IAS vs Appi di Musda Golkar Sulsel, Siapa Pemegang Kunci Beringin?

SulawesiPos.com – Suhu politik di internal Partai Golkar Sulawesi Selatan semakin memanas menjelang Musyawarah Daerah (Musda) ke-XI.

Dua figur sentral, Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dan Munafri Arifuddin (Appi), kini menjadi sorotan utama dalam perebutan takhta kepemimpinan partai berlambang pohon beringin tersebut.

Direktur Nurani Strategic, Dr. Nurmal Idrus, saat berbincang dengan Sulawesi Pos, Jumat (24/4/2026), menilai bahwa pertarungan ini bukan sekadar perebutan kursi ketua, melainkan benturan antara pengalaman dan jaringan senior melawan regenerasi dan kekuasaan aktif.

Langkah IAS mengumpulkan pemilik suara sesaat setelah bertemu pengurus DPP dan Ketum dianggap sebagai strategi top-down dan bottom-up yang sangat sinkron.

Menurut Nurmal Idrus, pertemuan dengan pusat memberikan IAS bekal informasi dan sinyal politik yang kuat untuk ditunjukkan kepada daerah bahwa ia adalah jembatan paling kredibel antara kebijakan Jakarta dan keinginan lokal.

“Langkah mengumpulkan pemilik suara malam ini adalah finalisasi lobi. Ia kemungkinan besar akan menyampaikan hasil pertemuan dengan Ketum sebagai garansi untuk meyakinkan para pemilik suara agar tetap berada di barisannya,” ujar Nurmal.

BACA JUGA: 
Lantik 6.032 RT/RW Se-Makassar, Munafri: Fokus pada Amanah dan Pelayanan Masyarakat

Nurmal menyebut IAS sedang memainkan peran sebagai kandidat yang paling siap pakai karena menggabungkan elemen jaringan, kapabilitas, dan kegunaan politik.

Pengalaman IAS memimpin dua partai besar sebelumnya menjadi bukti kemampuan manajemen konflik dan pemahaman mendalam terhadap anatomi politik di Sulawesi Selatan. Bahkan, ambisi IAS untuk maju di Pilgub justru menjadi jaminan investasi bagi DPP.

“Logika DPP, jika IAS ingin jadi Gubernur, dia pasti akan memastikan partai ini besar agar bisa mengusungnya. Calon yang akan maju biasanya akan bekerja ekstra keras untuk menghidupkan mesin partai demi kepentingan pribadinya sendiri, yang secara otomatis menguntungkan perolehan suara partai secara keseluruhan,” ungkap Nurmal.

Di sisi lain, Munafri Arifuddin atau Appi bergerak dengan momentum kemenangan dan soliditas dukungan riil dari tingkat bawah.

Meskipun Appi unggul dalam dukungan DPD II, ia tetap menghadapi tantangan besar dalam hal pengalaman manajerial di tingkat provinsi dibandingkan IAS.

Nurmal mengingatkan bahwa politik Golkar seringkali berubah di menit-menit akhir jika terjadi intervensi langsung dari puncak pohon beringin di Jakarta.

BACA JUGA: 
Appi Pangkas Anggaran Rp60 Miliar di 2026, Perjalanan Dinas dan Randis Jadi Sasaran

Tantangan bagi Appi adalah menjaga soliditas 21 DPD II yang diklaim berada di barisannya agar tidak goyah oleh dinamika injury time tersebut.

Jika Appi mampu mempertahankan dukungan tersebut, jabatan Ketua Golkar Sulsel akan menjadi batu loncatan sempurna baginya untuk menyaingi ambisi Pilgub IAS.

Namun, IAS yang sudah sangat berpengalaman dalam urusan lobi menit terakhir dan mitigasi kebuntuan Musda tentu bukan lawan yang mudah ditaklukkan.

“Pertempuran ini pada akhirnya adalah soal regenerasi dan kekuasaan aktif melawan pengalaman dan jaringan senior. Pernah ikut Musda berarti ia sudah khatam dengan pola-pola lobi menit terakhir, pengamanan suara, hingga mitigasi jika terjadi kebuntuan,” tutup mantan Ketua KPU Kota Makassar ini. (mna)

SulawesiPos.com – Suhu politik di internal Partai Golkar Sulawesi Selatan semakin memanas menjelang Musyawarah Daerah (Musda) ke-XI.

