Forum Ekonomi Timur sendiri diselenggarakan di kampus Far Eastern Federal University untuk menarik investasi ke wilayah Timur Jauh Rusia, sebuah kawasan luas yang kaya sumber daya alam serta berada lebih dekat secara geografis dengan negara-negara Asia-Pasifik dibandingkan pusat politik Rusia di Moskwa.
Energi Rusia dan Ujian Politik Bebas Aktif
Energi menjadi salah satu agenda paling strategis karena Indonesia berusaha mendiversifikasi sumber minyak mentah di tengah ketidakpastian geopolitik, gangguan rantai pasok, serta risiko fluktuasi harga energi dunia.
Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan Hidup Hashim Djojohadikusumo pada April 2026 menyatakan Indonesia memperoleh komitmen pasokan hingga 150 juta barel minyak Rusia dengan harga khusus, yang terdiri atas pasokan awal 100 juta barel dan opsi tambahan 50 juta barel apabila diperlukan.
Indonesia kemudian menerima pengiriman awal minyak mentah Rusia sekitar 770.000 barel pada Juli 2026, sedangkan kehadiran Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam delegasi Vladivostok menunjukkan bahwa ketahanan pasokan dan kemungkinan kontrak jangka panjang menjadi bagian penting dari hubungan kedua negara.
Walaupun minyak Rusia menawarkan peluang diversifikasi dan kemungkinan harga kompetitif, Indonesia tetap perlu memperhitungkan mutu minyak, kesesuaian kilang, biaya pengangkutan, mekanisme pembayaran, asuransi pelayaran, serta risiko sanksi sekunder akibat perang Rusia–Ukraina.
Kerja sama energi kedua negara juga mencakup kemungkinan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir karena perusahaan negara Rusia, Rosatom, sebelumnya menyatakan kesiapan membantu Indonesia mengembangkan teknologi nuklir sipil, pelatihan tenaga ahli, keselamatan reaktor, dan infrastruktur pendukung.
Pembahasan nuklir harus ditempatkan dalam kerangka keselamatan jangka panjang karena keuntungan berupa pasokan listrik rendah karbon dan stabil wajib diimbangi pengawasan independen, pengelolaan limbah radioaktif, kesiapan lokasi, transparansi biaya, serta penerimaan masyarakat.
Kedekatan Jakarta–Moskwa juga berkembang pada bidang pertahanan melalui pendidikan militer, latihan angkatan laut, dan penjajakan pengadaan teknologi, tetapi Indonesia menegaskan bahwa kerja sama tersebut tidak berarti berpihak kepada Rusia dalam persaingan geopolitik global.
Politik luar negeri bebas aktif memungkinkan Indonesia bekerja sama dengan Rusia sekaligus mempertahankan hubungan strategis dengan Amerika Serikat, Uni Eropa, China, Jepang, dan negara-negara lain tanpa mengikatkan diri secara permanen pada satu blok kekuatan.
Posisi ini semakin relevan setelah Indonesia menjadi anggota penuh BRICS pada 2025 karena Jakarta memiliki ruang lebih besar untuk memperjuangkan kepentingan negara berkembang, reformasi tata kelola global, akses pembiayaan pembangunan, serta perdagangan yang lebih adil tanpa meninggalkan ASEAN sebagai jangkar utama kebijakan regionalnya.
Prabowo dan Putin Sepakati Kerjasama Energi dan Perdagangan Eurasia
Pertemuan Prabowo–Putin di Vladivostok pada akhirnya menjadi ujian apakah hubungan politik yang semakin dekat dapat diterjemahkan menjadi proyek ekonomi yang transparan, berkelanjutan, bebas ketergantungan, dan benar-benar meningkatkan ketahanan energi, lapangan kerja, transfer teknologi, serta kesejahteraan masyarakat Indonesia. (Ali)

