Politisi Muslim Menang di Amerika, Islamofobia Gagal Membendung

SulawesiPos.com — Sembilan tokoh Muslim meraih kursi legislatif federal dan negara bagian dalam pemilu Amerika Serikat pada Selasa, 3 November 2026, melalui kampanye tentang biaya hidup, kesehatan, hak sipil, dan keadilan sosial, sebuah keberhasilan yang menurut dua akademisi Indonesia memperlihatkan kekuatan politik pelayanan publik untuk menembus prasangka agama sekaligus menguji kemampuan mereka memenuhi harapan pemilih.

Dr. Dicky Sofjan dari Universitas Gadjah Mada dan Prof. Drs. Wahyuddin Halim, M.A., Ph.D. dari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar menyampaikan analisis tersebut ketika dihubungi jurnalis Sulawesi Pos pada Sabtu, 7 November 2026.

Dicky merupakan Associate Professor Program Inter-Religious Studies pada Sekolah Pascasarjana UGM di Yogyakarta, Wakil Presiden Globethics yang berbasis di Jenewa, Swiss, serta anggota Educational Exchange Committee atau EEC pada AMINEF/Fulbright. Globethics

Sementara itu, Wahyuddin merupakan Guru Besar Tetap dalam bidang Ilmu Antropologi Agama pada UIN Alauddin Makassar yang menyoroti hubungan antara identitas keagamaan, kepercayaan politik, dan tanggung jawab pelayanan kepada masyarakat.

Sembilan tokoh dalam laporan ini terdiri atas tujuh pemenang kursi Kongres federal—seorang senator dan enam anggota DPR AS—serta dua pemenang kursi senat negara bagian, sehingga angka tersebut bukan keseluruhan kemenangan kandidat Muslim dalam pemilu kali ini.

Laporan The New Arab pada 4 November 2026 mencatat perluasan keterwakilan tersebut, dengan kemenangan Abdul El-Sayed di Michigan menjadi tonggak terpilihnya Muslim pertama ke Senat Amerika Serikat.

Dicky: Pemilih Mencari Alternatif

Dicky membaca keberhasilan para kandidat Muslim sebagai bagian dari perubahan sentimen politik ketika pemilih mencari alternatif terhadap kepemimpinan dan kebijakan yang dinilai semakin jauh dari kebutuhan sehari-hari.

Menurut dia, kekecewaan terhadap Donald Trump dan Partai Republik membuka ruang bagi kandidat yang menawarkan prioritas lebih jelas mengenai kesejahteraan warga, pelayanan dasar, serta penggunaan anggaran negara.

“Kebetulan saja kaum politisi Muslim ini membawa nilai-nilai dan pemikiran yang segar dan menyuarakan kepentingan konstituennya, sehingga para pemilih tidak merasa harus mempersoalkan identitas keagamaan mereka,” ujar Dicky.

Ia menempatkan affordability atau keterjangkauan biaya hidup sebagai persoalan utama karena menyangkut kemampuan keluarga membayar tempat tinggal, makanan, transportasi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan.

Dalam pembacaannya, kritik terhadap bantuan militer kepada Israel dan perang dengan Iran juga berkaitan dengan pertanyaan mengenai prioritas pemerintah ketika kebutuhan warga di dalam negeri belum terpenuhi.

Laporan Reuters pada 4 November 2026 mencatat El-Sayed menghubungkan penghentian perang Iran dan penyelesaian perselisihan perdagangan dengan Kanada dengan upaya menurunkan biaya bagi dunia usaha serta konsumen.

Dicky menyebut pendekatan politik yang berangkat dari kebutuhan konkret warga tersebut sebagai “the Mamdani Effect”, merujuk pada kemampuan Zohran Mamdani membangun dukungan melalui agenda keterjangkauan hidup dan pelayanan lintas kelompok.

Mamdani mulai menjabat sebagai Wali Kota New York pada 1 Januari 2026 setelah memenangi pemilihan pada November 2025, sehingga Januari merupakan waktu pelantikannya.

“Di AS, prinsip politik itu pada hakikatnya lokal,” kata Dicky.

Ia menjelaskan bahwa kedekatan dengan persoalan lingkungan tempat tinggal, pemahaman terhadap kepentingan konstituen, dan keterlibatan dalam kerja masyarakat dapat menjadi modal politik yang melampaui batas identitas agama.

Politisi Muslim Amerika menembus prasangka melalui pelayanan publik, meraih kepercayaan pemilih lintas agama, ras. (Chat GPT).
Politisi Muslim Amerika menembus prasangka melalui pelayanan publik, meraih kepercayaan pemilih lintas agama, ras. (Chat GPT).

Tiga Pendatang Baru, Tiga Jalan Pengabdian

1. Abdul El-Sayed — Senator terpilih dari Michigan

Abdul El-Sayed merupakan dokter keturunan Mesir dan mantan pejabat kesehatan masyarakat yang mengalahkan kandidat Republik Mike Rogers untuk mempertahankan kursi Demokrat yang ditinggalkan Gary Peters setelah memutuskan pensiun.

BACA JUGA:  Angka Stabil, Penganggur Bertambah: 13,6 Juta Orang di Uni Eropa Belum Bekerja

Kemenangan berdasarkan proyeksi media tersebut menjadikannya Muslim pertama yang terpilih ke Senat AS, setelah kampanye yang turut diwarnai serangan terhadap identitas agamanya.

El-Sayed mengusung penurunan biaya hidup keluarga pekerja, perluasan jaminan kesehatan melalui Medicare for All, pembatasan pengaruh perusahaan besar dalam politik, serta penolakan terhadap bantuan militer tanpa syarat kepada Israel.

Ia juga menghadapi tuduhan keterkaitan dengan organisasi ekstremis yang dibantahnya, sementara Reuters melaporkan serangan politik terhadapnya menggunakan klaim yang tidak didukung bukti. reuters.com

Dicky menilai kekuatan El-Sayed terletak pada perpaduan pendidikan tinggi, pengalaman profesional, dan kemampuan menerjemahkan pengetahuan menjadi agenda publik.

“Memperhatikan pesan-pesan kampanye El-Sayed, jelas sekali bahwa dia terfokus pada pendidikan dan kesehatan publik, dua isu yang dominan dalam diskursus perpolitikan AS,” ujarnya.

Profil Institute of Politics University of Chicago mengonfirmasi bahwa El-Sayed memperoleh gelar doktor kesehatan masyarakat dari Oxford University sebagai penerima Rhodes Scholarship dan gelar dokter dari Columbia University.

2. Adam Hamawy — Anggota DPR AS terpilih dari New Jersey

Adam Hamawy merupakan dokter bedah plastik, mantan dokter tempur Angkatan Darat AS, dan veteran Perang Irak yang memenangi daerah pemilihan ke-12 New Jersey setelah mengalahkan kandidat Republik Gregg Mele.

Kemenangan itu menjadikannya Muslim pertama yang terpilih mewakili New Jersey di Kongres, dengan rekam pelayanan kemanusiaan sebagai dokter relawan di European Hospital, Gaza, pada 2024.

Agenda kampanyenya meliputi jaminan kesehatan universal, penghapusan utang medis dan pendidikan, serta penghentian bantuan militer AS kepada Israel.

Pengalaman merawat korban perang memberinya pijakan langsung untuk menghubungkan kebijakan kesehatan, perlindungan warga sipil, dan tanggung jawab kemanusiaan dalam politik.

3. Darializa Avila Chevalier — Anggota DPR AS terpilih dari New York

Darializa Avila Chevalier merupakan aktivis masyarakat keturunan Dominika yang memenangi daerah pemilihan ke-13 New York setelah sebelumnya mengalahkan petahana Adriano Espaillat dalam pemilihan pendahuluan Demokrat.

Perjalanannya mencakup pendidikan di Columbia University, pengorganisasian masyarakat, pekerjaan sebagai penyelidik pada lembaga pembelaan hukum, serta studi doktoral di City University of New York atau CUNY.

Pengalaman mendampingi masyarakat yang menghadapi persoalan penahanan dan deportasi membentuk perhatiannya terhadap reformasi imigrasi, keadilan sosial, perumahan terjangkau, dan perlindungan keluarga pekerja.

The New Arab pada 4 November 2026 melaporkan bahwa Chevalier menjadi perempuan Muslim Latina pertama yang terpilih ke Kongres AS.

Wahyuddin: Terbuka, tetapi Belum Bebas Prasangka

Wahyuddin menempatkan terpilihnya El-Sayed sebagai capaian penting bagi kesetaraan kewarganegaraan karena seorang Muslim memperoleh kepercayaan menduduki jabatan nasional di negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim.

Prof. Drs. Wahyuddin Halim, Ph.D., Guru Besar Tetap Ilmu Antropologi Agama UIN Alauddin Makassar: Menegaskan keberhasilan politisi Muslim harus diukur melalui integritas, kapasitas, dan pelayanan bagi seluruh masyarakat. (Foto: Dok.Pribadi).
Prof. Drs. Wahyuddin Halim, Ph.D., Guru Besar Tetap Ilmu Antropologi Agama UIN Alauddin Makassar: Menegaskan keberhasilan politisi Muslim harus diukur melalui integritas, kapasitas, dan pelayanan bagi seluruh masyarakat. (Foto: Dok.Pribadi).

“Kemenangan ini menunjukkan, identitas Muslim tidak harus menjadi penghalang untuk berkontribusi dalam kehidupan politik Amerika,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa kemenangan sejumlah kandidat tidak cukup untuk menyimpulkan seluruh masyarakat Amerika telah terbebas dari Islamofobia, prasangka rasial, dan diskriminasi.

