“Indonesia sudah sepatutnya meningkatkan kerja sama penelitian kelautan dengan China, tentunya dalam kerangka yang setara dan menjaga kedaulatan data biodiversitas nasional,” katanya.
“Laut Indonesia belum diteliti secara memadai dan sangat mungkin menyimpan banyak biota unik yang belum dikenal, bahkan berpotensi mengubah berbagai pandangan ilmiah yang berkembang saat ini,” lanjut Prof. Khusnul.
Ia menekankan bahwa eksplorasi harus disertai penguatan kapal riset nasional, laboratorium genomik, teknologi kendaraan bawah air, kemampuan taksonomi, basis data biodiversitas, serta pendidikan generasi baru ahli kelautan Indonesia.
“Karena itu, eksplorasi laut dalam seharusnya ditempatkan sebagai investasi strategis bagi masa depan sains Indonesia,” tegasnya.
Ikan “moonwalk” tersebut pada akhirnya bukan sekadar tontonan unik dari kegelapan samudra, melainkan pengingat bahwa kekayaan terbesar di laut tidak selalu langsung terlihat sebagai komoditas karena sebagian di antaranya hadir sebagai pengetahuan yang dapat menjaga ekosistem, menggerakkan teknologi, dan membangun peradaban manusia. (Ali)