Dua figur sentral, Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dan Munafri Arifuddin (Appi), kini menjadi sorotan utama dalam perebutan takhta kepemimpinan partai berlambang pohon beringin tersebut.

Direktur Nurani Strategic, Dr. Nurmal Idrus, saat berbincang dengan Sulawesi Pos, Jumat (24/4/2026), menilai bahwa pertarungan ini bukan sekadar perebutan kursi ketua, melainkan benturan antara pengalaman dan jaringan senior melawan regenerasi dan kekuasaan aktif.

Langkah IAS mengumpulkan pemilik suara sesaat setelah bertemu pengurus DPP dan Ketum dianggap sebagai strategi top-down dan bottom-up yang sangat sinkron.

Menurut Nurmal Idrus, pertemuan dengan pusat memberikan IAS bekal informasi dan sinyal politik yang kuat untuk ditunjukkan kepada daerah bahwa ia adalah jembatan paling kredibel antara kebijakan Jakarta dan keinginan lokal.

“Langkah mengumpulkan pemilik suara malam ini adalah finalisasi lobi. Ia kemungkinan besar akan menyampaikan hasil pertemuan dengan Ketum sebagai garansi untuk meyakinkan para pemilik suara agar tetap berada di barisannya,” ujar Nurmal.

BACA JUGA: 
Dapat Sinyal dari DPP, IAS Undang Pemilik Suara Musda Golkar di Kediamannya

Nurmal menyebut IAS sedang memainkan peran sebagai kandidat yang paling siap pakai karena menggabungkan elemen jaringan, kapabilitas, dan kegunaan politik.

Pengalaman IAS memimpin dua partai besar sebelumnya menjadi bukti kemampuan manajemen konflik dan pemahaman mendalam terhadap anatomi politik di Sulawesi Selatan. Bahkan, ambisi IAS untuk maju di Pilgub justru menjadi jaminan investasi bagi DPP.

“Logika DPP, jika IAS ingin jadi Gubernur, dia pasti akan memastikan partai ini besar agar bisa mengusungnya. Calon yang akan maju biasanya akan bekerja ekstra keras untuk menghidupkan mesin partai demi kepentingan pribadinya sendiri, yang secara otomatis menguntungkan perolehan suara partai secara keseluruhan,” ungkap Nurmal.

Di sisi lain, Munafri Arifuddin atau Appi bergerak dengan momentum kemenangan dan soliditas dukungan riil dari tingkat bawah.

Meskipun Appi unggul dalam dukungan DPD II, ia tetap menghadapi tantangan besar dalam hal pengalaman manajerial di tingkat provinsi dibandingkan IAS.

Nurmal mengingatkan bahwa politik Golkar seringkali berubah di menit-menit akhir jika terjadi intervensi langsung dari puncak pohon beringin di Jakarta.

BACA JUGA: 
Sidak MPP, Wali Kota Makassar Tegur Pegawai PTSP yang Merokok Saat Jam Pelayanan

Tantangan bagi Appi adalah menjaga soliditas 21 DPD II yang diklaim berada di barisannya agar tidak goyah oleh dinamika injury time tersebut.

Jika Appi mampu mempertahankan dukungan tersebut, jabatan Ketua Golkar Sulsel akan menjadi batu loncatan sempurna baginya untuk menyaingi ambisi Pilgub IAS.

Namun, IAS yang sudah sangat berpengalaman dalam urusan lobi menit terakhir dan mitigasi kebuntuan Musda tentu bukan lawan yang mudah ditaklukkan.

“Pertempuran ini pada akhirnya adalah soal regenerasi dan kekuasaan aktif melawan pengalaman dan jaringan senior. Pernah ikut Musda berarti ia sudah khatam dengan pola-pola lobi menit terakhir, pengamanan suara, hingga mitigasi jika terjadi kebuntuan,” tutup mantan Ketua KPU Kota Makassar ini. (mna)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru