Gempa NTT Terkini: 91 Orang Meninggal, 161 Ribu Mengungsi, 3.721 Kasus ISPA

SulawesiPos.com – Penanganan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) memasuki fase yang semakin berat. Hingga Minggu, 23 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 91 orang, sementara korban luka mencapai 1.286 orang dan jumlah pengungsi telah menembus 161.084 jiwa.

Di tengah proses pendataan yang masih berlangsung, kondisi di sejumlah posko darurat juga mulai menghadapi persoalan kesehatan.

Ribuan warga terdampak dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan jumlah korban meninggal mengalami penambahan empat orang dibandingkan hari sebelumnya.

“Jumlah korban meninggal sebanyak 91 jiwa atau bertambah 4 jiwa dari hari sebelumnya,” kata Berton dalam konferensi pers di YouTube BNPB, Minggu (23/8/2026).

Korban Tersebar di Tujuh Kabupaten

Berdasarkan data BNPB, korban meninggal dunia tersebar di tujuh kabupaten.

Kabupaten Manggarai mencatat jumlah tertinggi dengan 32 korban, disusul Manggarai Timur 31 korban, Nagekeo 14 korban, Sikka 6 korban, Ngada 5 korban, Ende 2 korban, dan Manggarai Barat 1 korban.

BACA JUGA:  Korban Tewas Gempa Flores 51 Orang, Penanganan Darurat Dipercepat

Dari total 91 korban meninggal, sebanyak 40 orang merupakan laki-laki dan 48 perempuan, sementara tiga korban lainnya masih dalam proses identifikasi.

Jika dilihat berdasarkan kelompok usia, korban terdiri atas 39 lansia, 35 orang dewasa, 12 anak dan remaja, empat balita, serta satu bayi.

Berton juga mengungkapkan bahwa sebagian besar korban meninggal berkaitan dengan dampak langsung maupun tidak langsung dari gempa.

“51 persen korban dinyatakan meninggal disebabkan dampak langsung dari gempa seperti tertimpa reruntuhan bangunan, sedangkan sisanya 49 persen meninggal disebabkan dampak tidak langsung,” imbuh Berton.

1.286 Orang Mengalami Luka-luka

Selain korban meninggal, BNPB mencatat 1.286 orang mengalami luka-luka.

Jumlah korban luka terbanyak berada di Kabupaten Manggarai Timur dengan 643 orang, kemudian Manggarai Barat sebanyak 504 orang.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan di wilayah terdampak masih sangat besar.

Penanganan tidak hanya berkaitan dengan korban yang membutuhkan perawatan, tetapi juga masyarakat yang masih bertahan di lokasi pengungsian.

BACA JUGA:  Mendikdasmen Abdul Mu’ti Takziah ke Rumah Siswa SD di Ngada, Soroti Pentingnya Ketahanan Keluarga

Pengungsi Capai 161.084 Jiwa

Jumlah pengungsi juga terus bertambah.

BNPB mencatat sebanyak 161.084 jiwa kini berada di lokasi pengungsian.

Berton mengatakan tiga kabupaten menjadi wilayah dengan konsentrasi pengungsi paling tinggi.

“Saat ini, data pengungsi yang ada pada kami bertambah lagi menjadi 161.084 jiwa. Adapun 3 kabupaten yang paling tinggi adalah Kabupaten Manggarai, pengungsinya sebanyak 46.519 jiwa,” ungkapnya.

Selain Manggarai, jumlah pengungsi yang besar juga tercatat di Nagekeo sebanyak 34.256 jiwa dan Manggarai Timur mencapai 31.372 jiwa.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap makanan, air bersih, obat-obatan, tenda, sanitasi, hingga layanan kesehatan semakin mendesak.

ISPA Mulai Membayangi Pengungsian

Persoalan lain muncul dari kondisi kesehatan warga yang tinggal di lokasi pengungsian.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan yang disampaikan melalui pembaruan BNPB, ISPA menjadi salah satu penyakit yang banyak dialami warga terdampak dengan 3.721 kasus.

Padatnya lokasi pengungsian, paparan debu, perubahan cuaca, serta keterbatasan fasilitas sanitasi dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

BACA JUGA:  Tragedi Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Pemerintah Janji Akan Evaluasi Menyeluruh

Kondisi ini terutama perlu diwaspadai pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki masalah kesehatan tertentu.

Karena itu, penanganan gempa kini tidak lagi sebatas evakuasi dan distribusi bantuan awal.

Penyediaan layanan kesehatan, air bersih, sanitasi, obat-obatan, serta tempat tinggal sementara yang layak menjadi bagian penting dalam fase tanggap darurat.

Penanganan Memasuki Tahap yang Lebih Kompleks

Dengan 91 korban meninggal, 1.286 orang luka-luka, 161.084 jiwa mengungsi, dan ribuan warga mengalami ISPA, penanganan gempa NTT menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Pendataan korban dan pengungsi masih terus dilakukan di lapangan.

Pada saat yang sama, pemerintah dan petugas kebencanaan perlu memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama mereka belum dapat kembali ke rumah.

Kondisi pengungsian yang semakin padat juga membuat pencegahan penyakit menjadi perhatian penting agar persoalan kesehatan tidak berkembang menjadi krisis baru di tengah situasi bencana.

SulawesiPos.com – Penanganan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) memasuki fase yang semakin berat. Hingga Minggu, 23 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 91 orang, sementara korban luka mencapai 1.286 orang dan jumlah pengungsi telah menembus 161.084 jiwa.

Di tengah proses pendataan yang masih berlangsung, kondisi di sejumlah posko darurat juga mulai menghadapi persoalan kesehatan.

Ribuan warga terdampak dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan jumlah korban meninggal mengalami penambahan empat orang dibandingkan hari sebelumnya.

“Jumlah korban meninggal sebanyak 91 jiwa atau bertambah 4 jiwa dari hari sebelumnya,” kata Berton dalam konferensi pers di YouTube BNPB, Minggu (23/8/2026).

Korban Tersebar di Tujuh Kabupaten

Berdasarkan data BNPB, korban meninggal dunia tersebar di tujuh kabupaten.

Kabupaten Manggarai mencatat jumlah tertinggi dengan 32 korban, disusul Manggarai Timur 31 korban, Nagekeo 14 korban, Sikka 6 korban, Ngada 5 korban, Ende 2 korban, dan Manggarai Barat 1 korban.

BACA JUGA:  Korban Tewas Gempa Flores 51 Orang, Penanganan Darurat Dipercepat

Dari total 91 korban meninggal, sebanyak 40 orang merupakan laki-laki dan 48 perempuan, sementara tiga korban lainnya masih dalam proses identifikasi.

Jika dilihat berdasarkan kelompok usia, korban terdiri atas 39 lansia, 35 orang dewasa, 12 anak dan remaja, empat balita, serta satu bayi.

Berton juga mengungkapkan bahwa sebagian besar korban meninggal berkaitan dengan dampak langsung maupun tidak langsung dari gempa.

“51 persen korban dinyatakan meninggal disebabkan dampak langsung dari gempa seperti tertimpa reruntuhan bangunan, sedangkan sisanya 49 persen meninggal disebabkan dampak tidak langsung,” imbuh Berton.

1.286 Orang Mengalami Luka-luka

Selain korban meninggal, BNPB mencatat 1.286 orang mengalami luka-luka.

Jumlah korban luka terbanyak berada di Kabupaten Manggarai Timur dengan 643 orang, kemudian Manggarai Barat sebanyak 504 orang.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan di wilayah terdampak masih sangat besar.

Penanganan tidak hanya berkaitan dengan korban yang membutuhkan perawatan, tetapi juga masyarakat yang masih bertahan di lokasi pengungsian.

BACA JUGA:  Korban Tewas Gempa Kembar Venezuela Capai 1.430 Orang, Ribuan Warga Mengungsi

Pengungsi Capai 161.084 Jiwa

Jumlah pengungsi juga terus bertambah.

BNPB mencatat sebanyak 161.084 jiwa kini berada di lokasi pengungsian.

Berton mengatakan tiga kabupaten menjadi wilayah dengan konsentrasi pengungsi paling tinggi.

“Saat ini, data pengungsi yang ada pada kami bertambah lagi menjadi 161.084 jiwa. Adapun 3 kabupaten yang paling tinggi adalah Kabupaten Manggarai, pengungsinya sebanyak 46.519 jiwa,” ungkapnya.

Selain Manggarai, jumlah pengungsi yang besar juga tercatat di Nagekeo sebanyak 34.256 jiwa dan Manggarai Timur mencapai 31.372 jiwa.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap makanan, air bersih, obat-obatan, tenda, sanitasi, hingga layanan kesehatan semakin mendesak.

ISPA Mulai Membayangi Pengungsian

Persoalan lain muncul dari kondisi kesehatan warga yang tinggal di lokasi pengungsian.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan yang disampaikan melalui pembaruan BNPB, ISPA menjadi salah satu penyakit yang banyak dialami warga terdampak dengan 3.721 kasus.

Padatnya lokasi pengungsian, paparan debu, perubahan cuaca, serta keterbatasan fasilitas sanitasi dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

BACA JUGA:  Mendikdasmen Abdul Mu’ti Takziah ke Rumah Siswa SD di Ngada, Soroti Pentingnya Ketahanan Keluarga

Kondisi ini terutama perlu diwaspadai pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki masalah kesehatan tertentu.

Karena itu, penanganan gempa kini tidak lagi sebatas evakuasi dan distribusi bantuan awal.

Penyediaan layanan kesehatan, air bersih, sanitasi, obat-obatan, serta tempat tinggal sementara yang layak menjadi bagian penting dalam fase tanggap darurat.

Penanganan Memasuki Tahap yang Lebih Kompleks

Dengan 91 korban meninggal, 1.286 orang luka-luka, 161.084 jiwa mengungsi, dan ribuan warga mengalami ISPA, penanganan gempa NTT menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Pendataan korban dan pengungsi masih terus dilakukan di lapangan.

Pada saat yang sama, pemerintah dan petugas kebencanaan perlu memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama mereka belum dapat kembali ke rumah.

Kondisi pengungsian yang semakin padat juga membuat pencegahan penyakit menjadi perhatian penting agar persoalan kesehatan tidak berkembang menjadi krisis baru di tengah situasi bencana.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru