SulawesiPos.com — Ancaman Iran untuk memutus kabel komunikasi bawah laut dan menyerang pusat data serta fasilitas kecerdasan buatan atau AI terkait kepentingan Amerika Serikat di kawasan Teluk apabila kembali diserang dinilai memperluas tekanan konflik ke infrastruktur digital, sebagaimana disampaikan pengamat Timur Tengah Dra. Harmiyati, M.Si., dari FISIP UPN “Veteran” Yogyakarta dan Dr. H. Najib Tabhan, M.A., dari Universitas Bosowa, Makassar, ketika dihubungi jurnalis Sulawesi Pos pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Ancaman tersebut disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, melalui wawancara dengan televisi pemerintah Press TV yang diberitakan pada 12 Oktober 2026, dengan menyebut aset teknologi Amerika di Asia Barat sebagai kemungkinan sasaran apabila pertempuran kembali berlangsung.
Dalam tanggapannya, Harmiyati menilai konflik telah meluas dari persoalan keamanan dan nuklir menuju ancaman terhadap fasilitas yang menopang komunikasi, pengolahan informasi, serta kegiatan ekonomi modern.
“Konflik AS-Iran telah semakin bereskalasi dan berkembang liar tak terkendali,” ujar dosen Jurusan Ilmu Hubungan Internasional yang memiliki keahlian hubungan internasional di Timur Tengah tersebut.
Menurut Harmiyati, ancaman terhadap pusat data yang berafiliasi dengan perusahaan Amerika serta kabel serat optik di sekitar Selat Hormuz memperlihatkan semakin luasnya instrumen tekanan yang dapat digunakan Iran apabila kembali menghadapi serangan.
Konteks ancaman itu juga berkaitan dengan diplomasi yang belum menemukan penyelesaian, sebagaimana laporan Reuters pada 11 Oktober 2026 mengenai penilaian Rezaei bahwa tanggapan Washington terhadap tujuh syarat Tehran masih belum memadai.
Reuters menyebut jawaban Amerika disampaikan melalui perantara Qatar, sementara Gedung Putih belum segera menanggapi permintaan komentar mengenai pernyataan pejabat Iran tersebut.
Daya Tangkal Bergeser ke Infrastruktur Digital
Harmiyati mengaitkan sikap Iran dengan prinsip politik luar negeri yang dipertahankan sejak Revolusi Islam 1979, terutama penolakan terhadap dominasi asing dan kehadiran militer Amerika di kawasan Teluk.
“Menentang hegemoni asing di kawasan Timur Tengah, khususnya di kawasan Teluk Persia,” kata Harmiyati ketika menjelaskan salah satu prinsip yang mendasari sikap Tehran.
Ia juga menempatkan penentangan Iran terhadap Israel serta dukungannya bagi perjuangan rakyat Palestina sebagai bagian dari orientasi politik yang tetap berpengaruh meskipun kepemimpinan pemerintahan berganti.

Dalam pembacaannya, prinsip la syarqiyyah wa la gharbiyyah, atau tidak berpihak kepada Timur maupun Barat, menekankan kebebasan Iran menentukan hubungan luar negeri berdasarkan kepentingan negaranya.
Kerangka tersebut membantu menjelaskan posisi Tehran, tetapi penilaian mengenai keberhasilan daya tangkalnya tetap perlu dibedakan dari klaim kemampuan militer yang belum dapat diverifikasi secara independen.
Ancaman terhadap kabel dan pusat data dapat dibaca sebagai upaya menaikkan perkiraan biaya konflik bagi lawan, meskipun efektivitasnya bergantung pada kemampuan pelaksanaan, ketahanan jaringan, dan respons negara-negara yang terdampak.
Najib menilai perkembangan tersebut memperlihatkan pergeseran sebagian instrumen tekanan dari minyak, pelayaran, dan instalasi militer menuju jaringan komunikasi serta infrastruktur ekonomi digital.
“Ancaman ini menggeser sebagian paradigma daya tangkal dari minyak, pelayaran, dan instalasi militer menuju komunikasi digital serta infrastruktur yang menjadi tumpuan perekonomian modern,” ujar Najib.
