Startup Jerman Ciptakan Panel Surya Penghasil Hidrogen Hijau Tanpa Listrik, Pakar Unhas Sebut Berpotensi Ubah Paradigma Energi Dunia

SulawesiPos.com – Perusahaan rintisan asal Jerman, Photreon, yang merupakan spin-off dari Karlsruhe Institute of Technology (KIT), memperkenalkan panel surya inovatif yang mampu menghasilkan hidrogen hijau langsung dari sinar matahari dan air tanpa menggunakan listrik maupun elektroliser dalam pameran industri Hannover Messe 2026, sebagai upaya menyederhanakan, menekan biaya, dan memperluas akses produksi energi hidrogen ramah lingkungan, demikian dilaporkan The Times of India pada Minggu (7/6/2026).

Teknologi tersebut dikembangkan untuk mengatasi kendala utama produksi hidrogen hijau yang selama ini membutuhkan dua sistem terpisah, yaitu panel surya untuk menghasilkan listrik dan elektroliser untuk memecah molekul air menjadi hidrogen dan oksigen.

Mengubah Sinar Matahari Langsung Menjadi Bahan Bakar

Photreon menampilkan prototipe panel berukuran satu meter persegi yang bekerja sebagai photoreactor panel dan mampu mengubah energi matahari langsung menjadi hidrogen melalui proses fotokatalisis.

Dalam sistem ini, energi cahaya tidak terlebih dahulu dikonversi menjadi listrik, melainkan langsung digunakan untuk memicu reaksi kimia yang memisahkan molekul air menjadi hidrogen dan oksigen.

Para peneliti menggunakan material peka cahaya khusus yang menyerap energi matahari dan membangkitkan elektron untuk menjalankan proses pemecahan air secara langsung.

Salah satu keunggulan utama teknologi tersebut adalah hilangnya kebutuhan terhadap elektroliser yang selama ini menjadi komponen paling mahal dalam produksi hidrogen hijau.

BACA JUGA:  Mayat Pria Ditemukan di Belakang Gedung Teaching Industry Unhas, Diduga Sudah Meninggal 3 Hari

Penghapusan elektroliser juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada logam-logam langka dan mahal seperti iridium serta platinum yang banyak digunakan dalam sistem elektrolisis konvensional.

Pendiri Photreon, Paul Kant, menjelaskan bahwa desain internal panel memungkinkan proses penyerapan cahaya, pemecahan air, dan pemisahan gas berlangsung secara simultan dalam satu sistem terpadu.

Rancangan internal panel tersebut bahkan telah diajukan untuk perlindungan paten karena dianggap menjadi kunci keberhasilan teknologi yang dikembangkan perusahaan.

Lebih dari Sekadar Panel Surya

Menanggapi inovasi tersebut, pakar teknik kontrol dan mekatronika Universitas Hasanuddin, Dr. Eng. Ir. Andi Amijoyo Mochtar, ST., M.Sc., menilai teknologi Photreon bukan sekadar terobosan pada bidang material energi, tetapi juga menghadirkan paradigma baru dalam rekayasa sistem energi berbasis mekatronika.

“Yang menarik dari teknologi ini adalah panel tidak lagi berfungsi sebagai pembangkit listrik, melainkan sebagai reaktor kimia cerdas yang langsung menghasilkan bahan bakar. Ini merupakan pergeseran paradigma yang sangat signifikan dalam teknologi energi surya,” kata Andi Amijoyo kepada jurnalis Sulawesi Pos, Kamis (18/6/2026).

Menurutnya, istilah “tanpa listrik” kerap disalahpahami karena energi tetap digunakan, namun tidak melalui tahapan konversi menjadi arus listrik sebagaimana panel fotovoltaik konvensional.

Ia menjelaskan bahwa energi matahari pada sistem ini langsung dimanfaatkan untuk memicu reaksi fotokatalitik yang memecah molekul air menjadi hidrogen dan oksigen.

BACA JUGA:  Unhas Perketat Sistem UTBK SNBT 2026, Pengawasan Berlapis untuk Cegah Kecurangan

Andi Amijoyo menekankan bahwa keberhasilan teknologi tersebut tidak hanya ditentukan oleh kualitas material fotokatalis, tetapi juga oleh kemampuan sistem dalam mengendalikan berbagai parameter operasi secara presisi.

Variabel seperti intensitas cahaya, distribusi air, temperatur panel, tekanan gas, kemurnian hidrogen, serta pemisahan hidrogen dan oksigen harus dijaga secara stabil agar sistem dapat bekerja aman dan efisien.

Dalam perspektif teknik kontrol, hal tersebut membutuhkan penerapan sistem kendali tertutup yang melibatkan sensor, aktuator, pompa fluida, katup mikro, dan mekanisme pendinginan otomatis.

“Tanpa sistem kendali yang baik, efisiensi produksi hidrogen dapat menurun drastis dan risiko pencampuran gas hidrogen serta oksigen bisa meningkat, padahal kondisi itu sangat berbahaya dalam operasi industri,” ujarnya.

