan daya gedor Inggris memang kuat, tetapi sekaligus menggarisbawahi titik rawan mereka. Bila Argentina berhasil menutup ruang Bellingham dan membatasi suplai ke Kane, Inggris bisa kehilangan pusat ancaman terbesarnya.
Dalam preview semifinal, AP menyoroti bahwa duel ini akan sangat ditentukan oleh benturan figur utama: Messi di satu sisi, lalu Bellingham dan Kane di sisi lain. Itu berarti jika dua bintang Inggris tidak mendapat ruang seperti biasanya, tim Tuchel berisiko kehilangan efisiensi pada momen-momen krusial.
Justru di situlah bahaya terbesar bagi Inggris saat menghadapi Argentina. Mereka punya kualitas, pengalaman, dan dua mesin gol yang sedang panas, tetapi beberapa pertandingan terakhir memperlihatkan permainan mereka belum benar-benar mapan, pertahanan masih bisa ditembus, dan ketergantungan pada dua nama utama masih sangat besar. Melawan juara bertahan yang terbiasa menghukum celah kecil, pola seperti itu bisa berubah menjadi beban besar.


