SulawesiPos.com – Organisasi Energi Atom Iran pada Rabu (26/8/2026), meresmikan tiga sistem diagnostik plasma tokamak dan sebuah laboratorium pengujian non-destruktif dalam rangka Pekan Pemerintahan di Teheran, sebagai bagian dari strategi nasional untuk menjadikan fusi nuklir sebagai prioritas energi masa depan melalui pengembangan teknologi dalam negeri, kerja sama universitas, serta dukungan perusahaan berbasis pengetahuan.
Berita ini berdasarkan laporan Kantor Berita Republik Islam Iran (IRNA), dengan pengayaan ilmiah dari Badan Energi Atom Internasional dan proyek reaktor eksperimental fusi ITER.
Empat inovasi tersebut terdiri atas sistem fotoelektron, sistem bolometri, sistem pertukaran muatan, serta laboratorium pengujian non-destruktif atau non-destructive testing yang dikembangkan bersama lembaga pemerintah, pusat penelitian, dan sejumlah perusahaan berbasis pengetahuan Iran.
Wakil Presiden sekaligus Kepala Organisasi Energi Atom Iran Mohammad Eslami mengatakan pengembangan fusi telah bergerak dari tahap demonstrasi teknologi menuju pembangunan sistem, penguatan kemampuan teknis, dan pembentukan jaringan inovasi nasional.
Menurut Eslami, sanksi dan tekanan eksternal tidak menghentikan kemajuan industri nuklir Iran karena lembaganya terus mengembangkan ilmu, teknologi, sumber daya manusia, dan pelayanan industri dengan mengandalkan kemampuan domestik.
Ia menegaskan bahwa kemajuan berikutnya harus melibatkan universitas dan perusahaan berbasis pengetahuan agar teknologi fusi tidak hanya menjadi proyek laboratorium pemerintah, tetapi tumbuh menjadi ekosistem penelitian nasional.
Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan orientasi penting karena teknologi nuklir Iran tidak lagi semata-mata ditempatkan dalam perdebatan mengenai pengayaan uranium, tetapi juga diarahkan menuju penelitian energi fusi yang sedang dikembangkan berbagai negara.
Meniru Sumber Energi Matahari di Bumi
Fusi nuklir merupakan proses penyatuan inti atom ringan menjadi inti yang lebih berat dengan melepaskan energi dalam jumlah sangat besar, seperti reaksi yang secara alami menghidupkan Matahari dan bintang-bintang.
Teknologi ini berbeda dari fisi nuklir yang digunakan pembangkit listrik tenaga nuklir saat ini karena fisi menghasilkan energi dengan membelah inti atom berat seperti uranium.

Bahan bakar yang paling banyak dipertimbangkan untuk reaktor fusi masa depan ialah deuterium dan tritium, dua isotop hidrogen yang ketika menyatu menghasilkan inti helium, neutron, dan energi.
Reaksi tersebut hanya dapat berlangsung apabila bahan bakar dipanaskan hingga membentuk plasma bersuhu sangat tinggi sehingga inti-inti atom memiliki energi yang cukup untuk mengatasi gaya tolak listrik dan saling menyatu.
Tokamak merupakan perangkat berbentuk menyerupai donat yang menggunakan medan magnet sangat kuat untuk mengurung plasma agar tidak menyentuh dinding ruang reaksi.
Pengurungan yang stabil sangat penting karena sentuhan langsung plasma bersuhu jutaan derajat dengan material dinding dapat menyebabkan hilangnya energi, kerusakan komponen, dan berhentinya reaksi.
Tujuan akhirnya adalah menghasilkan energi fusi yang lebih besar daripada energi yang dibutuhkan untuk memanaskan, mengendalikan, dan mempertahankan plasma, kemudian mengubah panasnya menjadi listrik.
Namun, belum ada pembangkit listrik fusi komersial yang memasok energi secara rutin ke jaringan listrik sehingga semua pencapaian tokamak saat ini harus dipahami sebagai tahapan penelitian menuju teknologi yang masih berkembang.
Tiga “Indra Elektronik” untuk Membaca Plasma
Sistem fotoelektron buatan Iran dirancang sebagai perangkat diagnostik tanpa kontak untuk memperkirakan suhu elektron plasma melalui pengukuran energi dan karakteristik sinar-X yang dipancarkan dari dalam tokamak.
Informasi tentang suhu elektron membantu peneliti menentukan apakah plasma telah memperoleh energi yang memadai serta bagaimana panas tersebar selama percobaan.
Sistem bolometri yang untuk pertama kalinya diklaim dirancang dan diproduksi di Iran berfungsi mengukur energi yang hilang dalam bentuk radiasi elektromagnetik dari plasma yang terkurung.
Data kehilangan energi diperlukan untuk mengetahui efisiensi pengurungan, mengidentifikasi sumber pemborosan panas, dan menyesuaikan parameter operasi agar plasma dapat bertahan lebih lama.
Teknik bolometri juga digunakan pada fasilitas tokamak internasional seperti KSTAR di Korea Selatan, EAST di China, dan JT-60U di Jepang.
Sistem ketiga memakai prinsip pertukaran muatan untuk mengukur karakteristik ion plasma melalui interaksi antara ion bermuatan dan atom netral.

Pengukuran tersebut memungkinkan peneliti memperkirakan temperatur ion, aliran plasma, serta distribusi energi yang menentukan kemungkinan terjadinya reaksi fusi.
ITER menjelaskan bahwa perangkat diagnostik merupakan bagian mendasar dari tokamak karena data mengenai temperatur, densitas, pengotor, arus, radiasi, dan waktu pengurungan dibutuhkan untuk mengendalikan serta mengoptimalkan plasma.
Sebuah tokamak tanpa sistem diagnostik yang akurat ibarat pesawat yang terbang tanpa instrumen karena operator tidak dapat mengetahui keadaan plasma maupun mengoreksi ketidakstabilannya secara tepat.
Karena itu, penciptaan tiga perangkat tersebut lebih tepat dinilai sebagai penguatan kemampuan Iran membaca dan mengendalikan plasma, bukan sebagai tanda bahwa negara itu sudah mampu menghasilkan listrik dari reaktor fusi.
Damavand dan Jejak Penelitian Fusi Iran
Iran bukan pendatang baru dalam penelitian pengurungan magnetik karena negara tersebut telah mengoperasikan tokamak penelitian Damavand untuk mempelajari perilaku plasma, interaksi material, ketidakstabilan, serta metode diagnostik.
Peneliti dari Institut Riset Nuklir Iran juga tercatat dalam forum ilmiah Badan Energi Atom Internasional dengan kajian mengenai pengaruh ion hidrogen terhadap permukaan tungsten dan molibdenum di tokamak Damavand.

Penelitian terhadap tungsten penting karena bahan itu merupakan kandidat utama pelapis bagian reaktor yang langsung menghadapi panas, partikel berenergi tinggi, serta radiasi plasma.
Keterlibatan universitas dan perusahaan teknologi domestik memungkinkan Iran membangun rantai kemampuan mulai dari desain sensor, rekayasa elektronik, pengolahan data, produksi material, hingga pelatihan tenaga ahli.
Meskipun demikian, skala dan kemampuan perangkat Iran belum dapat disamakan dengan proyek ITER di Prancis yang melibatkan puluhan negara dan dirancang menggunakan puluhan sistem diagnostik untuk mengukur lebih dari seratus parameter plasma.
Teknologi Nuklir Melayani Industri Sipil
Inovasi keempat yang diresmikan bukan perangkat fusi, melainkan laboratorium pengujian non-destruktif untuk memeriksa material, komponen, sambungan las, dan peralatan industri tanpa merusak benda yang diperiksa.
Teknik tersebut diperlukan untuk menemukan retakan, rongga, korosi, cacat produksi, atau perubahan struktur yang tidak selalu terlihat dari permukaan tetapi dapat menyebabkan kegagalan peralatan.
Laboratorium itu menyediakan inspeksi visual, pengujian cairan penetran, partikel magnetik, ultrasonik, radiografi, dan arus eddy untuk melayani industri nuklir, penerbangan, pembangkit listrik, minyak, serta gas.
Pengujian ultrasonik memanfaatkan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menemukan cacat di dalam material, sedangkan radiografi menggunakan sinar-X atau sinar gamma untuk menghasilkan citra struktur internal komponen.
Metode arus eddy memanfaatkan induksi elektromagnetik untuk menemukan perubahan atau kerusakan pada bahan konduktif tanpa harus memotong benda yang diperiksa.
Pusat tersebut juga akan menyelenggarakan pelatihan, konsultasi teknis, radiografi digital, serta penilaian kompetensi personel berdasarkan standar ISO 9712.
Kehadiran fasilitas itu memperlihatkan bahwa penguasaan teknologi nuklir dapat menghasilkan manfaat lintas sektor melalui peningkatan keselamatan pesawat, jaringan pipa, pembangkit listrik, instalasi gas, dan fasilitas industri.
Harapan Besar dengan Tantangan Luar Biasa
Fusi memiliki daya tarik karena bahan bakarnya relatif melimpah, tidak menghasilkan karbon dioksida secara langsung ketika beroperasi, dan tidak menimbulkan risiko reaksi berantai seperti fisi nuklir.
Reaktor fusi tetap menghasilkan neutron berenergi tinggi yang dapat mengaktifkan material dinding sehingga persoalan limbah radioaktif, umur komponen, serta keselamatan radiasi tidak sepenuhnya hilang.
Tantangan lainnya meliputi kestabilan plasma, produksi dan pengelolaan tritium, ketahanan material, pembuangan panas, efisiensi pembangkitan listrik, serta biaya fasilitas yang sangat tinggi.
Negara yang menguasai sensor dan diagnostik plasma memperoleh fondasi penting karena peningkatan kinerja reaktor hanya mungkin dilakukan apabila perubahan temperatur, densitas, radiasi, serta kehilangan energi dapat diukur secara tepat.
Namun, perjalanan dari perangkat diagnostik menuju pembangkit listrik komersial memerlukan eksperimen berulang, transparansi data, publikasi yang ditelaah ilmuwan sejawat, serta pembuktian kinerja dalam jangka panjang.
Empat inovasi yang diumumkan Teheran belum menghadirkan listrik dari fusi, tetapi menunjukkan bahwa Iran sedang membangun unsur-unsur teknis yang dibutuhkan untuk mengikuti perlombaan energi paling menantang pada abad ke-21.
Jika kemampuan tersebut dikembangkan secara terbuka, aman, dan diarahkan pada tujuan damai, penelitian fusi Iran dapat memperluas kerja sama ilmu pengetahuan serta membantu umat manusia mencari sumber energi rendah karbon untuk masa depan.(Ali)