Dari sudut pandang mekatronika, panel hidrogen tersebut lebih tepat dipandang sebagai modul reaktor cerdas yang mengintegrasikan struktur mekanik, proses kimia, sistem fluida, sensor, otomasi, dan pemantauan digital dalam satu perangkat.

Ia menilai teknologi tersebut pada masa depan idealnya dilengkapi dengan sensor Internet of Things (IoT), sistem deteksi kebocoran hidrogen, pengendalian tekanan otomatis, serta mekanisme penghentian darurat ketika terjadi kondisi abnormal.

Peluang Besar, Tantangan Masih Menanti

Andi Amijoyo melihat peluang besar penerapan teknologi ini di Indonesia yang memiliki intensitas penyinaran matahari tinggi dan banyak wilayah dengan kebutuhan energi terdesentralisasi.

BACA JUGA:  FK Unhas Mulai Estafet Kepemimpinan Baru, Riset dan Mutu Pendidikan Diperkuat

Menurutnya, apabila berhasil dikomersialisasikan, panel hidrogen dapat dimanfaatkan untuk kawasan industri, pulau-pulau terpencil, sistem energi mandiri, pertanian presisi, laboratorium riset, hingga kendaraan dan robot otonom berbasis hidrogen.

Teknologi tersebut juga membuka peluang penelitian baru di bidang desain mikroreaktor, sensor keselamatan gas, sistem kontrol produksi hidrogen, penyimpanan hidrogen skala kecil, serta integrasi hidrogen sebagai sumber energi masa depan.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi fotokatalisis hidrogen bukanlah konsep yang sepenuhnya baru dan selama lebih dari dua dekade masih menghadapi tantangan efisiensi menuju tahap komersial.

Sejumlah persoalan yang masih harus dibuktikan antara lain umur pakai material fotokatalis, stabilitas produksi hidrogen saat cuaca berubah, keamanan penyimpanan gas, efisiensi aktual per meter persegi, serta biaya produksi ketika teknologi masuk ke skala industri.

“Jika efisiensi dan keandalannya benar-benar dapat dibuktikan dalam jangka panjang, teknologi ini berpotensi menjadi fondasi baru produksi hidrogen hijau terdesentralisasi, terutama bagi negara tropis seperti Indonesia yang memiliki sumber daya matahari melimpah,” tuturnya.

Keberhasilan komersialisasi teknologi Photreon berpotensi menjadi salah satu terobosan paling penting dalam transisi energi global karena memungkinkan produksi hidrogen hijau yang lebih sederhana, lebih murah, dan lebih mandiri dibandingkan metode konvensional yang digunakan saat ini. (Ali)

SulawesiPos.com – Perusahaan rintisan asal Jerman, Photreon, yang merupakan spin-off dari Karlsruhe Institute of Technology (KIT), memperkenalkan panel surya inovatif yang mampu menghasilkan hidrogen hijau langsung dari sinar matahari dan air tanpa menggunakan listrik maupun elektroliser dalam pameran industri Hannover Messe 2026, sebagai upaya menyederhanakan, menekan biaya, dan memperluas akses produksi energi hidrogen ramah lingkungan, demikian dilaporkan The Times of India pada Minggu (7/6/2026).

Teknologi tersebut dikembangkan untuk mengatasi kendala utama produksi hidrogen hijau yang selama ini membutuhkan dua sistem terpisah, yaitu panel surya untuk menghasilkan listrik dan elektroliser untuk memecah molekul air menjadi hidrogen dan oksigen.

Mengubah Sinar Matahari Langsung Menjadi Bahan Bakar

Photreon menampilkan prototipe panel berukuran satu meter persegi yang bekerja sebagai photoreactor panel dan mampu mengubah energi matahari langsung menjadi hidrogen melalui proses fotokatalisis.

Dalam sistem ini, energi cahaya tidak terlebih dahulu dikonversi menjadi listrik, melainkan langsung digunakan untuk memicu reaksi kimia yang memisahkan molekul air menjadi hidrogen dan oksigen.

Para peneliti menggunakan material peka cahaya khusus yang menyerap energi matahari dan membangkitkan elektron untuk menjalankan proses pemecahan air secara langsung.

Salah satu keunggulan utama teknologi tersebut adalah hilangnya kebutuhan terhadap elektroliser yang selama ini menjadi komponen paling mahal dalam produksi hidrogen hijau.

BACA JUGA:  Afrika di Persimpangan Sejarah: Bonus Demografi atau Krisis Pembangunan Baru?

Penghapusan elektroliser juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada logam-logam langka dan mahal seperti iridium serta platinum yang banyak digunakan dalam sistem elektrolisis konvensional.

Pendiri Photreon, Paul Kant, menjelaskan bahwa desain internal panel memungkinkan proses penyerapan cahaya, pemecahan air, dan pemisahan gas berlangsung secara simultan dalam satu sistem terpadu.

Rancangan internal panel tersebut bahkan telah diajukan untuk perlindungan paten karena dianggap menjadi kunci keberhasilan teknologi yang dikembangkan perusahaan.