Menurut Wahyuddin, perkembangan yang lebih bermakna ialah kesediaan sebagian pemilih menilai kandidat melalui kemampuan, rekam jejak, dan program, sehingga identitas keagamaan tidak otomatis menggugurkan kepercayaan politik.

Ia juga menolak penyederhanaan bahwa seluruh kandidat Muslim menang karena pembelaan terhadap Palestina karena setiap daerah memiliki persoalan, komposisi pemilih, dan dasar dukungan yang berbeda.

BACA JUGA:  Angka Stabil, Penganggur Bertambah: 13,6 Juta Orang di Uni Eropa Belum Bekerja

“Yang menarik adalah mereka berusaha menghubungkan kepentingan masyarakat di dalam negeri dengan persoalan keadilan dan kemanusiaan di tingkat global,” katanya.

Empat Petahana Mempertahankan Kepercayaan

4. Rashida Tlaib — Anggota DPR AS dari Michigan

Rashida Tlaib merupakan politikus Demokrat keturunan Palestina yang mempertahankan daerah pemilihan ke-12 Michigan untuk masa jabatan kelima setelah mengalahkan kandidat Republik James Hooper.

Pertama kali terpilih pada 2018, Tlaib bersama Ilhan Omar menjadi dua perempuan Muslim pertama yang memenangi kursi Kongres Amerika Serikat.

Perhatian politiknya mencakup keadilan sosial, hak pekerja, perlindungan lingkungan, serta pengawasan terhadap kebijakan luar negeri Amerika.

Sebagai anggota Kongres keturunan Palestina, ia dikenal lantang memperjuangkan perlindungan warga sipil, hak menentukan nasib sendiri bagi Palestina, serta penegakan ketentuan hukum dalam penyaluran persenjataan.

5. Ilhan Omar — Anggota DPR AS dari Minnesota

Ilhan Omar merupakan politikus Demokrat kelahiran Somalia yang mempertahankan daerah pemilihan ke-5 Minnesota untuk masa jabatan kelima.

Pengalamannya sebagai pengungsi sebelum menetap di Amerika Serikat berkaitan erat dengan pembelaannya terhadap hak pengungsi dan imigran.

Omar menjadi warga Amerika keturunan Somalia pertama yang menjabat sebagai legislator federal ketika mulai bertugas di Kongres pada 2019.

Agenda politiknya meliputi keadilan ekonomi dan rasial, perluasan layanan kesehatan, bantuan kemanusiaan, serta pengawasan terhadap transfer senjata Amerika kepada negara lain.

6. André Carson — Anggota DPR AS dari Indiana

André Carson merupakan politikus Demokrat yang kembali memenangi daerah pemilihan ke-7 Indiana, yang mencakup wilayah Indianapolis.

Ia pertama kali masuk Kongres melalui pemilihan khusus pada 2008 dan menjadi anggota Muslim dengan masa pengabdian terpanjang di antara anggota DPR AS yang masih menjabat.

Carson memiliki latar belakang pekerjaan dalam bidang penegakan hukum sebelum mengembangkan karier politik di tingkat lokal dan federal.

Perhatian kebijakannya mencakup pelayanan kesehatan, infrastruktur, hak sipil, kesetaraan rasial, bantuan kemanusiaan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

7. Lateefah Simon — Anggota DPR AS dari California

Lateefah Simon merupakan aktivis hak sipil yang mempertahankan daerah pemilihan ke-12 California setelah pertama kali terpilih ke Kongres dalam pemilu 2024.

Ia memiliki pengalaman panjang dalam pengorganisasian masyarakat dan pernah menjadi anggota dewan pengelola transportasi regional Bay Area Rapid Transit atau BART.

Simon juga dikenal melalui pendampingan kelompok rentan dan penghargaan MacArthur yang diterimanya pada usia 26 tahun.

Agenda politiknya mencakup perumahan terjangkau, hak penyewa, transportasi umum, reformasi peradilan, perlindungan imigran, dan perluasan akses pelayanan kesehatan.

Dua Senator Negara Bagian, Dekat dengan Persoalan Warga

8. Aber Kawas — Senator Negara Bagian New York terpilih

Aber Kawas merupakan pengorganisasi masyarakat keturunan Palestina yang memenangi kursi Senat Negara Bagian New York dari distrik ke-12.

Ia tumbuh dalam keluarga pekerja di New York dan menyebut pengalaman ayahnya ditahan serta dideportasi sebagai salah satu peristiwa yang membentuk kepeduliannya terhadap keadilan imigrasi.

Kawas memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun dalam pengorganisasian masyarakat, termasuk perjuangan kenaikan upah minimum serta pembelaan komunitas yang menghadapi pengawasan dan diskriminasi. Our Revolution

Programnya menekankan perumahan terjangkau, pelayanan kesehatan, hak imigran, dan pembelaan keluarga pekerja, dengan mandat legislatif negara bagian yang dijalankan di Albany.

BACA JUGA:  Angka Stabil, Penganggur Bertambah: 13,6 Juta Orang di Uni Eropa Belum Bekerja

9. Nabeela Syed — Senator Negara Bagian Illinois terpilih

Nabeela Syed merupakan politikus Demokrat keturunan India yang mengalahkan petahana Republik Darby Hills dalam pemilihan Senat Negara Bagian Illinois distrik ke-26.

Sebelumnya, ia menjabat anggota DPR Negara Bagian Illinois dari distrik ke-51 setelah memenangi pemilu 2022 dan mulai bertugas pada Januari 2023.

Syed menempuh pendidikan administrasi bisnis dan ilmu politik di University of California, Berkeley, serta memiliki pengalaman dalam kegiatan kampanye dan strategi digital organisasi nirlaba.

Kiprah legislatifnya berfokus pada keterjangkauan obat resep, perluasan pemeriksaan kanker payudara, cuti bagi donor organ, serta kemudahan akses memilih bagi generasi muda.

Menang di Bilik Suara, Diuji di Ruang Kekuasaan

Dicky mengingatkan bahwa masuknya politisi Muslim ke lembaga legislatif belum otomatis mengubah kebijakan Amerika karena mereka harus berhadapan dengan struktur partai, kepentingan donor, dan kelompok lobi yang telah lama berpengaruh.

Ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi sikap serta kemandirian pendanaan agar janji kepada konstituen tidak dikalahkan kepentingan penyandang dana.

Salah satu organisasi yang menjadi perhatiannya ialah AIPAC, singkatan dari American Israel Public Affairs Committee, yang secara terbuka memperjuangkan penguatan hubungan AS–Israel melalui kegiatan politik dan jaringan pendukungnya.

“Etika dan nilai-nilai dalam politik itu penting,” kata Dicky.

Menurut dia, politisi yang berpendidikan, berintegritas, dan aktif bekerja bersama masyarakat memiliki peluang memperoleh kepercayaan ketika pemilih menilai elite lama tidak lagi mendengarkan mereka.

Sementara itu, Wahyuddin menempatkan tantangan setelah kemenangan pada kemampuan membangun kerja sama dan memastikan kebijakan memberi manfaat kepada seluruh warga daerah pemilihan.

“Mereka harus mampu bekerja sama dengan siapa pun dan membuktikan bahwa nilai-nilai yang mereka bawa benar-benar tercermin dalam kebijakan dan pelayanan publik,” ujarnya.

Perbedaan kewenangan juga menentukan ruang kerja mereka karena anggota Kongres federal terlibat dalam legislasi dan pengawasan nasional, sedangkan senator negara bagian memperjuangkan kebijakan pada tingkat negara bagiannya.

Lebih Luas dari Sembilan Nama

Di luar sembilan tokoh tersebut, Aisha Wahab telah mendeklarasikan kemenangan untuk masa jabatan penuh di daerah pemilihan ke-14 California, tetapi pembaruan CAIR dan CAIR Action pada 5 November 2026 masih mencatat hasil akhirnya sebagai tertunda.

Kantor pusat CAIR (Council on American-Islamic Relations) di Washington, D.C., ibu kota Amerika Serikat. (Foto: Istimewa).
Kantor pusat CAIR (Council on American-Islamic Relations) di Washington, D.C., ibu kota Amerika Serikat. (Foto: Istimewa).

Wahab telah menduduki kursi itu setelah memenangi pemilihan khusus pada Agustus dan berpeluang menambah jumlah pemenang Muslim dalam pemilu Kongres November menjadi delapan apabila hasilnya memperoleh kepastian.

Secara nasional, pemantauan sementara kedua organisasi tersebut mencatat sedikitnya 97 kemenangan kandidat Muslim pada tingkat federal, negara bagian, dan lokal di 21 negara bagian, termasuk 38 kemenangan legislatif negara bagian.

Angka sementara itu melampaui 82 kemenangan yang dicatat dalam pemilu sela 2022, tetapi tetap harus dibaca sebagai hasil pemantauan organisasi yang masih menunggu penghitungan lanjutan dan sertifikasi resmi. cair.com

Bagi Wahyuddin, pelajaran untuk Indonesia terletak pada ukuran keberhasilan politik umat Islam yang perlu bergerak menuju mutu kepemimpinan, integritas, dan keberpihakan yang dapat dirasakan masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa simbol keagamaan mudah ditampilkan dalam kampanye, sedangkan kualitas moral dan intelektual baru terlihat ketika seorang politisi harus mengambil keputusan serta mempertanggungjawabkan kekuasaan.

“Jangan hanya bercita-cita memiliki banyak politisi Muslim, tetapi bercita-citalah melahirkan banyak politisi yang memiliki kualitas moral, intelektual, dan keberpihakan kepada kepentingan publik,” tegas Wahyuddin.

SulawesiPos.com — Sembilan tokoh Muslim meraih kursi legislatif federal dan negara bagian dalam pemilu Amerika Serikat pada Selasa, 3 November 2026, melalui kampanye tentang biaya hidup, kesehatan, hak sipil, dan keadilan sosial, sebuah keberhasilan yang menurut dua akademisi Indonesia memperlihatkan kekuatan politik pelayanan publik untuk menembus prasangka agama sekaligus menguji kemampuan mereka memenuhi harapan pemilih.

Dr. Dicky Sofjan dari Universitas Gadjah Mada dan Prof. Drs. Wahyuddin Halim, M.A., Ph.D. dari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar menyampaikan analisis tersebut ketika dihubungi jurnalis Sulawesi Pos pada Sabtu, 7 November 2026.

Dicky merupakan Associate Professor Program Inter-Religious Studies pada Sekolah Pascasarjana UGM di Yogyakarta, Wakil Presiden Globethics yang berbasis di Jenewa, Swiss, serta anggota Educational Exchange Committee atau EEC pada AMINEF/Fulbright. Globethics

Sementara itu, Wahyuddin merupakan Guru Besar Tetap dalam bidang Ilmu Antropologi Agama pada UIN Alauddin Makassar yang menyoroti hubungan antara identitas keagamaan, kepercayaan politik, dan tanggung jawab pelayanan kepada masyarakat.

Sembilan tokoh dalam laporan ini terdiri atas tujuh pemenang kursi Kongres federal—seorang senator dan enam anggota DPR AS—serta dua pemenang kursi senat negara bagian, sehingga angka tersebut bukan keseluruhan kemenangan kandidat Muslim dalam pemilu kali ini.

Laporan The New Arab pada 4 November 2026 mencatat perluasan keterwakilan tersebut, dengan kemenangan Abdul El-Sayed di Michigan menjadi tonggak terpilihnya Muslim pertama ke Senat Amerika Serikat.

Dicky: Pemilih Mencari Alternatif

Dicky membaca keberhasilan para kandidat Muslim sebagai bagian dari perubahan sentimen politik ketika pemilih mencari alternatif terhadap kepemimpinan dan kebijakan yang dinilai semakin jauh dari kebutuhan sehari-hari.

Menurut dia, kekecewaan terhadap Donald Trump dan Partai Republik membuka ruang bagi kandidat yang menawarkan prioritas lebih jelas mengenai kesejahteraan warga, pelayanan dasar, serta penggunaan anggaran negara.

“Kebetulan saja kaum politisi Muslim ini membawa nilai-nilai dan pemikiran yang segar dan menyuarakan kepentingan konstituennya, sehingga para pemilih tidak merasa harus mempersoalkan identitas keagamaan mereka,” ujar Dicky.

Ia menempatkan affordability atau keterjangkauan biaya hidup sebagai persoalan utama karena menyangkut kemampuan keluarga membayar tempat tinggal, makanan, transportasi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan.

Dalam pembacaannya, kritik terhadap bantuan militer kepada Israel dan perang dengan Iran juga berkaitan dengan pertanyaan mengenai prioritas pemerintah ketika kebutuhan warga di dalam negeri belum terpenuhi.

Laporan Reuters pada 4 November 2026 mencatat El-Sayed menghubungkan penghentian perang Iran dan penyelesaian perselisihan perdagangan dengan Kanada dengan upaya menurunkan biaya bagi dunia usaha serta konsumen.

Dicky menyebut pendekatan politik yang berangkat dari kebutuhan konkret warga tersebut sebagai “the Mamdani Effect”, merujuk pada kemampuan Zohran Mamdani membangun dukungan melalui agenda keterjangkauan hidup dan pelayanan lintas kelompok.

Mamdani mulai menjabat sebagai Wali Kota New York pada 1 Januari 2026 setelah memenangi pemilihan pada November 2025, sehingga Januari merupakan waktu pelantikannya.

“Di AS, prinsip politik itu pada hakikatnya lokal,” kata Dicky.

Ia menjelaskan bahwa kedekatan dengan persoalan lingkungan tempat tinggal, pemahaman terhadap kepentingan konstituen, dan keterlibatan dalam kerja masyarakat dapat menjadi modal politik yang melampaui batas identitas agama.

Politisi Muslim Amerika menembus prasangka melalui pelayanan publik, meraih kepercayaan pemilih lintas agama, ras. (Chat GPT).
Politisi Muslim Amerika menembus prasangka melalui pelayanan publik, meraih kepercayaan pemilih lintas agama, ras. (Chat GPT).

Tiga Pendatang Baru, Tiga Jalan Pengabdian

1. Abdul El-Sayed — Senator terpilih dari Michigan

Abdul El-Sayed merupakan dokter keturunan Mesir dan mantan pejabat kesehatan masyarakat yang mengalahkan kandidat Republik Mike Rogers untuk mempertahankan kursi Demokrat yang ditinggalkan Gary Peters setelah memutuskan pensiun.

