Catatan: Egy Massadiah
SulawesiPos.com – Ada saatnya seorang prajurit meletakkan peta operasi, lalu membuka peta yang lain: peta sawah, ladang, kebun, irigasi dan lumbung pangan.
Dan tanggal 1 Oktober 2026, Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa membuka peta yang baru itu. Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai Wakil Menteri Pertanian, menggantikan Sudaryono — mendampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Bagi saya, kabar itu menyingkap lorong panjang kenangan. Saya mengenal Saleh bukan ketika tiga bintang sudah bertengger di pundaknya. Saya mengenalnya ketika masih Letnan Dua, perwira remaja lulusan Akmil 1991 yang bertugas di Grup 1 Parako Kopassus, Serang, Banten.
Sahabat saya sesama asal Sengkang Wajo, almarhum Kolonel Andi Sirajuddin Kube Dauda—Aju—yang memperkenalkan kami. Melalui Aju pula saya mengenal lingkaran perwira muda Kopassus masa itu: Saleh, Maruli Simanjuntak, Iwan Setiawan, Richard Tampubolon, Mohammad Hasan dan banyak lainnya.
Saya melihat mereka sebagai anak-anak muda berseragam loreng yang hidupnya diisi latihan dan gemblengan. Sebagian kemudian tumbuh menjadi jenderal dan menempati berbagai posisi penting. Saleh salah satunya.
Kini, lebih tiga dasawarsa kemudian, prajurit yang saya kenal itu memasuki “medan operasi” yang sama sekali berbeda.
Musuhnya bukan lagi kelompok bersenjata. Tantangannya adalah air, pupuk, benih, perubahan iklim, produktivitas, harga gabah, kesejahteraan petani, hingga keberlanjutan swasembada pangan.
Ia hanya berpindah cara memandang tanah. Dulu tanah dipertahankan sebagai wilayah kedaulatan. Kini tanah harus dijaga agar terus melahirkan kehidupan.
Sebab pangan, pada hakikatnya adalah benteng pertahanan sebuah negara.
Tifa dari Ternate
Saleh adalah putra Ternate, sebuah pulau kecil yang berlimpah cengkeh dan pala. Kini, salah satu putra terbaiknya dipanggil negara ikut mengurus pertanian Indonesia. Dari cengkeh menuju padi. Dari jalur rempah menuju jalan kedaulatan pangan.
Saya mengenal Saleh sebagai sosok yang tekun lagi santun. Murah senyum, gemar menyanyi, tetapi tegas ketika bertugas.
Karakter itu selalu mengingatkan saya kepada salah satu warisan budaya Ternate: Dalil Tifa, tradisi lisan berisi petuah kehidupan yang dilantunkan bersama irama tifa.
Salah satu nasihatnya berbunyi: Moku-moku kore mie. Paga gudu yo sose gudu. Jaga doro laha-laha kara no toro. Afa mara sala doro. Juanga ruba toma luleo.
Kurang lebih maknanya: ombak boleh pecah dan bertebaran, tetapi tunggulah ombak yang baik untuk diikuti. Jangan salah memilih, sebab bahtera bisa hancur.
Itulah filsafat kepemimpinan. Pemimpin bukan hanya harus berani berlayar. Ia harus pandai membaca gelombang.
Di Kementerian Pertanian, gelombang itu bernama iklim, air, pupuk, harga, distribusi, teknologi, hilirisasi dan nasib jutaan petani. Salah membaca ombak, kebijakan bisa karam sebelum sampai ke sawah.
Belajar dari Medan
Saleh telah melewati banyak medan. Ia pernah menjadi Dan Grup 1 Kopassus, bertugas di Aceh, menjadi Danrem 132/Tadulako di tengah operasi Poso, Pangdam XVII/Cenderawasih, Kaskostrad, Pangkostrad, Irjen TNI hingga Wakil KSAD.
Ketika bertugas di Poso, ia menulis buku berjudul “Menuai Damai di Tanah Poso.” Saya menyukai kata menuai itu. Damai rupanya seperti padi. Ia harus ditanam, dirawat dan dijaga sebelum akhirnya dipanen.
Kini metafora itu menjadi nyata. Saleh benar-benar memasuki dunia orang menanam dan menuai.
Saya kembali banyak berinteraksi dengannya ketika pandemi Covid-19. Saat itu saya mendampingi Kepala BNPB sekaligus Ketua Satgas Covid-19 Letjen TNI Doni Monardo. Saleh, yang menjabat Kasdam Jaya, mendapat tanggung jawab besar dalam penanganan Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran. Nyaris hampir setiap hari kami bersama.
Ia bahkan ikut terpapar Covid. Setelah pulih, ia kembali bekerja. Dari pandemi itu ada pelajaran sederhana, bahwa operasi sebesar apa pun akan lumpuh tanpa logistik dan kolaborasi.
Pertanian pun demikian. Benih membutuhkan pupuk. Pupuk membutuhkan distribusi. Tanaman membutuhkan air. Produksi membutuhkan pasar. Petani membutuhkan harga yang layak. Semua harus bergerak dalam satu irama.
Doni, Sagu, dan Papua
Ada kenangan lain yang hari ini terasa seperti isyarat. Ketika Saleh menjadi Pangdam XVII Cenderawasih, Doni Monardo bertandang dalam bakti sosial operasi katarak “Kitorang Melihat Terang” di Puncak Jaya bekerjasama dengan PPAD.
Dari sana, Doni mengajaknya melihat sagu di Sentani. Keduanya ketika itu mengatakan tekad menjadikan Papua sebagai salah satu sentra pangan melalui sagu.
Saya tidak tahu apakah ia masih mengingat percakapan itu. Saya mengingatnya. Dulu ia berdiri di depan pengolahan sagu sebagai Pangdam. Kini ia masuk Kementerian Pertanian. Sejarah kadang menyambungkan titik-titik yang dahulu terlihat tidak berhubungan.
Dari Doni pula Saleh menyerap prinsip “kolaborasi tanpa batas” dan filosofi “kita jaga alam, alam jaga kita.” Dua kalimat itu rasanya pantas dibawa ke meja kerjanya yang baru.
Sebab pertanian bukan sekadar mengejar berapa ton produksi gabah kering. Tanah harus tetap subur, air harus tersedia, alam harus terjaga, dan orang yang mengolahnya harus hidup sejahtera.
Tifa Bertemu Siri’ na Pacce
Di Kementerian Pertanian, Saleh akan mendampingi Andi Amran Sulaiman. Secara semiotik, pertemuan keduanya menarik.
Saleh membawa Ternate dengan sejarah rempah dan Dalil Tifa. Amran membawa Sulawesi Selatan dengan nilai siri’ na pacce—harga diri yang berpadu dengan solidaritas dan kepedulian kepada sesama.
Jika dibawa ke dunia pertanian, siri’ dapat dimaknai sebagai harga diri bangsa untuk mampu memberi makan rakyatnya sendiri. Sedangkan pacce adalah keberpihakan kepada mereka yang menanam pangan.
Sebab petani tidak cukup dipuji ketika panen raya. Ia harus hadir dalam pikiran negara ketika pupuk sulit, air tak datang, harga jatuh, atau gagal panen.
Di situlah Ternate bertemu Bugis.
Tifa memberi irama.
Siri’ memberi harga diri.
Pacce memberi hati.
Dan sawah menjadi medan pengabdiannya.
Saleh mempunyai modal pengalaman yang relevan: kemampuan mengorganisasi manusia, logistik, wilayah dan kolaborasi.
Tetapi pertanian mempunyai hukum yang berbeda dari militer.
Sawah tidak mengenal komando.
Tanah tidak bisa dibentak.
Musim tidak bisa diperintah.
Semuanya harus dibaca, dirawat dan dihormati.
Saleh pernah mengutip petuah seniornya, almarhum Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, “Jangan jauh dari anggota. Semakin dekat dengan anggota, semakin cepat kau ketahui masalah.”
Di Kementerian Pertanian kelak Saleh wajib duduk di pematang sawah dan bertanya kepada petani: setelah panen, berapa yang benar-benar dibawa pulang untuk keluarganya? Sebab setiap hamparan sawah mempunyai cerita.
Baret Merah di Hamparan Sawah
Saleh juga masih mengingat pesan Prabowo Subianto sejak masa mudanya di lingkungan pasukan khusus, “Jadilah prajurit menangan, jangan jadi prajurit kalahan.” Juga pesan berikutnya, “Train hard, fight easy.”
Dulu Prabowo adalah jenderal yang menggembleng para perwira muda baret merah, termasuk Saleh. Hari ini, sebagai Presiden Republik Indonesia, Prabowo mengirim salah seorang bekas anak buahnya memasuki medan yang berbeda, kedaulatan pangan.
Seragam boleh berganti. Medan boleh berubah. Tetapi hakikat pengabdian tetap sama. Jika dahulu Saleh menjaga mereka yang berada di garis depan pertahanan negara, kini ia ikut menjaga mereka yang berada di garis depan kedaulatan pangan.
Saya membayangkan sebuah gambar. Seorang putra Ternate berdiri di pematang sawah. Dari kejauhan terdengar tifa. Di sampingnya berdiri seorang lelaki Bugis bernama Amran Sulaiman. Di depan mereka padi mulai menguning.
Selamat bertugas, Bro Saleh.*


