Orangutan Sampurna Terpapar Asap Pekat Karhutla di Ketapang, Diduga Alami Hipoksia

Karhutla Tekan Habitat Satwa

Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengatakan kebakaran di sekitar habitat satwa liar tidak hanya menghilangkan tutupan lahan, tetapi juga memberikan tekanan terhadap satwa yang berada di kawasan tersebut.

“Kebakaran tidak hanya berdampak terhadap tutupan lahan, tetapi juga berpotensi memberikan tekanan terhadap satwa liar yang berada di sekitarnya,” kata Murlan dalam siaran pers Kementerian Kehutanan.

Tekanan tersebut dapat membuat satwa keluar dari habitatnya untuk mencari tempat yang lebih aman maupun sumber makanan.

Dalam kondisi tertentu, satwa juga berisiko masuk ke kawasan perkebunan atau permukiman warga.

Kasus Sampurna menjadi gambaran nyata dampak karhutla terhadap satwa liar.

Selain kehilangan ruang hidup, satwa yang berada di sekitar titik kebakaran harus menghadapi asap, berkurangnya sumber makanan, serta risiko gangguan kesehatan.

Video Anak Kucing Hutan Beredar

Di tengah penanganan Sampurna, video yang memperlihatkan seekor anak kucing hutan ditemukan sendirian di kawasan yang disebut terdampak kebakaran juga beredar di media sosial.

BACA JUGA:  Hampir Empat Jam Dipadamkan, Kebakaran Hutan Pinus Malino Akhirnya Padam

Narasi yang menyertai video tersebut menyebut anak satwa itu diduga terpisah dari induknya saat berusaha menyelamatkan diri dari kebakaran.

Namun, informasi mengenai lokasi penemuan, kondisi induk, serta penyebab anak kucing hutan tersebut berada sendirian belum mendapatkan verifikasi resmi yang sama dengan kasus Sampurna.

Karena itu, informasi tersebut perlu disikapi secara hati-hati.

Sementara itu, penyelamatan Sampurna menunjukkan pentingnya respons terhadap satwa liar di wilayah terdampak karhutla.

Penanganan tidak berhenti pada pemadaman api, tetapi juga mencakup pemantauan dan penyelamatan satwa yang mengalami gangguan kesehatan atau kehilangan habitat.

Kini, Sampurna masih menjalani perawatan di pusat rehabilitasi YIARI.

Kondisinya akan terus dipantau untuk memastikan proses pemulihan setelah terpapar asap pekat di kawasan Ketapang.

Karhutla Tekan Habitat Satwa

Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengatakan kebakaran di sekitar habitat satwa liar tidak hanya menghilangkan tutupan lahan, tetapi juga memberikan tekanan terhadap satwa yang berada di kawasan tersebut.

“Kebakaran tidak hanya berdampak terhadap tutupan lahan, tetapi juga berpotensi memberikan tekanan terhadap satwa liar yang berada di sekitarnya,” kata Murlan dalam siaran pers Kementerian Kehutanan.

Tekanan tersebut dapat membuat satwa keluar dari habitatnya untuk mencari tempat yang lebih aman maupun sumber makanan.

Dalam kondisi tertentu, satwa juga berisiko masuk ke kawasan perkebunan atau permukiman warga.

Kasus Sampurna menjadi gambaran nyata dampak karhutla terhadap satwa liar.

Selain kehilangan ruang hidup, satwa yang berada di sekitar titik kebakaran harus menghadapi asap, berkurangnya sumber makanan, serta risiko gangguan kesehatan.

Video Anak Kucing Hutan Beredar

Di tengah penanganan Sampurna, video yang memperlihatkan seekor anak kucing hutan ditemukan sendirian di kawasan yang disebut terdampak kebakaran juga beredar di media sosial.

BACA JUGA:  Hampir Empat Jam Dipadamkan, Kebakaran Hutan Pinus Malino Akhirnya Padam

Narasi yang menyertai video tersebut menyebut anak satwa itu diduga terpisah dari induknya saat berusaha menyelamatkan diri dari kebakaran.

Namun, informasi mengenai lokasi penemuan, kondisi induk, serta penyebab anak kucing hutan tersebut berada sendirian belum mendapatkan verifikasi resmi yang sama dengan kasus Sampurna.

Karena itu, informasi tersebut perlu disikapi secara hati-hati.

Sementara itu, penyelamatan Sampurna menunjukkan pentingnya respons terhadap satwa liar di wilayah terdampak karhutla.

Penanganan tidak berhenti pada pemadaman api, tetapi juga mencakup pemantauan dan penyelamatan satwa yang mengalami gangguan kesehatan atau kehilangan habitat.

Kini, Sampurna masih menjalani perawatan di pusat rehabilitasi YIARI.

Kondisinya akan terus dipantau untuk memastikan proses pemulihan setelah terpapar asap pekat di kawasan Ketapang.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru