Sigit juga meminta masyarakat mewaspadai ancaman awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai maupun lembah yang berhulu di puncak Semeru.
Lewotobi Laki-Laki Masih Level Siaga
Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, juga masih berstatus Level III atau Siaga.
Pada Minggu (6/9/2026), gunung tersebut terpantau jelas hingga tertutup kabut 0-I. Asap kawah utama terlihat berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, dengan ketinggian sekitar 50-100 meter dari puncak.
Gunung Lewotobi Laki-Laki sebelumnya kembali mengalami erupsi pada Selasa (1/9/2026) pukul 12.42 WITA. Saat itu, kolom abu teramati mencapai sekitar 300 meter di atas puncak.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-Laki Bramantya Aji Putra Mahendra mengatakan kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat hingga barat laut.
“Abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan condong ke arah barat hingga of barat laut,” katanya.
Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 29,6 milimeter dan durasi sekitar tiga menit 17 detik.
Dengan status Level III, PVMBG mengimbau masyarakat dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.
Warga juga diminta mewaspadai potensi banjir lahar hujan apabila terjadi hujan berintensitas tinggi, terutama di wilayah yang berada di sekitar aliran sungai berhulu di puncak Lewotobi Laki-Laki.
Wilayah yang perlu mendapat perhatian antara lain Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote.
Aktivitas sejumlah gunung api pada akhir pekan ini menunjukkan pentingnya masyarakat mengikuti informasi resmi dan rekomendasi PVMBG.
Meski karakter aktivitas masing-masing gunung berbeda, rekomendasi utama yang ditekankan adalah menjauhi zona bahaya sesuai radius yang telah ditetapkan.
Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya dan mengikuti arahan pemerintah daerah maupun petugas di lapangan.
Kondisi aktivitas gunung api dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, perkembangan terbaru dan perubahan rekomendasi perlu terus dipantau, khususnya bagi masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar kawasan rawan bencana.