Lebih dari Sekadar Panel Surya

Menanggapi inovasi tersebut, pakar teknik kontrol dan mekatronika Universitas Hasanuddin, Dr. Eng. Ir. Andi Amijoyo Mochtar, ST., M.Sc., menilai teknologi Photreon bukan sekadar terobosan pada bidang material energi, tetapi juga menghadirkan paradigma baru dalam rekayasa sistem energi berbasis mekatronika.

“Yang menarik dari teknologi ini adalah panel tidak lagi berfungsi sebagai pembangkit listrik, melainkan sebagai reaktor kimia cerdas yang langsung menghasilkan bahan bakar. Ini merupakan pergeseran paradigma yang sangat signifikan dalam teknologi energi surya,” kata Andi Amijoyo kepada jurnalis Sulawesi Pos, Kamis (18/6/2026).

Menurutnya, istilah “tanpa listrik” kerap disalahpahami karena energi tetap digunakan, namun tidak melalui tahapan konversi menjadi arus listrik sebagaimana panel fotovoltaik konvensional.

Ia menjelaskan bahwa energi matahari pada sistem ini langsung dimanfaatkan untuk memicu reaksi fotokatalitik yang memecah molekul air menjadi hidrogen dan oksigen.

BACA JUGA:  Mayat Pria Ditemukan di Belakang Gedung Teaching Industry Unhas, Diduga Sudah Meninggal 3 Hari

Andi Amijoyo menekankan bahwa keberhasilan teknologi tersebut tidak hanya ditentukan oleh kualitas material fotokatalis, tetapi juga oleh kemampuan sistem dalam mengendalikan berbagai parameter operasi secara presisi.

Variabel seperti intensitas cahaya, distribusi air, temperatur panel, tekanan gas, kemurnian hidrogen, serta pemisahan hidrogen dan oksigen harus dijaga secara stabil agar sistem dapat bekerja aman dan efisien.

Dalam perspektif teknik kontrol, hal tersebut membutuhkan penerapan sistem kendali tertutup yang melibatkan sensor, aktuator, pompa fluida, katup mikro, dan mekanisme pendinginan otomatis.

“Tanpa sistem kendali yang baik, efisiensi produksi hidrogen dapat menurun drastis dan risiko pencampuran gas hidrogen serta oksigen bisa meningkat, padahal kondisi itu sangat berbahaya dalam operasi industri,” ujarnya.

Dari sudut pandang mekatronika, panel hidrogen tersebut lebih tepat dipandang sebagai modul reaktor cerdas yang mengintegrasikan struktur mekanik, proses kimia, sistem fluida, sensor, otomasi, dan pemantauan digital dalam satu perangkat.

Ia menilai teknologi tersebut pada masa depan idealnya dilengkapi dengan sensor Internet of Things (IoT), sistem deteksi kebocoran hidrogen, pengendalian tekanan otomatis, serta mekanisme penghentian darurat ketika terjadi kondisi abnormal.

Peluang Besar, Tantangan Masih Menanti

Andi Amijoyo melihat peluang besar penerapan teknologi ini di Indonesia yang memiliki intensitas penyinaran matahari tinggi dan banyak wilayah dengan kebutuhan energi terdesentralisasi.

BACA JUGA:  Sepeda Listrik Unhas Resmi Diluncurkan, Ini Panduan Lengkap Cara Menggunakannya!

Menurutnya, apabila berhasil dikomersialisasikan, panel hidrogen dapat dimanfaatkan untuk kawasan industri, pulau-pulau terpencil, sistem energi mandiri, pertanian presisi, laboratorium riset, hingga kendaraan dan robot otonom berbasis hidrogen.

Teknologi tersebut juga membuka peluang penelitian baru di bidang desain mikroreaktor, sensor keselamatan gas, sistem kontrol produksi hidrogen, penyimpanan hidrogen skala kecil, serta integrasi hidrogen sebagai sumber energi masa depan.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi fotokatalisis hidrogen bukanlah konsep yang sepenuhnya baru dan selama lebih dari dua dekade masih menghadapi tantangan efisiensi menuju tahap komersial.

Sejumlah persoalan yang masih harus dibuktikan antara lain umur pakai material fotokatalis, stabilitas produksi hidrogen saat cuaca berubah, keamanan penyimpanan gas, efisiensi aktual per meter persegi, serta biaya produksi ketika teknologi masuk ke skala industri.

“Jika efisiensi dan keandalannya benar-benar dapat dibuktikan dalam jangka panjang, teknologi ini berpotensi menjadi fondasi baru produksi hidrogen hijau terdesentralisasi, terutama bagi negara tropis seperti Indonesia yang memiliki sumber daya matahari melimpah,” tuturnya.

Keberhasilan komersialisasi teknologi Photreon berpotensi menjadi salah satu terobosan paling penting dalam transisi energi global karena memungkinkan produksi hidrogen hijau yang lebih sederhana, lebih murah, dan lebih mandiri dibandingkan metode konvensional yang digunakan saat ini. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru