SulawesiPos.com – Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menanggapi rencana evaluasi hingga penutupan program studi (prodi) yang digagas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Ia menekankan bahwa setiap kebijakan di sektor pendidikan tinggi harus dijalankan secara hati-hati, transparan, serta berlandaskan kajian akademik yang kuat.
Menurut Hetifah, upaya meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri memang penting.
Namun, ia mengingatkan agar perguruan tinggi tidak diposisikan semata sebagai penyedia tenaga kerja.
“Setiap kebijakan terkait prodi harus berpijak pada kajian komprehensif, bukan sekadar merespons tren jangka pendek. Fungsi perguruan tinggi jauh lebih luas, termasuk pengembangan ilmu dasar, kebudayaan, dan daya kritis bangsa,” kata Hetifah kepada wartawan, Senin (27/4/2026).
Ia juga mengingatkan bahwa orientasi efisiensi yang berlebihan dapat mempersempit ekosistem keilmuan dan melemahkan peran strategis kampus sebagai pusat peradaban.
Hetifah menilai pendekatan yang lebih tepat dalam menyikapi prodi yang dinilai kurang relevan adalah melalui transformasi, bukan penutupan secara besar-besaran.
Langkah yang dapat ditempuh antara lain revitalisasi kurikulum, penguatan pendekatan interdisipliner, serta peningkatan keterkaitan dengan potensi daerah dan kekayaan budaya lokal.
Minta Evaluasi Transparan dan Libatkan Banyak Pihak
Lebih lanjut, DPR mendorong agar evaluasi program studi dilakukan secara berkala dan transparan, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti akademisi, industri, dan asosiasi profesi.
Sebagai mitra kerja pemerintah, Komisi X DPR RI akan mengawal kebijakan ini agar tetap terukur dan adil, sekaligus benar-benar memperkuat daya saing nasional tanpa mengorbankan masa depan ilmu pengetahuan.
Hetifah menegaskan bahwa jika penyesuaian atau penutupan prodi tetap dilakukan, maka harus disertai masa transisi yang adil.
“Jika penyesuaian harus dilakukan, maka wajib disertai masa transisi yang adil, serta perlindungan penuh bagi mahasiswa dan dosen,” pungkasnya.

