AS Buru Komando Siber Iran dengan Hadiah 10 Juta Dolar, Adi Suryadi Culla: Perang Bergeser ke Siber

SulawesiPos.com – Pemerintah Amerika Serikat melalui program Rewards for Justice, Departemen Luar Negeri AS, menawarkan hadiah hingga US$10 juta bagi informasi yang dapat membantu mengidentifikasi atau menemukan Amir Yaryab, pejabat senior Komando Siber-Elektronik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC-CEC).

Tawaran tersebut muncul di tengah tuduhan Washington bahwa jaringan yang berada di bawah pengawasan Amir Yaryab terlibat dalam operasi siber terhadap infrastruktur kritis Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah.

Berita yang dipublikasikan pada awal September 2026 itu bersumber dari pengumuman resmi Rewards for Justice, Departemen Luar Negeri AS, serta diperkuat laporan The Record from Recorded Future News, dan sejumlah kajian keamanan siber yang membahas peningkatan ancaman terhadap infrastruktur sipil dan industri Amerika Serikat.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan, Yaryab merupakan pejabat senior IRGC-CEC yang memimpin Cyber Operations Command serta mengarahkan beberapa komponen siber yang menurut Washington menjalankan operasi ofensif terhadap sasaran strategis.

Rewards for Justice menjelaskan, tawaran hadiah tersebut berada dalam kerangka hukum AS yang memungkinkan pemberian imbalan bagi informasi mengenai individu yang bertindak atas arahan atau kendali pemerintah asing dan terlibat dalam aktivitas siber berbahaya terhadap infrastruktur kritis Amerika Serikat dengan dugaan pelanggaran Computer Fraud and Abuse Act.

BACA JUGA:  Aturan Pembatasan Gawai di Sekolah, Apa Kata Hukum?

Washington menuduh Yaryab mengarahkan unit Shahid Hemmat dan Shahid Shushtari, serta mengawasi operasi kelompok atau entitas lain yang berafiliasi dengan IRGC-CEC seperti CyberAv3ngers, Dadeh Afzar Arman (DAA), dan Mehrsam Andisheh Saz Nik (MASN).

AS menawarkan hadiah hingga US$10 juta untuk informasi Amir Yaryab, pejabat senior IRGC-CEC yang dituduh Washington mengarahkan operasi siber terhadap infrastruktur strategis (Dok. Ilustrasi)

Menurut pemerintah AS, jaringan tersebut telah menargetkan sektor pertahanan, media, pelayaran, hotel dan penerbangan, energi, keuangan, serta telekomunikasi di Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah dengan menggunakan operasi siber dan perangkat lunak berbahaya.

Namun, tuduhan terhadap Yaryab tetap merupakan posisi resmi pemerintah Amerika Serikat dan tidak dengan sendirinya merupakan putusan pengadilan ataupun pembuktian hukum independen atas semua aktivitas yang dikaitkan dengannya.

Adi Suryadi Culla: Perang Kini Bergerak dari Real Space ke Cyber Space

Jurnalis SulawesiPos.com menghubungi Dr. H. Adi Suryadi Culla, M.A., dosen senior Departemen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, pada Sabtu (5/9/2026), untuk menelaah makna strategis langkah Washington tersebut dalam perkembangan hubungan internasional kontemporer.

BACA JUGA:  Dolar AS Terendah dalam 4 Tahun: Ancaman bagi Washington, Peluang Strategis bagi Indonesia

Menurut Adi, persoalan paling penting dari kasus Amir Yaryab bukan sekadar besarnya hadiah yang diumumkan Washington, tetapi perubahan mendasar pada struktur ancaman keamanan internasional akibat transformasi teknologi digital.

“Saat ini ancaman siber merupakan suatu realitas yang tidak terelakkan dalam politik internasional karena aktivitas politik global telah mengalami transformasi dari ruang nyata atau real space menuju ruang maya atau cyber space, termasuk dalam bentuk peperangan,” kata Adi.

Ia menilai perkembangan tersebut telah mengubah pengertian tradisional tentang kekuatan negara karena kemampuan militer tidak lagi hanya dihitung dari jumlah pesawat tempur, kapal perang, rudal, ataupun pasukan, melainkan juga kemampuan menyerang dan mempertahankan jaringan digital strategis.

“Persepsi keamanan kini berubah dari peperangan secara fisik menjadi peperangan melalui dunia maya, dan inilah salah satu perkembangan yang mencemaskan bagi keamanan internasional karena pada dasarnya tidak ada negara yang sepenuhnya kebal terhadap serangan siber,” ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan perkembangan keamanan global ketika sistem air, energi, transportasi, komunikasi, rumah sakit, perbankan, hingga instalasi industri semakin bergantung pada jaringan komputer sehingga sebuah serangan digital berpotensi menghasilkan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.

BACA JUGA:  Rudal dan Diplomasi Berjalan Bersamaan: Iran Kirim Sinyal Keras ke Israel, Pesan Strategis ke Dunia

Iran Tak Bisa Lagi Dipandang Hanya dari Kekuatan Konvensional

Adi melihat pengumuman hadiah US$10 juta oleh Washington sebagai indikator bahwa kapabilitas siber Iran telah memperoleh perhatian serius dalam perhitungan keamanan Amerika Serikat.

“Amerika tampak sangat serius menghadapi kemampuan Iran karena kapabilitas negara itu tidak hanya berada pada persenjataan konvensional, tetapi juga berkembang pada kemampuan siber, sehingga Iran tidak bisa lagi dipandang remeh dalam kalkulasi kekuatan modern,” katanya.

Ia menilai langkah Rewards for Justice menggambarkan tingginya perhatian Washington terhadap orang-orang yang dinilai memiliki posisi strategis dalam struktur komando operasi siber Iran.

“Hadiah hingga US$10 juta untuk memperoleh informasi mengenai Amir Yaryab menunjukkan bahwa posisi dan jaringan yang dikaitkan dengannya dipandang sangat penting oleh Amerika Serikat,” ujar Adi.

SulawesiPos.com – Pemerintah Amerika Serikat melalui program Rewards for Justice, Departemen Luar Negeri AS, menawarkan hadiah hingga US$10 juta bagi informasi yang dapat membantu mengidentifikasi atau menemukan Amir Yaryab, pejabat senior Komando Siber-Elektronik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC-CEC).

Tawaran tersebut muncul di tengah tuduhan Washington bahwa jaringan yang berada di bawah pengawasan Amir Yaryab terlibat dalam operasi siber terhadap infrastruktur kritis Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah.

Berita yang dipublikasikan pada awal September 2026 itu bersumber dari pengumuman resmi Rewards for Justice, Departemen Luar Negeri AS, serta diperkuat laporan The Record from Recorded Future News, dan sejumlah kajian keamanan siber yang membahas peningkatan ancaman terhadap infrastruktur sipil dan industri Amerika Serikat.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan, Yaryab merupakan pejabat senior IRGC-CEC yang memimpin Cyber Operations Command serta mengarahkan beberapa komponen siber yang menurut Washington menjalankan operasi ofensif terhadap sasaran strategis.

Rewards for Justice menjelaskan, tawaran hadiah tersebut berada dalam kerangka hukum AS yang memungkinkan pemberian imbalan bagi informasi mengenai individu yang bertindak atas arahan atau kendali pemerintah asing dan terlibat dalam aktivitas siber berbahaya terhadap infrastruktur kritis Amerika Serikat dengan dugaan pelanggaran Computer Fraud and Abuse Act.

BACA JUGA:  Arab Saudi 2026 Raih Penghargaan Tertinggi PBB, Ustadz Das'ad Latif: Teknologi Harus Melayani Kemanusiaan

Washington menuduh Yaryab mengarahkan unit Shahid Hemmat dan Shahid Shushtari, serta mengawasi operasi kelompok atau entitas lain yang berafiliasi dengan IRGC-CEC seperti CyberAv3ngers, Dadeh Afzar Arman (DAA), dan Mehrsam Andisheh Saz Nik (MASN).

AS menawarkan hadiah hingga US$10 juta untuk informasi Amir Yaryab, pejabat senior IRGC-CEC yang dituduh Washington mengarahkan operasi siber terhadap infrastruktur strategis (Dok. Ilustrasi)

Menurut pemerintah AS, jaringan tersebut telah menargetkan sektor pertahanan, media, pelayaran, hotel dan penerbangan, energi, keuangan, serta telekomunikasi di Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah dengan menggunakan operasi siber dan perangkat lunak berbahaya.

Namun, tuduhan terhadap Yaryab tetap merupakan posisi resmi pemerintah Amerika Serikat dan tidak dengan sendirinya merupakan putusan pengadilan ataupun pembuktian hukum independen atas semua aktivitas yang dikaitkan dengannya.

Adi Suryadi Culla: Perang Kini Bergerak dari Real Space ke Cyber Space

Jurnalis SulawesiPos.com menghubungi Dr. H. Adi Suryadi Culla, M.A., dosen senior Departemen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, pada Sabtu (5/9/2026), untuk menelaah makna strategis langkah Washington tersebut dalam perkembangan hubungan internasional kontemporer.

BACA JUGA:  Beton Pemberat Crane Proyek RS di Makassar Melintas di Atas Jalan, Dosen Unhas Soroti K3

Menurut Adi, persoalan paling penting dari kasus Amir Yaryab bukan sekadar besarnya hadiah yang diumumkan Washington, tetapi perubahan mendasar pada struktur ancaman keamanan internasional akibat transformasi teknologi digital.

“Saat ini ancaman siber merupakan suatu realitas yang tidak terelakkan dalam politik internasional karena aktivitas politik global telah mengalami transformasi dari ruang nyata atau real space menuju ruang maya atau cyber space, termasuk dalam bentuk peperangan,” kata Adi.

Ia menilai perkembangan tersebut telah mengubah pengertian tradisional tentang kekuatan negara karena kemampuan militer tidak lagi hanya dihitung dari jumlah pesawat tempur, kapal perang, rudal, ataupun pasukan, melainkan juga kemampuan menyerang dan mempertahankan jaringan digital strategis.

“Persepsi keamanan kini berubah dari peperangan secara fisik menjadi peperangan melalui dunia maya, dan inilah salah satu perkembangan yang mencemaskan bagi keamanan internasional karena pada dasarnya tidak ada negara yang sepenuhnya kebal terhadap serangan siber,” ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan perkembangan keamanan global ketika sistem air, energi, transportasi, komunikasi, rumah sakit, perbankan, hingga instalasi industri semakin bergantung pada jaringan komputer sehingga sebuah serangan digital berpotensi menghasilkan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.

BACA JUGA:  Rudal dan Diplomasi Berjalan Bersamaan: Iran Kirim Sinyal Keras ke Israel, Pesan Strategis ke Dunia

Iran Tak Bisa Lagi Dipandang Hanya dari Kekuatan Konvensional

Adi melihat pengumuman hadiah US$10 juta oleh Washington sebagai indikator bahwa kapabilitas siber Iran telah memperoleh perhatian serius dalam perhitungan keamanan Amerika Serikat.

“Amerika tampak sangat serius menghadapi kemampuan Iran karena kapabilitas negara itu tidak hanya berada pada persenjataan konvensional, tetapi juga berkembang pada kemampuan siber, sehingga Iran tidak bisa lagi dipandang remeh dalam kalkulasi kekuatan modern,” katanya.

Ia menilai langkah Rewards for Justice menggambarkan tingginya perhatian Washington terhadap orang-orang yang dinilai memiliki posisi strategis dalam struktur komando operasi siber Iran.

“Hadiah hingga US$10 juta untuk memperoleh informasi mengenai Amir Yaryab menunjukkan bahwa posisi dan jaringan yang dikaitkan dengannya dipandang sangat penting oleh Amerika Serikat,” ujar Adi.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru