Habitat pada kedalaman 350–500 meter menghadirkan tekanan sekitar 35–50 kali tekanan atmosfer di permukaan, suhu rendah, makanan terbatas, serta cahaya Matahari yang sangat lemah hingga nyaris tidak tersedia.
Meskipun memiliki mata besar, ikan itu tidak segera bereaksi ketika kendaraan penelitian mendekat, tetapi salah satu matanya terlihat bergerak menuju sumber cahaya sebelum berenang menjauh.
Respons tersebut memunculkan pertanyaan ilmiah mengenai seberapa besar S. engyceros masih mengandalkan penglihatan atau apakah ikan itu sesekali bergerak menuju lapisan yang lebih dangkal.
Tim peneliti juga mengamati enam individu Peristedion liorhynchus di sebuah ngarai bawah laut, berbeda dari habitat gunung laut tempat S. engyceros ditemukan.
Berdasarkan hubungan taksonominya, tiga jenis ikan Peristediidae yang diamati diperkirakan berasal dari nenek moyang bersama yang hidup sekitar 60–70 juta tahun lalu.
Rentang evolusi panjang tersebut memungkinkan kelompok ikan ini mengembangkan lempeng tulang, struktur sensoris, sirip penggerak, dan perilaku yang menopang kehidupan dalam lingkungan ekstrem.
China Berani Berinvestasi pada Pengetahuan
Prof. Khusnul menilai arti penting penelitian itu tidak terbatas pada penemuan perilaku unik seekor ikan, tetapi juga memperlihatkan keberanian China membangun ilmu pengetahuan yang manfaat ekonominya mungkin belum dapat dinikmati dalam waktu singkat.
“Penemuan tersebut tidak hanya memperkaya pemahaman mengenai biodiversitas dan evolusi organisme laut dalam, tetapi juga memperlihatkan kemajuan sains dan teknologi China,” ujarnya.
Menurut dia, investasi pada kapal selam berawak, kendaraan bawah air, kamera beresolusi tinggi, dan pengamatan ekologi laut dalam menunjukkan bahwa penelitian dasar tidak selalu harus diukur berdasarkan keuntungan ekonomi jangka pendek.
“Mereka tampaknya tidak lagi membatasi penelitian pada pragmatisme jangka pendek, yakni setiap kegiatan harus segera menghasilkan keuntungan ekonomi, karena manfaatnya mungkin belum terlihat sekarang, tetapi nilainya sangat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia dalam jangka panjang,” kata Prof. Khusnul.
Observasi langsung memungkinkan ilmuwan mempelajari gerakan, pencarian makanan, keseimbangan tubuh, respons terhadap cahaya, dan interaksi organisme dengan habitatnya, sedangkan spesimen yang telah mati umumnya hanya memberikan informasi mengenai anatomi dan klasifikasi.
“Penelitian semacam ini sangat penting untuk memetakan biodiversitas, memahami evolusi, mengungkap adaptasi fisiologis dan perilaku, serta merumuskan strategi perlindungan ekosistem laut dalam,” jelasnya.
Pengetahuan tentang adaptasi biota laut juga dapat melahirkan inovasi biomimetika, termasuk pengembangan robot yang mampu bergerak di lumpur, pasir, perairan dangkal, atau lingkungan ekstrem untuk penelitian, pencarian korban, dan pemantauan ekosistem.
Indonesia Harus Menjaga Kedaulatan Data Laut
Bagi Indonesia, temuan tersebut membawa pesan penting karena sebagian besar wilayah laut dalam nasional belum dipetakan dan diteliti secara terperinci, padahal berada pada pertemuan Samudra Pasifik dan Hindia serta kawasan Segitiga Terumbu Karang.
Ekspedisi BRIN dan OceanX pada 2024 telah memetakan lima gunung bawah laut yang sebelumnya belum dikenal di perairan utara Sulawesi, kemudian dilanjutkan melalui ekspedisi gunung laut Sulawesi pada Desember 2025–Januari 2026 untuk mempelajari hubungan geologi, biodiversitas, dan proses ekosistem laut dalam.
Pada Juli 2026, BRIN kembali menegaskan bahwa gunung bawah laut merupakan laboratorium alami penting untuk memahami biodiversitas, proses geologi, dan ketahanan ekosistem Indonesia.
Prof. Khusnul mendorong peningkatan kerja sama penelitian kelautan Indonesia–China, tetapi kolaborasi itu harus dibangun secara setara, transparan, dan tetap menjamin kepemilikan Indonesia atas data, spesimen, informasi genetik, serta pengetahuan mengenai sumber daya lautnya.

