Lloyd’s List Intelligence juga mencatat volume lalu lintas di Bab el-Mandeb selama krisis Houthi belum kembali ke tingkat normal dan dalam sejumlah periode tetap sekitar 40 hingga 60 persen lebih rendah dibandingkan sebelum gangguan keamanan.
Bab el-Mandeb, Urat Nadi Ekonomi Dunia
Selat Bab el-Mandeb merupakan jalur sempit strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia serta menjadi pintu masuk kapal menuju Terusan Suez.
Sekitar 12 persen perdagangan dunia dalam kondisi normal melintasi jalur Laut Merah–Suez, sehingga gangguan berkepanjangan dapat memengaruhi harga energi, bahan pangan, bahan baku industri, ongkos pengiriman, dan inflasi di banyak negara.
Bagi Arab Saudi, keamanan jalur tersebut semakin penting karena ketegangan di Selat Hormuz mendorong sebagian ekspor minyak dialihkan menuju terminal-terminal Laut Merah sebelum dikirim kepada konsumen utama di Asia.
Sejumlah kapal Saudi kini memilih bergerak ke utara menuju Terusan Suez atau menggunakan jaringan pipa di sekitar Mesir, tetapi rute tersebut tetap rentan, memiliki keterbatasan kapasitas, dan dapat menambah waktu perjalanan menuju Asia hingga beberapa pekan.
Krisis pada Bab el-Mandeb juga dapat menimbulkan kerugian ekonomi jauh melampaui nilai barang yang langsung melewati selat karena terputusnya pasokan komponen produksi mampu menghambat industri dan perdagangan di negara-negara yang tidak menggunakan jalur tersebut secara langsung.
Koalisi Baru Berhadapan dengan Tumpang-Tindih Operasi
Koalisi pimpinan Saudi akan berjalan berdampingan dengan Operasi Aspides yang diluncurkan Uni Eropa pada Februari 2024 untuk mengawal kapal dagang dan meningkatkan kesadaran situasional maritim di Laut Merah.
Belum dijelaskan secara terperinci bagaimana pembagian wilayah operasi, rantai komando, pertukaran informasi, dan koordinasi koalisi Saudi dengan Aspides maupun misi keamanan maritim lainnya akan diterapkan.
Ketiadaan Oman dan Uni Emirat Arab dalam daftar awal pendukung juga menjadi perhatian karena kedua negara Teluk tersebut memiliki kepentingan strategis, pelabuhan utama, serta hubungan politik yang kompleks dengan para pihak dalam konflik Yaman.
Meskipun Riyadh menyebut koalisi itu murni defensif, efektivitasnya akan ditentukan oleh kemampuan negara anggota membedakan perlindungan navigasi sipil dari keterlibatan langsung dalam perang yang lebih luas.
Pembentukan koalisi menunjukkan bahwa keamanan pelayaran tidak lagi dapat ditangani hanya melalui patroli militer, tetapi juga memerlukan diplomasi, mekanisme pencegahan konflik, transparansi aturan pelibatan, dan penyelesaian politik atas perang Yaman.
Tanpa jalur diplomasi yang kredibel, pengerahan lebih banyak kapal perang berisiko menciptakan salah perhitungan yang dapat mengubah satu serangan terhadap kapal komersial menjadi konfrontasi regional dengan dampak langsung terhadap perekonomian dunia. *(Ali)*

