Oleh: Prof. Dr. Ir. Khusnul Yaqin, M.Sc
Guru Besar Ilmu Ekotoksikologi Perairan di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas.
SulawesiPos.com – Peningkatan posisi Universitas Hasanuddin dalam Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) seyogianya tidak dipahami sebagai ikhtiar mengejar angka peringkat semata.
Peringkat hanyalah manifestasi kuantitatif dari sesuatu yang lebih mendasar yang terpenting adalah kapasitas sebuah universitas dalam menghasilkan pengetahuan, mendidik generasi akademik berikutnya, membangun lingkungan riset yang produktif, serta menghadirkan pengaruh intelektual yang diakui komunitas akademik dunia.
THE WUR 2027 memberi bobot terbesar pada Research Quality 30%, Teaching 29,5%, dan Research Environment 29%. Tiga kelompok ini saja mencakup 88,5% skor.
International Outlook hanya 7,5% dan Industry 4%. Karena itu, apabila Universitas Hasanuddin berkehendak meningkatkan posisinya secara signifikan dalam THE WUR, yang diperlukan bukanlah program pemeringkatan, melainkan transformasi kelembagaan menuju universitas riset yang bereputasi global.
Urgensi transformasi tersebut menjadi semakin jelas apabila struktur metodologi THE WUR diperhatikan.
Sebagian besar bobot penilaian bertumpu pada tiga pilar utama, yakni Teaching, Research Environment, dan Research Quality.
Dua pilar yang berkaitan langsung dengan riset Research Environment dan Research Quality bahkan mencakup sekitar 59% keseluruhan penilaian.
Dengan demikian, kenaikan yang substansial dalam THE WUR hampir mustahil dicapai hanya melalui perbaikan administrasi pemeringkatan, peningkatan jumlah kerja sama, atau pertumbuhan publikasi secara kuantitatif.
Titik intervensi strategisnya harus berada pada kualitas, produktivitas, pengaruh, dan reputasi riset.
Dari Kuantitas Publikasi Menuju Pengaruh Ilmiah
Perubahan pertama yang diperlukan adalah menggeser paradigma kebijakan publikasi.
Selama bertahun-tahun, kinerja akademik di banyak perguruan tinggi cenderung diterjemahkan menjadi pertanyaan sederhana: berapa artikel yang berhasil diterbitkan?
Pertanyaan itu perlu diubah menjadi: seberapa penting artikel yang kita hasilkan bagi perkembangan pengetahuan dunia?
THE WUR tidak hanya memperhitungkan produktivitas riset, tetapi juga citation impact, research strength, research excellence, dan research influence.
Karena itu, pertumbuhan jumlah publikasi tanpa pertumbuhan pengaruh ilmiah hanya akan menghasilkan peningkatan yang terbatas.
Universitas Hasanuddin perlu menggeser orientasi dari publication-driven university menuju impact-driven research university.
Konsekuensinya cukup mendasar. Target institusional tidak lagi semata-mata berupa jumlah artikel Scopus atau artikel Q1, melainkan peningkatan field-weighted citation impact, proporsi publikasi dalam kelompok artikel yang paling banyak disitasi di dunia, publikasi pada jurnal yang benar-benar berpengaruh dalam bidangnya, serta karya yang mengubah cara komunitas ilmiah memahami suatu persoalan.
Membangun Keunggulan yang Tidak Mudah Ditiru
Universitas Hasanuddin tidak perlu menjadi replika universitas besar lain di Indonesia. Justru diferensiasi akademik merupakan prasyarat reputasi global.
Secara geografis dan ekologis, Unhas berada pada salah satu kawasan paling menarik di dunia: Sulawesi, Wallacea, dan jantung Coral Triangle.
Di sekelilingnya terdapat biodiversitas daratan dan laut, ekosistem tropis, masyarakat kepulauan, perikanan, pertanian tropis, persoalan kesehatan, pangan, perubahan iklim, pencemaran, dan dinamika sosial yang tidak sepenuhnya dapat dipelajari dari laboratorium di Eropa ataupun Amerika Utara.
Keadaan ini seharusnya ditransformasikan menjadi keunggulan epistemik.
Unhas perlu menetapkan sejumlah terbatas flagship research themes yang memunyai peluang menjadi rujukan dunia.
Alih-alih membagi perhatian secara terlalu tipis kepada ratusan tema, universitas dapat mengonsentrasikan sumber daya pada sekitar 10–15 tema strategis yang mempertemukan kekuatan akademik Unhas dengan persoalan global.
Salah satunya, misalnya, dapat berupa Tropical Marine Biodiversity, Pollution and Aquatic Ecotoxicology, yang mengintegrasikan biodiversitas laut tropis, organisme model endemik, pencemaran pesisir, mikroplastik, unsur logam toksik dan PTEs, organisme sentinel, biomarker, perubahan iklim, serta kesehatan ekosistem.
Prinsip yang sama dapat diterapkan pada bidang kesehatan tropis, pangan, pertanian, kebencanaan, biodiversitas Wallacea, ekonomi maritim, masyarakat kepulauan, dan bidang strategis lainnya.
Tujuannya bukan sekadar menghasilkan pusat studi baru. Tujuan yang lebih penting ialah membentuk asosiasi intelektual.
Ketika komunitas internasional berbicara mengenai Wallacea, biodiversitas Sulawesi, Coral Triangle, masyarakat kepulauan, atau ekosistem laut tropis, nama Hasanuddin University seyogianya muncul secara alamiah dalam ingatan akademik mereka.
Mengubah Kerja Sama Internasional dari MoU Menjadi Produksi Pengetahuan
Internasionalisasi juga memerlukan perubahan paradigma. Banyaknya memorandum kerja sama tidak dengan sendirinya menunjukkan intensitas internasionalisasi sebuah universitas.
Kerja sama baru memunyai arti akademik apabila menghasilkan aktivitas intelektual yang nyata.
Karena itu, ukuran keberhasilan kerja sama internasional seharusnya bergeser dari berapa MoU yang ditandatangani menjadi berapa pengetahuan baru yang diproduksi bersama yang memunyai impact global.
Setiap kerja sama strategis seyogianya diarahkan pada keluaran yang dapat diukur: publikasi bersama, joint supervision, pertukaran mahasiswa doktoral, intercalibration laboratory, proposal pendanaan internasional, penggunaan fasilitas riset bersama, pertukaran peneliti, atau pembentukan konsorsium internasional.
Demikian pula visiting professor dan adjunct professor tidak semestinya berhenti sebagai gelar administratif.
Akademisi internasional yang berafiliasi dengan Unhas perlu ditempatkan di dalam ekosistem riset: membimbing mahasiswa, mengembangkan proposal, menulis bersama, membuka jejaring laboratorium, dan membawa kelompok riset Unhas memasuki komunitas akademik internasional.
Dengan cara demikian, satu kebijakan internasionalisasi dapat sekaligus meningkatkan kualitas riset, kolaborasi internasional, visibilitas institusi, dan pada akhirnya reputasi akademik.
Menjadikan Pendidikan Doktoral, Magister, dan Sarjana sebagai Mesin Produksi Pengetahuan
Transformasi menuju universitas riset menuntut perubahan mendasar dalam cara memandang mahasiswa doktoral.
Program doktor tidak semestinya diposisikan hanya sebagai jenjang pendidikan tertinggi, sebab dalam universitas riset, mahasiswa doktoral merupakan bagian integral dari tenaga riset.
Oleh karena itu, mahasiswa doktoral maupun magister perlu dipersiapkan sebagai pekerja riset yang mampu menghasilkan pengetahuan baru dengan dampak positif secara global.
Penyelesaian administrasi studi dengan demikian tidak menjadi titik akhir kegiatan riset mereka.
Setelah menyelesaikan studi, mereka harus tetap didorong untuk melanjutkan dan mengembangkan riset melalui produksi artikel ilmiah maupun prototipe teknologi, sehingga kontribusi mereka terhadap pengembangan pengetahuan terus berlanjut.
Setiap mahasiswa doktoral idealnya sejak awal bergabung dengan kelompok riset yang memunyai agenda penelitian berkelanjutan. Disertasi bukan proyek individual yang terisolasi, melainkan bagian dari research roadmap profesor dan kelompok risetnya.
Dengan demikian terbentuk kesinambungan intelektual: profesor membangun pertanyaan besar; mahasiswa doktoral mengembangkan bagian-bagian pertanyaan tersebut; mahasiswa magister dan sarjana terlibat pada subtema tertentu; dan keseluruhannya menghasilkan dataset, publikasi, metode, jejaring, serta generasi peneliti berikutnya.
Atmosfer di atas membutuhkan kerja esktra rektorat untuk mengevaluasi laboratorium-laboratorium yang tidak produktif.
Kepala laboratorium yang hanya tercatat namanya saja, tetapi tidak memproduksi artikel ilmiah berbasis labioratoriumnya, perlu disegarkan dengan mereka yang memunyai komitmen memproduksi ilmu baru bagi kepentingan dunia global yang linear dengan kompetensinya.
Laboratorium di Universitas Hasanuddin seyogianya tidak lagi diberi label “laboratorium pendidikan” apabila pelabelan tersebut justru membatasi pemanfaatannya untuk penelitian.
Orientasi utama seluruh laboratorium di Unhas perlu diarahkan menjadi laboratorium riset agar setiap laboratorium benar-benar siap menghasilkan pengetahuan baru.
Fungsi pendidikan dan pelayanan kepada masyarakat dengan sendirinya melekat pada laboratorium riset.
Dengan orientasi tersebut, potensi sumber daya pada setiap laboratorium dapat dimaksimalkan untuk mendukung produksi ilmu baru.
Sebaliknya, apabila masih ada laboratorium yang hanya diperuntukkan bagi pendidikan dan/atau pelayanan kepada masyarakat, tingkat pemanfaatannya akan sangat rendah, yang pada hakikatnya merupakan pemborosan sumber daya.
Praktikum, misalnya, hanya dilaksanakan satu kali dalam setahun, sementara sumber daya laboratorium semestinya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kegiatan riset.
Untuk memaksimalkan fungsi laboratorium riset, setiap dosen yang tergabung dalam thematic research group yang secara genuine telah dibentuk oleh Prof. Jamaluddin Jompa (rektor Unhas) sebaiknya ditetapkan melalui surat keputusan sebagai anggota laboratorium.
Dengan begitu tidak ada lagi dosen yang menjadi “gelandangan”, dalam arti tidak terhubung dengan laboratorium.
Dengan demikian, laboratorium akan menjadi ruang intelektual yang menghidupkan diskusi antardosen maupun antara dosen dan mahasiswa.
Melalui interaksi tersebut, kegiatan penelitian, pengolahan dan penafsiran data, serta penyusunan manuskrip akan tumbuh menjadi budaya akademik yang lahir dan berkembang di laboratorium.
Dengan cara ini, perkuliahan tidak lagi menjadi penyampaian uraian yang terlepas dari pengalaman riset.
Ruang kuliah pada jenjang sarjana, magister, dan doktoral akan menjadi kelanjutan dari diskusi di laboratorium yang belum selesai, tempat pertanyaan terus dipertajam dan pemikiran dikembangkan untuk menghasilkan pengetahuan baru.
Jika ekosistem semacam ini berkembang, peningkatan jumlah doktor, produktivitas akademik, publikasi internasional, sitasi, dan kapasitas kelompok riset akan berlangsung secara simultan dan massif.
Diferensiasi Peran Akademik
Transformasi tersebut sulit berlangsung apabila seluruh dosen diperlakukan dengan pola beban kerja yang seragam.
Universitas memerlukan keberanian melakukan diferensiasi peran akademik.
Sebagian akademisi mempunyai keunggulan dalam pendidikan, sebagian dalam pengabdian dan kepemimpinan kelembagaan, sedangkan sebagian lainnya mempunyai kapasitas luar biasa dalam riset.
Kelompok terakhir perlu memperoleh ruang untuk menjadi research-intensive academics.
Peneliti yang telah menunjukkan kemampuan menghasilkan publikasi berpengaruh, membangun jejaring internasional, memperoleh pendanaan kompetitif, serta membimbing mahasiswa riset seyogianya memperoleh pengurangan beban administratif dan pengajaran tertentu. Sebagai gantinya, mereka diberikan target riset yang jauh lebih tinggi.
Kesetaraan tidak selalu berarti memberikan sumber daya yang sama kepada setiap orang.
Dalam pembangunan universitas riset, keadilan justru dapat berarti memberikan dukungan yang berbeda sesuai fungsi, kapasitas, dan kontribusi akademiknya.
Pendanaan Berbasis Potensi dan Kinerja
Prinsip yang sama berlaku terhadap pendanaan penelitian. Distribusi anggaran yang terlalu merata mungkin terlihat adil secara administratif, tetapi tidak selalu efektif secara akademik.
Unhas dapat membangun sistem pendanaan berlapis. Seed funding diberikan untuk menumbuhkan peneliti muda dan gagasan baru.
Pendanaan kompetitif diberikan kepada kelompok yang mulai berkembang.
Sementara itu, flagship research funding dalam skala jauh lebih besar diberikan kepada kelompok yang telah menunjukkan kapasitas menghasilkan penelitian berpengaruh secara internasional.
Kelompok unggul tersebut harus memperoleh akses terhadap asisten riset, mahasiswa doktoral, peneliti postdoktoral, fasilitas analisis, dukungan statistik dan bioinformatika, penyuntingan akademik, jaringan internasional, serta pendanaan publikasi secara selektif.
Untuk mewujudkan dukungan tersebut, universitas harus berani mengambil langkah revolusioner dengan menginvestasikan dana bagi pengadaan peralatan laboratorium yang andal, sehingga produksi ilmu baru yang berdampak global maupun lokal memperoleh landasan fasilitas yang kuat.
Jika keterbatasan dana menjadi kendala dalam pemutakhiran peralatan laboratorium, universitas dapat mengambil langkah strategis dengan memprioritaskan investasi pada laboratorium yang telah menunjukkan produktivitas riset yang tinggi pada setiap fakultas.
Penguatan fasilitas pada laboratorium tersebut akan meningkatkan kapasitas dan produktivitasnya, sekaligus menjadikannya penggerak bagi kemajuan laboratorium lain yang sedang berkembang.
Dengan demikian, keterbatasan dana dapat disiasati melalui investasi yang terarah, sehingga manfaatnya secara bertahap meluas ke seluruh laboratorium.
Dengan demikian universitas tidak sekadar membiayai proyek, melainkan membangun ekosistem yang memungkinkan lahirnya pengetahuan kelas dunia.
Dari Tim Pemeringkatan Menuju Research Intelligence
Unhas juga memerlukan Research Intelligence Unit yang bekerja langsung pada tingkat kebijakan universitas. Unit ini berbeda secara fundamental dari tim pemeringkatan.
Tugasnya bukan mengumpulkan data ketika THE meminta data, melainkan membaca metabolisme pengetahuan universitas secara terus-menerus.
Melalui data bibliometrik dan analisis jaringan, universitas harus mengetahui bidang apa yang sedang tumbuh, kelompok mana yang menghasilkan dampak sitasi tinggi, publikasi mana yang mulai memperoleh perhatian internasional, siapa peneliti yang berpotensi menjadi pemimpin bidang, kolaborator internasional mana yang paling produktif, serta bidang apa yang memunyai peluang berkembang menjadi keunggulan global Unhas.
Dengan demikian kebijakan riset tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada intuisi administratif, tetapi pada research intelligence.
Reputasi Tidak Dibangun dengan Promosi Semata
Salah satu unsur THE yang sulit ditingkatkan dalam waktu singkat ialah reputasi akademik. Reputasi tidak dapat dibangun hanya melalui promosi institusional. Ia merupakan akumulasi pengakuan komunitas akademik.
Karena itu, profesor dan peneliti Unhas perlu semakin hadir pada ruang tempat pengetahuan dunia diproduksi dan dinilai: sebagai editor dan Guest Editor jurnal internasional, anggota editorial board, keynote speaker, pemimpin konsorsium, anggota scientific committee, reviewer jurnal utama, serta mitra dalam proyek multinasional.
Profesor dan peneliti yang melakukan tugas ini perlu diberikan insentif agar mereka bekerja lebih produktif.
Semakin sering peneliti dunia membaca artikel Unhas, bekerja bersama peneliti Unhas, menggunakan data yang dihasilkan Unhas, bertemu akademisi Unhas dalam forum ilmiah, dan mengutip penelitian Unhas, semakin besar kemungkinan Hasanuddin University menjadi bagian dari memori kolektif komunitas akademik internasional.
Pada titik itulah reputasi tidak lagi merupakan sesuatu yang diminta. Reputasi menjadi sesuatu yang diberikan oleh orang lain.
Menjadikan Makassar Gerbang Ilmiah Indonesia Timur
Dalam jangka panjang, salah satu strategi paling kuat ialah menjadikan Makassar dan Universitas Hasanuddin sebagai global research gateway to Wallacea and the Coral Triangle.
Peneliti dunia yang ingin memahami Sulawesi, Wallacea, biodiversitas tropis, laut Indonesia, perikanan tropis, masyarakat kepulauan, perubahan iklim di kawasan tropis, ataupun persoalan lingkungan Indonesia Timur seyogianya melihat Unhas sebagai mitra ilmiah yang sukar dilewati.
Apabila posisi tersebut berhasil dibangun, berbagai indikator akan bergerak secara simultan.
Peneliti asing akan datang, mahasiswa internasional meningkat, publikasi bersama bertambah, proposal internasional berkembang, sitasi meningkat, dan reputasi institusi menguat.
Dengan kata lain, internasionalisasi tidak lagi berarti Unhas berusaha terus-menerus pergi ke dunia.
Dunia justru datang ke Unhas karena terdapat pengetahuan yang hanya dapat diperoleh secara mendalam melalui Unhas.
Dari Mengejar Peringkat Menuju Membangun Universitas
Karena itu, strategi peningkatan THE WUR sebaiknya tidak dimulai dengan pertanyaan, “Bagaimana menaikkan ranking Unhas?” Pertanyaan itu terlalu sempit.
Pertanyaan yang lebih fundamental ialah:
”Pengetahuan apa yang dapat dihasilkan Universitas Hasanuddin sehingga dunia merasa perlu membacanya, mengutipnya, bekerja sama dengannya, dan datang ke Makassar untuk mengembangkannya?”
Apabila pertanyaan kedua berhasil dijawab melalui kebijakan yang konsisten, pertanyaan pertama lambat laun akan kehilangan urgensinya.
Target jangka panjang memang dapat ditetapkan secara ambisius bergerak dari kelompok 1801–2000 menuju 1500 besar, kemudian 1000 besar, dan pada akhirnya memasuki kelompok universitas yang semakin kompetitif secara global.
Akan tetapi, angka tersebut harus diperlakukan sebagai indikator perjalanan, bukan tujuan perjalanan.
Pada akhirnya, universitas besar tidak lahir karena berhasil memahami algoritma pemeringkatan.
Universitas besar lahir karena membangun tradisi intelektual yang membuat pengetahuan penting terus-menerus dihasilkan di dalamnya.
Jika transformasi itu berlangsung, kenaikan THE WUR bukan lagi proyek tahunan yang setiap tahun harus dikejar.
Ia akan menjadi akibat statistik dari sesuatu yang jauh lebih substantif: Universitas Hasanuddin telah berubah dari universitas yang banyak menghasilkan publikasi menjadi universitas yang menghasilkan pengetahuan yang dianggap penting oleh dunia.