Namun, ia mengingatkan bahwa kemampuan mengganggu konektivitas kawasan tidak dapat langsung disamakan dengan kemampuan melumpuhkan jaringan internet dunia.
“Kemampuan untuk menimbulkan gangguan digital di tingkat regional tidak berarti kemampuan untuk memutus internet global,” katanya.

Najib juga menekankan bahwa kerugian yang dapat ditimbulkan terhadap pihak lain belum tentu menghasilkan manfaat politik atau keamanan bagi pihak yang melakukannya.
“Demikian pula, kemampuan untuk merugikan lawan tidak serta-merta berarti berhasil meraih keuntungan strategis,” ujarnya.
Hormuz Penting, Dampaknya Terutama Regional
Menarik laporan The Guardian, 18 Mei 2026, berjudul “How realistic is threat of Iran charging to use internet cables under strait of Hormuz?”, yang membahas gagasan media terkait negara Iran untuk menarik biaya penggunaan kabel di selat tersebut.
Laporan itu menyebut sedikitnya tujuh kabel berada di bawah perairan Hormuz dan banyak di antaranya penting bagi pengembangan fasilitas AI di negara-negara Teluk.
Namun, gagasan The Guardian itu perlu dibedakan dari ancaman serangan pada Oktober karena keduanya memiliki bentuk, tujuan langsung, dan konsekuensi berbeda.
Dalam laporan tersebut, pakar infrastruktur internet Kentik, Doug Madory, menjelaskan bahwa kabel Hormuz terutama melayani negara-negara Teluk, sedangkan jalur melalui Suez dan wilayah Mesir membawa lalu lintas penting antara Eropa dan Asia.
Perbedaan itu memperkuat penilaian Najib bahwa kerusakan kabel Hormuz dapat mengganggu kawasan tanpa otomatis memutus konektivitas global.
Meski demikian, keberadaan jalur melalui Mesir tidak berarti seluruh lalu lintas negara-negara Teluk dapat langsung dialihkan melalui rute tersebut.
Analisis TeleGeography pada 13 Maret 2026 menjelaskan bahwa negara-negara Teluk memiliki koneksi darat, tetapi kapasitasnya belum tentu cukup untuk menampung seluruh pengalihan lalu lintas apabila jaringan bawah laut mengalami kerusakan.
Karena itu, dampak global yang lebih terbatas tetap dapat berjalan bersamaan dengan gangguan regional yang berat, terutama apabila beberapa jalur mengalami kerusakan secara serentak.
Layanan Sipil dan Pemulihan Menjadi Taruhan
Secara teknis, kabel komunikasi menghubungkan jaringan dan membawa data, sedangkan pusat data menampung perangkat penyimpanan serta pengolahan informasi, termasuk komputasi untuk layanan AI.
Perbedaan fungsi tersebut berarti kabel yang rusak dapat menghambat akses ke fasilitas yang masih beroperasi, sementara kerusakan pusat data dapat mengganggu layanan meskipun sambungan komunikasi tetap tersedia.
Dengan demikian, ungkapan “memutus AI” lebih tepat dipahami sebagai ancaman terhadap konektivitas atau fasilitas komputasi yang menjalankan layanan AI.
Bagi pengguna sipil, gangguan dapat terasa melalui melambatnya layanan perbankan, komunikasi perusahaan, perdagangan daring, dan akses komputasi awan, dengan tingkat keparahan bergantung pada jaringan cadangan serta kesiapan penyedia layanan.
The Guardian juga mengingatkan bahwa perbaikan kabel dapat tertunda apabila keselamatan kapal perbaikan terancam, sehingga kerusakan fisik berpotensi menimbulkan gangguan yang lebih panjang daripada masa serangannya.
Iran sendiri memiliki jalur koneksi darat alternatif, tetapi keterhubungan ekonomi kawasan membuat konsekuensi gangguan digital tidak mudah dibatasi hanya pada kepentingan satu negara atau perusahaan.
Pembacaan kedua pengamat menunjukkan bahwa ancaman terhadap kabel internet dan pusat AI perlu dinilai melalui kemampuan nyata, ketahanan infrastruktur, serta konsekuensinya bagi masyarakat yang bergantung pada layanan digital setiap hari.