BACA JUGA:  Angka Stabil, Penganggur Bertambah: 13,6 Juta Orang di Uni Eropa Belum Bekerja

Kemenangan berdasarkan proyeksi media tersebut menjadikannya Muslim pertama yang terpilih ke Senat AS, setelah kampanye yang turut diwarnai serangan terhadap identitas agamanya.

El-Sayed mengusung penurunan biaya hidup keluarga pekerja, perluasan jaminan kesehatan melalui Medicare for All, pembatasan pengaruh perusahaan besar dalam politik, serta penolakan terhadap bantuan militer tanpa syarat kepada Israel.

Ia juga menghadapi tuduhan keterkaitan dengan organisasi ekstremis yang dibantahnya, sementara Reuters melaporkan serangan politik terhadapnya menggunakan klaim yang tidak didukung bukti. reuters.com

Dicky menilai kekuatan El-Sayed terletak pada perpaduan pendidikan tinggi, pengalaman profesional, dan kemampuan menerjemahkan pengetahuan menjadi agenda publik.

“Memperhatikan pesan-pesan kampanye El-Sayed, jelas sekali bahwa dia terfokus pada pendidikan dan kesehatan publik, dua isu yang dominan dalam diskursus perpolitikan AS,” ujarnya.

Profil Institute of Politics University of Chicago mengonfirmasi bahwa El-Sayed memperoleh gelar doktor kesehatan masyarakat dari Oxford University sebagai penerima Rhodes Scholarship dan gelar dokter dari Columbia University.

2. Adam Hamawy — Anggota DPR AS terpilih dari New Jersey

Adam Hamawy merupakan dokter bedah plastik, mantan dokter tempur Angkatan Darat AS, dan veteran Perang Irak yang memenangi daerah pemilihan ke-12 New Jersey setelah mengalahkan kandidat Republik Gregg Mele.

Kemenangan itu menjadikannya Muslim pertama yang terpilih mewakili New Jersey di Kongres, dengan rekam pelayanan kemanusiaan sebagai dokter relawan di European Hospital, Gaza, pada 2024.

Agenda kampanyenya meliputi jaminan kesehatan universal, penghapusan utang medis dan pendidikan, serta penghentian bantuan militer AS kepada Israel.

Pengalaman merawat korban perang memberinya pijakan langsung untuk menghubungkan kebijakan kesehatan, perlindungan warga sipil, dan tanggung jawab kemanusiaan dalam politik.

3. Darializa Avila Chevalier — Anggota DPR AS terpilih dari New York

Darializa Avila Chevalier merupakan aktivis masyarakat keturunan Dominika yang memenangi daerah pemilihan ke-13 New York setelah sebelumnya mengalahkan petahana Adriano Espaillat dalam pemilihan pendahuluan Demokrat.

Perjalanannya mencakup pendidikan di Columbia University, pengorganisasian masyarakat, pekerjaan sebagai penyelidik pada lembaga pembelaan hukum, serta studi doktoral di City University of New York atau CUNY.

Pengalaman mendampingi masyarakat yang menghadapi persoalan penahanan dan deportasi membentuk perhatiannya terhadap reformasi imigrasi, keadilan sosial, perumahan terjangkau, dan perlindungan keluarga pekerja.

The New Arab pada 4 November 2026 melaporkan bahwa Chevalier menjadi perempuan Muslim Latina pertama yang terpilih ke Kongres AS.

Wahyuddin: Terbuka, tetapi Belum Bebas Prasangka

Wahyuddin menempatkan terpilihnya El-Sayed sebagai capaian penting bagi kesetaraan kewarganegaraan karena seorang Muslim memperoleh kepercayaan menduduki jabatan nasional di negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim.

Prof. Drs. Wahyuddin Halim, Ph.D., Guru Besar Tetap Ilmu Antropologi Agama UIN Alauddin Makassar: Menegaskan keberhasilan politisi Muslim harus diukur melalui integritas, kapasitas, dan pelayanan bagi seluruh masyarakat. (Foto: Dok.Pribadi).
Prof. Drs. Wahyuddin Halim, Ph.D., Guru Besar Tetap Ilmu Antropologi Agama UIN Alauddin Makassar: Menegaskan keberhasilan politisi Muslim harus diukur melalui integritas, kapasitas, dan pelayanan bagi seluruh masyarakat. (Foto: Dok.Pribadi).

“Kemenangan ini menunjukkan, identitas Muslim tidak harus menjadi penghalang untuk berkontribusi dalam kehidupan politik Amerika,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa kemenangan sejumlah kandidat tidak cukup untuk menyimpulkan seluruh masyarakat Amerika telah terbebas dari Islamofobia, prasangka rasial, dan diskriminasi.

Menurut Wahyuddin, perkembangan yang lebih bermakna ialah kesediaan sebagian pemilih menilai kandidat melalui kemampuan, rekam jejak, dan program, sehingga identitas keagamaan tidak otomatis menggugurkan kepercayaan politik.

Ia juga menolak penyederhanaan bahwa seluruh kandidat Muslim menang karena pembelaan terhadap Palestina karena setiap daerah memiliki persoalan, komposisi pemilih, dan dasar dukungan yang berbeda.

BACA JUGA:  Angka Stabil, Penganggur Bertambah: 13,6 Juta Orang di Uni Eropa Belum Bekerja

“Yang menarik adalah mereka berusaha menghubungkan kepentingan masyarakat di dalam negeri dengan persoalan keadilan dan kemanusiaan di tingkat global,” katanya.

Empat Petahana Mempertahankan Kepercayaan

4. Rashida Tlaib — Anggota DPR AS dari Michigan

Rashida Tlaib merupakan politikus Demokrat keturunan Palestina yang mempertahankan daerah pemilihan ke-12 Michigan untuk masa jabatan kelima setelah mengalahkan kandidat Republik James Hooper.

Pertama kali terpilih pada 2018, Tlaib bersama Ilhan Omar menjadi dua perempuan Muslim pertama yang memenangi kursi Kongres Amerika Serikat.

Perhatian politiknya mencakup keadilan sosial, hak pekerja, perlindungan lingkungan, serta pengawasan terhadap kebijakan luar negeri Amerika.

Sebagai anggota Kongres keturunan Palestina, ia dikenal lantang memperjuangkan perlindungan warga sipil, hak menentukan nasib sendiri bagi Palestina, serta penegakan ketentuan hukum dalam penyaluran persenjataan.

5. Ilhan Omar — Anggota DPR AS dari Minnesota

Ilhan Omar merupakan politikus Demokrat kelahiran Somalia yang mempertahankan daerah pemilihan ke-5 Minnesota untuk masa jabatan kelima.

Pengalamannya sebagai pengungsi sebelum menetap di Amerika Serikat berkaitan erat dengan pembelaannya terhadap hak pengungsi dan imigran.

Omar menjadi warga Amerika keturunan Somalia pertama yang menjabat sebagai legislator federal ketika mulai bertugas di Kongres pada 2019.

Agenda politiknya meliputi keadilan ekonomi dan rasial, perluasan layanan kesehatan, bantuan kemanusiaan, serta pengawasan terhadap transfer senjata Amerika kepada negara lain.

6. André Carson — Anggota DPR AS dari Indiana

André Carson merupakan politikus Demokrat yang kembali memenangi daerah pemilihan ke-7 Indiana, yang mencakup wilayah Indianapolis.

Ia pertama kali masuk Kongres melalui pemilihan khusus pada 2008 dan menjadi anggota Muslim dengan masa pengabdian terpanjang di antara anggota DPR AS yang masih menjabat.

Carson memiliki latar belakang pekerjaan dalam bidang penegakan hukum sebelum mengembangkan karier politik di tingkat lokal dan federal.

Perhatian kebijakannya mencakup pelayanan kesehatan, infrastruktur, hak sipil, kesetaraan rasial, bantuan kemanusiaan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

7. Lateefah Simon — Anggota DPR AS dari California

Lateefah Simon merupakan aktivis hak sipil yang mempertahankan daerah pemilihan ke-12 California setelah pertama kali terpilih ke Kongres dalam pemilu 2024.

Ia memiliki pengalaman panjang dalam pengorganisasian masyarakat dan pernah menjadi anggota dewan pengelola transportasi regional Bay Area Rapid Transit atau BART.

Simon juga dikenal melalui pendampingan kelompok rentan dan penghargaan MacArthur yang diterimanya pada usia 26 tahun.

Agenda politiknya mencakup perumahan terjangkau, hak penyewa, transportasi umum, reformasi peradilan, perlindungan imigran, dan perluasan akses pelayanan kesehatan.

Dua Senator Negara Bagian, Dekat dengan Persoalan Warga

8. Aber Kawas — Senator Negara Bagian New York terpilih

Aber Kawas merupakan pengorganisasi masyarakat keturunan Palestina yang memenangi kursi Senat Negara Bagian New York dari distrik ke-12.

Ia tumbuh dalam keluarga pekerja di New York dan menyebut pengalaman ayahnya ditahan serta dideportasi sebagai salah satu peristiwa yang membentuk kepeduliannya terhadap keadilan imigrasi.

Kawas memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun dalam pengorganisasian masyarakat, termasuk perjuangan kenaikan upah minimum serta pembelaan komunitas yang menghadapi pengawasan dan diskriminasi. Our Revolution

Programnya menekankan perumahan terjangkau, pelayanan kesehatan, hak imigran, dan pembelaan keluarga pekerja, dengan mandat legislatif negara bagian yang dijalankan di Albany.

BACA JUGA:  Angka Stabil, Penganggur Bertambah: 13,6 Juta Orang di Uni Eropa Belum Bekerja

9. Nabeela Syed — Senator Negara Bagian Illinois terpilih

Nabeela Syed merupakan politikus Demokrat keturunan India yang mengalahkan petahana Republik Darby Hills dalam pemilihan Senat Negara Bagian Illinois distrik ke-26.

Sebelumnya, ia menjabat anggota DPR Negara Bagian Illinois dari distrik ke-51 setelah memenangi pemilu 2022 dan mulai bertugas pada Januari 2023.

Syed menempuh pendidikan administrasi bisnis dan ilmu politik di University of California, Berkeley, serta memiliki pengalaman dalam kegiatan kampanye dan strategi digital organisasi nirlaba.

Kiprah legislatifnya berfokus pada keterjangkauan obat resep, perluasan pemeriksaan kanker payudara, cuti bagi donor organ, serta kemudahan akses memilih bagi generasi muda.

Menang di Bilik Suara, Diuji di Ruang Kekuasaan

Dicky mengingatkan bahwa masuknya politisi Muslim ke lembaga legislatif belum otomatis mengubah kebijakan Amerika karena mereka harus berhadapan dengan struktur partai, kepentingan donor, dan kelompok lobi yang telah lama berpengaruh.

Ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi sikap serta kemandirian pendanaan agar janji kepada konstituen tidak dikalahkan kepentingan penyandang dana.

Salah satu organisasi yang menjadi perhatiannya ialah AIPAC, singkatan dari American Israel Public Affairs Committee, yang secara terbuka memperjuangkan penguatan hubungan AS–Israel melalui kegiatan politik dan jaringan pendukungnya.

“Etika dan nilai-nilai dalam politik itu penting,” kata Dicky.

Menurut dia, politisi yang berpendidikan, berintegritas, dan aktif bekerja bersama masyarakat memiliki peluang memperoleh kepercayaan ketika pemilih menilai elite lama tidak lagi mendengarkan mereka.

Sementara itu, Wahyuddin menempatkan tantangan setelah kemenangan pada kemampuan membangun kerja sama dan memastikan kebijakan memberi manfaat kepada seluruh warga daerah pemilihan.

“Mereka harus mampu bekerja sama dengan siapa pun dan membuktikan bahwa nilai-nilai yang mereka bawa benar-benar tercermin dalam kebijakan dan pelayanan publik,” ujarnya.

Perbedaan kewenangan juga menentukan ruang kerja mereka karena anggota Kongres federal terlibat dalam legislasi dan pengawasan nasional, sedangkan senator negara bagian memperjuangkan kebijakan pada tingkat negara bagiannya.

Lebih Luas dari Sembilan Nama

Di luar sembilan tokoh tersebut, Aisha Wahab telah mendeklarasikan kemenangan untuk masa jabatan penuh di daerah pemilihan ke-14 California, tetapi pembaruan CAIR dan CAIR Action pada 5 November 2026 masih mencatat hasil akhirnya sebagai tertunda.

Kantor pusat CAIR (Council on American-Islamic Relations) di Washington, D.C., ibu kota Amerika Serikat. (Foto: Istimewa).
Kantor pusat CAIR (Council on American-Islamic Relations) di Washington, D.C., ibu kota Amerika Serikat. (Foto: Istimewa).

Wahab telah menduduki kursi itu setelah memenangi pemilihan khusus pada Agustus dan berpeluang menambah jumlah pemenang Muslim dalam pemilu Kongres November menjadi delapan apabila hasilnya memperoleh kepastian.

Secara nasional, pemantauan sementara kedua organisasi tersebut mencatat sedikitnya 97 kemenangan kandidat Muslim pada tingkat federal, negara bagian, dan lokal di 21 negara bagian, termasuk 38 kemenangan legislatif negara bagian.

Angka sementara itu melampaui 82 kemenangan yang dicatat dalam pemilu sela 2022, tetapi tetap harus dibaca sebagai hasil pemantauan organisasi yang masih menunggu penghitungan lanjutan dan sertifikasi resmi. cair.com

Bagi Wahyuddin, pelajaran untuk Indonesia terletak pada ukuran keberhasilan politik umat Islam yang perlu bergerak menuju mutu kepemimpinan, integritas, dan keberpihakan yang dapat dirasakan masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa simbol keagamaan mudah ditampilkan dalam kampanye, sedangkan kualitas moral dan intelektual baru terlihat ketika seorang politisi harus mengambil keputusan serta mempertanggungjawabkan kekuasaan.

“Jangan hanya bercita-cita memiliki banyak politisi Muslim, tetapi bercita-citalah melahirkan banyak politisi yang memiliki kualitas moral, intelektual, dan keberpihakan kepada kepentingan publik,” tegas Wahyuddin.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru