SulawesiPos.com – Tim Nasional Iran harus menunda kepastian lolos ke fase gugur Piala Dunia 2026 setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan Mesir pada laga terakhir grup yang berlangsung Sabtu (27/6/2026). Keputusan Video Assistant Referee (VAR) yang menganulir gol kemenangan Shoja Khalilzadeh pada masa tambahan waktu memicu perdebatan luas di kalangan pengamat, mantan pemain dunia, hingga media internasional.
Informasi pertandingan pertama kali dilaporkan Hamshahri Online pada 27 Juni 2026, sementara analisis teknis mengenai keputusan offside turut dimuat The New York Times pada hari yang sama.
Iran sebenarnya dua kali berhasil membobol gawang Mesir sepanjang pertandingan, tetapi hanya satu gol yang disahkan sehingga laga berakhir dengan skor imbang.
Gol kontroversial terjadi pada menit ke-93 ketika Shoja Khalilzadeh menyambar bola muntah hasil tembakan Mohammad Ghorbani yang lebih dahulu ditepis kiper Mesir.
Wasit semula mengesahkan gol tersebut sebelum kemudian meninjau ulang melalui VAR.
Setelah pemeriksaan berlangsung beberapa menit, wasit memutuskan menganulir gol karena Khalilzadeh dinilai telah berada dalam posisi offside saat tembakan pertama dilepaskan.
Menurut analisis The New York Times yang dipublikasikan pada 27 Juni 2026, penentuan offside tidak dihitung ketika Khalilzadeh mencetak gol dari bola pantul, melainkan sejak momen awal Ghorbani melepaskan tendangan ke arah gawang.
Media tersebut menjelaskan bahwa dalam hukum permainan sepak bola, seorang pemain dinyatakan berada dalam posisi onside apabila masih terdapat sedikitnya dua pemain lawan di antara dirinya dan garis gawang saat umpan atau tembakan pertama dilakukan.
Pada situasi tersebut, hanya terdapat satu pemain Mesir yang berada di belakang Khalilzadeh sehingga secara teknis bek Iran itu telah memasuki posisi offside.
Rekaman VAR bahkan menunjukkan ujung kaki Khalilzadeh berada beberapa sentimeter melewati garis pemain bertahan terakhir sehingga keputusan pembatalan gol dinyatakan sesuai dengan ketentuan Laws of the Game yang diterbitkan International Football Association Board (IFAB).
Secara regulasi, bola pantul hasil penyelamatan kiper tidak menghapus posisi offside apabila pemain yang menerima bola telah lebih dahulu berada dalam posisi offside ketika tembakan awal dilakukan.
VAR Kembali Menjadi Sorotan Dunia
Meski penjelasan teknis telah disampaikan, keputusan tersebut justru memunculkan gelombang perdebatan baru mengenai penerapan teknologi VAR dalam pertandingan sepak bola level tertinggi.
Mantan penyerang legendaris Swedia, Zlatan Ibrahimovic, yang menjadi analis pertandingan di Fox Sports, menjadi salah satu tokoh paling vokal mengkritik keputusan tersebut sebagaimana dikutip berbagai media internasional, termasuk laporan Corriere dello Sport pada 27 Juni 2026.
Menurut Ibrahimovic, teknologi VAR semestinya digunakan untuk menghilangkan kesalahan yang nyata, bukan justru menciptakan kontroversi yang lebih besar dalam pertandingan paling bergengsi di dunia.
Ia menyatakan telah berulang kali meninjau tayangan ulang insiden tersebut namun tetap belum meyakini bahwa gol Khalilzadeh layak dinyatakan offside.
Zlatan juga menilai keputusan yang menentukan nasib sebuah negara di Piala Dunia seharusnya hanya diambil apabila benar-benar tidak menyisakan sedikit pun keraguan.
Mantan striker AC Milan dan Paris Saint-Germain itu mengingatkan bahwa kompleksitas penerapan aturan offside modern mulai menjauhkan sepak bola dari kesederhanaan yang selama puluhan tahun menjadi daya tarik utama olahraga tersebut.
Ia bahkan menyebut jutaan pendukung Iran sempat merayakan gol yang mereka yakini menjadi momen bersejarah sebelum kebahagiaan itu sirna hanya beberapa detik kemudian akibat keputusan VAR.
Menurut Ibrahimovic, teknologi tidak boleh dijadikan tameng untuk menghindari akuntabilitas para pengadil pertandingan apabila keputusan yang dihasilkan masih memunculkan keraguan publik.
Henry Minta Kepastian Absolut dalam Penggunaan VAR
Pandangan kurang lebih sama disampaikan mantan penyerang Prancis, Thierry Henry, yang mengakui secara teknis keputusan wasit dapat dijelaskan melalui penerapan hukum offside modern.
Namun demikian, Henry tetap mengaku prihatin terhadap dampak emosional yang harus diterima para pemain dan pendukung Iran akibat dianulirnya gol pada detik-detik terakhir pertandingan.
Dalam komentarnya, Henry menegaskan bahwa pemain telah mengorbankan segalanya demi tampil di Piala Dunia sehingga setiap keputusan VAR harus benar-benar akurat tanpa menyisakan ruang keraguan.
Ia menilai penderitaan para pemain Iran tidak hanya berasal dari hilangnya satu gol, melainkan dari lenyapnya kesempatan mencatat salah satu momen terbesar dalam sejarah sepak bola nasional mereka.
Henry juga mengingatkan bahwa apabila kontroversi serupa dapat terjadi terhadap Iran, maka seluruh peserta Piala Dunia berpotensi mengalami nasib yang sama.
Evaluasi Teknologi Demi Menjaga Integritas Sepak Bola
Perdebatan mengenai gol Iran menambah panjang daftar kontroversi penggunaan VAR sejak teknologi tersebut diperkenalkan secara resmi dalam kompetisi elite FIFA beberapa tahun terakhir.
Di sisi lain, mayoritas pakar hukum sepak bola menegaskan bahwa keputusan dalam pertandingan Iran kontra Mesir tetap konsisten dengan ketentuan IFAB mengenai interpretasi posisi offside pada situasi bola pantul hasil penyelamatan penjaga gawang.
Peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dalam sepak bola harus selalu diiringi transparansi, komunikasi yang mudah dipahami publik, dan evaluasi berkelanjutan agar tujuan utama VAR, yakni menghadirkan keadilan dalam pertandingan, tetap terjaga tanpa mengurangi esensi permainan yang sederhana, emosional, dan mampu menyatukan jutaan manusia di seluruh dunia. (Ali)


