SulawesiPos.com – Dr Abustan SH MH, mantan Sekretaris DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sulawesi Selatan periode 2005-2010, meninggal dunia pada Minggu 26 Juli 2026 jelang tengah malam. Kabar duka itu mengemuka dalam rangkaian tulisan penghormatan yang menyebar melalui aplikasi perpesanan WA pada Senin 27 Juli 2026. Jenazahnya disemayamkan di Jakarta dan akan dimakamkan pada Senin ini, sementara kolega dan sahabat mengenangnya sebagai sosok yang lama bergerak di politik, dunia advokat, kampus, dan kepenulisan.
Abustan lahir di Bone, Sulawesi Selatan, pada 27 Mei 1962. Dari sejumlah sumber biografis yang masih bisa ditelusuri, ia menempuh pendidikan dasar hingga SMP di Bone, lalu melanjutkan sekolah di SMA Negeri 5 Makassar.
Pendidikan tingginya ditempuh di Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia, dari jenjang sarjana hingga doktor.
Sejak muda, Abustan menempatkan dunia hukum sebagai jalur utama hidupnya. Ia dikenal sebagai advokat sekaligus penasihat hukum, lalu aktif mengajar di perguruan tinggi.
Abustan pernah menjadi dosen tetap di Universitas Indonesia Timur, sementara jejak akademiknya pada tahun-tahun terakhir juga terlihat di Universitas Islam Jakarta.
Data SINTA Kemdiktisaintek masih menampilkan namanya sebagai akademisi yang produktif menulis dan menerbitkan buku-buku hukum.
Karier publik Abustan tidak berhenti di ruang kelas dan meja pengacara. Namanya pernah menonjol di panggung politik Sulawesi Selatan saat menjadi anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan periode 1999-2004 dari PAN.
Dalam fase berikutnya, ia juga dikenal sebagai mantan Sekretaris DPW PAN Sulsel periode 2005-2010, posisi yang membuat namanya lama lekat dengan dinamika internal PAN di daerah.
Selepas itu, Abustan tetap berada di ruang publik melalui jalur kelembagaan dan profesi. Ia pernah menjadi anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) periode 2013-2016.
Di luar jabatan formal tersebut, ia juga dikenal aktif di organisasi advokat dan forum alumni, sambil terus menulis opini serta buku bertema hukum, ketatanegaraan, perlindungan konsumen, dan demokrasi.
Jejak intelektualnya juga tampak dari daftar karya yang masih tercatat di pangkalan data akademik nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, namanya terhubung dengan sejumlah buku, di antaranya Filsafat Hukum Konsepsi dan Implementasi, Relasi dan Proteksi Hukum Perlindungan Konsumen, Ketatanegaraan Indonesia Perspektif Perbandingan Hukum Tata Negara, serta beberapa judul lain yang terbit pada 2023 dan 2024.
Ini menunjukkan bahwa hingga fase akhir hidupnya, Abustan tetap aktif sebagai pengajar dan penulis hukum.
Meninggalnya Abustan menutup perjalanan panjang seorang figur yang bergerak di banyak ruang sekaligus: politik, advokasi, pengajaran, dan literasi hukum.


