El Niño Diprediksi Tembus 3 Derajat, 2027 Akan Jadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah Bumi

SulawesiPos.com – Badan Meteorologi Inggris atau Met Office pada Jumat (21/8/2026), memperingatkan masyarakat dunia bahwa El Niño yang sedang menguat di Samudra Pasifik sangat berpeluang menjadikan 2027 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah pencatatan modern karena anomali suhu laut diprakirakan menembus lebih dari 3 derajat Celsius dan melepaskan cadangan panas raksasa ke atmosfer di atas pemanasan global akibat aktivitas manusia.

Peringatan tersebut diberitakan oleh WION melalui laporan Jatin Verma pada 21 Agustus 2026, kemudian diperkuat laporan AFP, The Guardian, NOAA, Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO, dan data resmi Met Office Inggris.

Kepala Prakiraan Jangka Panjang Met Office Profesor Adam Scaife menyebut sinyal El Niño dalam model terbaru sebagai peristiwa yang belum pernah ia saksikan sepanjang kariernya.

“Kami memperkirakan El Niño terbesar dalam lebih dari satu abad, dengan puncak sedikit di atas 3 derajat Celsius, tingkat yang belum pernah terlihat dalam catatan iklim modern,” kata Scaife kepada BBC sebagaimana dikutip AFP dan The Guardian.

Met Office menilai tambahan panas dari El Niño yang diperkirakan mencapai puncaknya pada musim dingin Belahan Bumi Utara 2026–2027 akan paling terasa pada suhu rata-rata global sepanjang 2027, sehingga tahun itu sangat mungkin melampaui rekor panas 2024.

Tahun 2024 saat ini menjadi tahun terpanas dalam catatan observasi global dengan suhu rata-rata permukaan sekitar 1,55 derajat Celsius di atas tingkat praindustri 1850–1900, sedangkan 2025 tercatat sebagai tahun terpanas kedua atau ketiga menurut WMO.

Jika prakiraan terbaru terwujud, suhu rata-rata global selama 2027 dapat mendekati 1,7 derajat Celsius di atas tingkat praindustri, meskipun angka pastinya masih bergantung pada perkembangan El Niño, kondisi samudra lain, aktivitas vulkanik, aerosol, dan konsentrasi gas rumah kaca.

Penyebutan 2027 sebagai “tahun terpanas” harus dipahami sebagai prakiraan probabilistik yang sangat kuat, bukan kepastian mutlak, karena sistem iklim tetap dipengaruhi sejumlah faktor yang dapat berubah selama beberapa bulan mendatang.

Panas Raksasa Tersimpan di Bawah Pasifik

El Niño merupakan fase hangat dari El Niño–Southern Oscillation atau ENSO yang biasanya muncul setiap dua sampai tujuh tahun ketika angin pasat di Pasifik tropis melemah atau berbalik sehingga air hangat bergerak dari bagian barat menuju tengah dan timur samudra.

Dalam keadaan normal, angin pasat mendorong air hangat ke arah Indonesia dan Australia, sementara air dingin dari kedalaman naik ke permukaan di dekat pantai Amerika Selatan.

Ketika El Niño berkembang, proses tersebut melemah sehingga air hangat menyebar ke timur, mengubah tekanan udara, pergerakan angin, pembentukan awan, curah hujan, dan distribusi panas di berbagai kawasan dunia.

Para ilmuwan umumnya menyatakan El Niño terbentuk apabila suhu permukaan laut di wilayah pemantauan utama Pasifik tropis berada sedikitnya 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata dan bertahan bersama perubahan sirkulasi atmosfer.

Data NOAA pada Juli 2026 menunjukkan anomali suhu mencapai 1,4 derajat Celsius di wilayah Niño-3.4, 1,7 derajat di Niño-3, dan 2,9 derajat di wilayah timur Niño-1+2.

BACA JUGA:  Cuaca Sulsel Hari Ini, Warga Diimbau Waspada Hujan dan Angin Kencang

NOAA pada 13 Agustus 2026 menyatakan El Niño terus menguat dengan peluang lebih dari 90 persen menjadi peristiwa “sangat kuat” selama musim gugur dan musim dingin 2026–2027 di Belahan Bumi Utara.

Lembaga tersebut juga memperkirakan peluang sekitar 69 persen bahwa kekuatan El Niño pada Oktober–Desember 2026 dapat melampaui seluruh peristiwa sejenis dalam catatan pengamatan sejak 1950.

Model Met Office memperkirakan anomali suhu di bagian penting Pasifik dapat melewati 3 derajat Celsius menjelang puncaknya, sedangkan sejumlah simulasi penelitian bahkan menunjukkan kemungkinan mendekati 4 derajat.

Cadangan panas tidak hanya terlihat di permukaan karena pada kedalaman sekitar 100 meter terdapat bagian perairan yang dilaporkan mencapai 8 derajat Celsius lebih hangat dari biasanya.

Lapisan bawah laut yang sangat panas itu berfungsi seperti baterai energi raksasa yang dapat mempertahankan dan memperkuat El Niño ketika panasnya bergerak ke permukaan lalu dilepaskan ke atmosfer.

Mengapa Dampak Terbesarnya Diperkirakan Terjadi pada 2027?

El Niño biasanya mencapai puncak pada akhir suatu tahun, tetapi dampak pemanasannya terhadap suhu rata-rata planet sering paling kuat pada tahun kalender berikutnya.

Fenomena itu terjadi karena samudra membutuhkan waktu untuk memindahkan panas dalam jumlah besar ke atmosfer, sementara sirkulasi udara dan pola cuaca global merespons perubahan tersebut secara bertahap.

Ilmuwan iklim Met Office Dr Nick Dunstone mengatakan efek pemanasan El Niño sangat menonjol pada tahun setelah puncaknya di musim dingin, sehingga 2027 sangat berpeluang menggantikan 2024 sebagai tahun terpanas.

El Niño bukan penyebab utama pemanasan global, melainkan penguat sementara yang bekerja di atas tren pemanasan jangka panjang akibat pembakaran batu bara, minyak, dan gas serta perubahan tata guna lahan.

Suhu Bumi telah meningkat sekitar 1,4 derajat Celsius sejak akhir abad ke-19, sehingga El Niño masa kini berlangsung pada planet yang jauh lebih panas daripada ketika peristiwa serupa terjadi satu abad lalu.

Analogi sederhananya, perubahan iklim telah menaikkan permukaan dasar sebuah tangga, sedangkan El Niño menambahkan satu anak tangga panas yang dapat mendorong suhu Bumi menuju rekor baru.

Laporan prakiraan iklim global WMO yang diterbitkan pada 28 Mei 2026 menyatakan terdapat peluang 86 persen bahwa setidaknya satu tahun antara 2026 dan 2030 akan melampaui rekor panas 2024.

WMO juga memperkirakan peluang 91 persen bahwa sedikitnya satu tahun dalam periode tersebut akan mengalami suhu rata-rata global sementara di atas 1,5 derajat Celsius dibandingkan tingkat praindustri.

Pelanggaran ambang 1,5 derajat dalam satu tahun tidak otomatis berarti sasaran Perjanjian Paris telah gagal secara permanen karena target tersebut mengacu pada tren rata-rata jangka panjang, tetapi kejadian itu menunjukkan dunia semakin dekat dengan tingkat pemanasan yang lebih berbahaya.

Cuaca Ekstrem, Krisis Pangan, dan Risiko Kemanusiaan

El Niño yang sangat kuat tidak membuat seluruh wilayah Bumi mengalami kondisi cuaca seragam karena setiap kawasan dapat menerima dampak berbeda berdasarkan letak geografis, musim, suhu laut setempat, dan interaksi dengan pola iklim lain.

BACA JUGA:  Hujan Terjadi Sepanjang Hari di Sulawesi Selatan 13 Februari

Sebagian kawasan Amerika Selatan, Australia timur laut, Asia Tenggara, Afrika bagian selatan, dan Pasifik barat berisiko mengalami kekeringan serta gelombang panas lebih berat.

Daerah lain seperti sebagian Amerika Selatan, Afrika Timur, Amerika Serikat bagian selatan, dan Eropa barat laut dapat menghadapi curah hujan berlebihan, banjir, atau badai yang lebih kuat.

Atmosfer yang lebih hangat dapat menampung lebih banyak uap air, sehingga ketika hujan turun, volumenya berpotensi lebih besar dan menciptakan banjir ekstrem.

Pada wilayah yang mengalami kekurangan hujan, suhu tinggi mempercepat penguapan, mengeringkan tanah, mengurangi ketersediaan air, serta memperbesar risiko gagal panen dan kebakaran hutan.

WMO menegaskan belum terdapat bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi atau kekuatan setiap El Niño, tetapi pemanasan samudra dan atmosfer jelas dapat memperbesar dampak gelombang panas, hujan ekstrem, dan kekeringannya.

Kajian IPCC sebelumnya menemukan indikasi bahwa variabilitas dan intensitas ENSO meningkat sejak sekitar 1950 dibandingkan periode historis panjang, tetapi perubahan alami selama berabad-abad membuat hubungan langsungnya dengan pemanasan antropogenik masih terus diteliti.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau FAO memperingatkan bahwa El Niño dapat memicu gagal panen, kematian ternak, peningkatan utang rumah tangga, kehilangan pendapatan, serta perpindahan penduduk untuk mencari pangan dan air.

Peristiwa El Niño 2015–2016 memengaruhi lebih dari 60 juta manusia dan mendorong permintaan bantuan kemanusiaan sekitar 5 miliar dolar AS di 23 negara, sehingga peristiwa yang lebih kuat dapat menghadirkan risiko sosial-ekonomi jauh lebih besar.

Komoditas seperti beras, gandum, jagung, kopi, kakao, gula, minyak sawit, dan produk peternakan dapat mengalami gangguan produksi apabila kekeringan atau banjir melanda kawasan penghasil utama secara bersamaan.

Lonjakan harga pangan akibat gangguan iklim akan paling berat dirasakan rumah tangga miskin karena mereka menggunakan bagian pendapatan yang lebih besar untuk membeli makanan.

Indonesia Berhadapan dengan Ancaman Kekeringan dan Kebakaran

Indonesia berada di sisi barat Pasifik tropis sehingga El Niño umumnya mengurangi pembentukan awan dan curah hujan, terutama selama musim kemarau.

BMKG memperingatkan bahwa Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan selatan, Sulawesi, dan Papua selatan berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal selama Juli–Oktober 2026.

Dampak tersebut dapat berlanjut atau meninggalkan konsekuensi hingga 2027 melalui penurunan cadangan air, mundurnya musim tanam, berkurangnya produksi pangan, kebakaran hutan dan lahan, gangguan kesehatan, serta tekanan terhadap pembangkit listrik tenaga air.

El Niño tidak selalu membuat seluruh wilayah Indonesia kering pada waktu bersamaan karena pengaruhnya dapat diperkuat atau dilemahkan oleh suhu perairan Nusantara, Monsun Asia–Australia, Madden–Julian Oscillation, dan Indian Ocean Dipole.

Perkiraan terbentuknya Indian Ocean Dipole positif pada 2026 perlu mendapat perhatian khusus karena fase tersebut dapat mengurangi pasokan uap air dari Samudra Hindia menuju Indonesia dan memperburuk kekeringan akibat El Niño.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Sulsel Hari Ini, 10 Juli 2026: Cerah Berawan, Hujan Ringan Berpotensi Guyur Luwu Raya hingga Toraja Utara

Pengalaman 1997–1998 dan 2015–2016 menunjukkan bahwa kombinasi El Niño kuat, kekeringan, lahan gambut kering, serta pembakaran dapat menghasilkan kebakaran luas dan kabut asap lintas negara.

Ancaman itu membuat persiapan tidak boleh menunggu sampai sawah mengering atau api meluas, melainkan harus dimulai melalui pengelolaan waduk, perlindungan gambut, penyiapan benih tahan kekeringan, penyesuaian kalender tanam, dan penguatan sistem peringatan dini.

Tahun 2027 Bukan Sekadar Rekor Angka

Rekor suhu global bukan hanya persoalan angka dalam tabel klimatologi karena setiap tambahan sepersepuluh derajat meningkatkan kemungkinan gelombang panas, kekeringan, hujan ekstrem, pencairan es, kenaikan muka laut, kerusakan ekosistem, dan kematian terkait panas.

Suhu yang lebih tinggi juga memperbesar risiko tekanan panas bagi pekerja luar ruangan, penyakit kardiovaskular, gangguan ginjal, dehidrasi, memburuknya kualitas udara, serta meluasnya sejumlah penyakit yang ditularkan nyamuk.

Lautan yang makin panas mengancam terumbu karang melalui pemutihan massal, mengubah persebaran ikan, menurunkan produktivitas perikanan, dan melemahkan perlindungan alami wilayah pesisir.

Bagi kota-kota besar, kombinasi perubahan iklim dan pulau panas perkotaan dapat membuat malam tetap panas sehingga tubuh manusia tidak memperoleh kesempatan memulihkan diri setelah terpapar suhu tinggi pada siang hari.

Peristiwa El Niño 2026–2027 juga dapat menjadi gambaran sementara tentang kondisi panas yang akan dianggap lebih umum pada akhir 2030-an apabila emisi gas rumah kaca tidak segera diturunkan.

Alarm Sains untuk Bertindak, Bukan Sekadar Menakut-nakuti

Prakiraan 2027 sebagai tahun terpanas harus digunakan sebagai jendela persiapan bagi pemerintah, ilmuwan, petani, pengelola air, tenaga kesehatan, pelaku usaha, dan masyarakat.

Pemerintah perlu memperbarui peta risiko kekeringan, mengamankan cadangan pangan, memperbaiki irigasi, menyiapkan tempat perlindungan dari panas, memperketat pencegahan kebakaran, dan memastikan kelompok rentan menerima informasi lebih awal.

Sektor pertanian perlu memanfaatkan prakiraan musim untuk menyesuaikan waktu tanam, memilih varietas tanaman yang sesuai, menghemat air, memperluas asuransi pertanian, dan menghindari penanaman serentak pada wilayah berisiko tinggi.

Masyarakat dapat mengurangi risiko melalui penghematan air, perlindungan anak-anak dan lanjut usia saat gelombang panas, pencegahan pembakaran lahan, penghijauan lingkungan, serta kepatuhan terhadap peringatan BMKG.

Adaptasi memang dapat mengurangi korban, tetapi tidak akan cukup tanpa mitigasi berupa penghentian pertumbuhan emisi, percepatan energi bersih, perlindungan hutan, efisiensi energi, dan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

El Niño akan melemah kembali sebagai bagian dari siklus alam, tetapi panas akibat karbon dioksida yang terakumulasi di atmosfer dapat bertahan selama ratusan tahun.

Karena itu, ancaman 2027 bukan sekadar ramalan tentang satu tahun yang sangat panas, melainkan peringatan bahwa umat manusia sedang memasuki masa ketika rekor iklim dapat terus dipecahkan jika akar krisis pemanasan global tidak segera ditangani. (Ali)

SulawesiPos.com – Badan Meteorologi Inggris atau Met Office pada Jumat (21/8/2026), memperingatkan masyarakat dunia bahwa El Niño yang sedang menguat di Samudra Pasifik sangat berpeluang menjadikan 2027 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah pencatatan modern karena anomali suhu laut diprakirakan menembus lebih dari 3 derajat Celsius dan melepaskan cadangan panas raksasa ke atmosfer di atas pemanasan global akibat aktivitas manusia.

Peringatan tersebut diberitakan oleh WION melalui laporan Jatin Verma pada 21 Agustus 2026, kemudian diperkuat laporan AFP, The Guardian, NOAA, Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO, dan data resmi Met Office Inggris.

Kepala Prakiraan Jangka Panjang Met Office Profesor Adam Scaife menyebut sinyal El Niño dalam model terbaru sebagai peristiwa yang belum pernah ia saksikan sepanjang kariernya.

“Kami memperkirakan El Niño terbesar dalam lebih dari satu abad, dengan puncak sedikit di atas 3 derajat Celsius, tingkat yang belum pernah terlihat dalam catatan iklim modern,” kata Scaife kepada BBC sebagaimana dikutip AFP dan The Guardian.

Met Office menilai tambahan panas dari El Niño yang diperkirakan mencapai puncaknya pada musim dingin Belahan Bumi Utara 2026–2027 akan paling terasa pada suhu rata-rata global sepanjang 2027, sehingga tahun itu sangat mungkin melampaui rekor panas 2024.

Tahun 2024 saat ini menjadi tahun terpanas dalam catatan observasi global dengan suhu rata-rata permukaan sekitar 1,55 derajat Celsius di atas tingkat praindustri 1850–1900, sedangkan 2025 tercatat sebagai tahun terpanas kedua atau ketiga menurut WMO.

Jika prakiraan terbaru terwujud, suhu rata-rata global selama 2027 dapat mendekati 1,7 derajat Celsius di atas tingkat praindustri, meskipun angka pastinya masih bergantung pada perkembangan El Niño, kondisi samudra lain, aktivitas vulkanik, aerosol, dan konsentrasi gas rumah kaca.

Penyebutan 2027 sebagai “tahun terpanas” harus dipahami sebagai prakiraan probabilistik yang sangat kuat, bukan kepastian mutlak, karena sistem iklim tetap dipengaruhi sejumlah faktor yang dapat berubah selama beberapa bulan mendatang.

Panas Raksasa Tersimpan di Bawah Pasifik

El Niño merupakan fase hangat dari El Niño–Southern Oscillation atau ENSO yang biasanya muncul setiap dua sampai tujuh tahun ketika angin pasat di Pasifik tropis melemah atau berbalik sehingga air hangat bergerak dari bagian barat menuju tengah dan timur samudra.

Dalam keadaan normal, angin pasat mendorong air hangat ke arah Indonesia dan Australia, sementara air dingin dari kedalaman naik ke permukaan di dekat pantai Amerika Selatan.

Ketika El Niño berkembang, proses tersebut melemah sehingga air hangat menyebar ke timur, mengubah tekanan udara, pergerakan angin, pembentukan awan, curah hujan, dan distribusi panas di berbagai kawasan dunia.

Para ilmuwan umumnya menyatakan El Niño terbentuk apabila suhu permukaan laut di wilayah pemantauan utama Pasifik tropis berada sedikitnya 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata dan bertahan bersama perubahan sirkulasi atmosfer.

Data NOAA pada Juli 2026 menunjukkan anomali suhu mencapai 1,4 derajat Celsius di wilayah Niño-3.4, 1,7 derajat di Niño-3, dan 2,9 derajat di wilayah timur Niño-1+2.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Sulsel Besok 14 Januari, BMKG: Hujan Ringan Berpotensi Terjadi

NOAA pada 13 Agustus 2026 menyatakan El Niño terus menguat dengan peluang lebih dari 90 persen menjadi peristiwa “sangat kuat” selama musim gugur dan musim dingin 2026–2027 di Belahan Bumi Utara.

Lembaga tersebut juga memperkirakan peluang sekitar 69 persen bahwa kekuatan El Niño pada Oktober–Desember 2026 dapat melampaui seluruh peristiwa sejenis dalam catatan pengamatan sejak 1950.

Model Met Office memperkirakan anomali suhu di bagian penting Pasifik dapat melewati 3 derajat Celsius menjelang puncaknya, sedangkan sejumlah simulasi penelitian bahkan menunjukkan kemungkinan mendekati 4 derajat.

Cadangan panas tidak hanya terlihat di permukaan karena pada kedalaman sekitar 100 meter terdapat bagian perairan yang dilaporkan mencapai 8 derajat Celsius lebih hangat dari biasanya.

Lapisan bawah laut yang sangat panas itu berfungsi seperti baterai energi raksasa yang dapat mempertahankan dan memperkuat El Niño ketika panasnya bergerak ke permukaan lalu dilepaskan ke atmosfer.

Mengapa Dampak Terbesarnya Diperkirakan Terjadi pada 2027?

El Niño biasanya mencapai puncak pada akhir suatu tahun, tetapi dampak pemanasannya terhadap suhu rata-rata planet sering paling kuat pada tahun kalender berikutnya.

Fenomena itu terjadi karena samudra membutuhkan waktu untuk memindahkan panas dalam jumlah besar ke atmosfer, sementara sirkulasi udara dan pola cuaca global merespons perubahan tersebut secara bertahap.

Ilmuwan iklim Met Office Dr Nick Dunstone mengatakan efek pemanasan El Niño sangat menonjol pada tahun setelah puncaknya di musim dingin, sehingga 2027 sangat berpeluang menggantikan 2024 sebagai tahun terpanas.

El Niño bukan penyebab utama pemanasan global, melainkan penguat sementara yang bekerja di atas tren pemanasan jangka panjang akibat pembakaran batu bara, minyak, dan gas serta perubahan tata guna lahan.

Suhu Bumi telah meningkat sekitar 1,4 derajat Celsius sejak akhir abad ke-19, sehingga El Niño masa kini berlangsung pada planet yang jauh lebih panas daripada ketika peristiwa serupa terjadi satu abad lalu.

Analogi sederhananya, perubahan iklim telah menaikkan permukaan dasar sebuah tangga, sedangkan El Niño menambahkan satu anak tangga panas yang dapat mendorong suhu Bumi menuju rekor baru.

Laporan prakiraan iklim global WMO yang diterbitkan pada 28 Mei 2026 menyatakan terdapat peluang 86 persen bahwa setidaknya satu tahun antara 2026 dan 2030 akan melampaui rekor panas 2024.

WMO juga memperkirakan peluang 91 persen bahwa sedikitnya satu tahun dalam periode tersebut akan mengalami suhu rata-rata global sementara di atas 1,5 derajat Celsius dibandingkan tingkat praindustri.

Pelanggaran ambang 1,5 derajat dalam satu tahun tidak otomatis berarti sasaran Perjanjian Paris telah gagal secara permanen karena target tersebut mengacu pada tren rata-rata jangka panjang, tetapi kejadian itu menunjukkan dunia semakin dekat dengan tingkat pemanasan yang lebih berbahaya.

Cuaca Ekstrem, Krisis Pangan, dan Risiko Kemanusiaan

El Niño yang sangat kuat tidak membuat seluruh wilayah Bumi mengalami kondisi cuaca seragam karena setiap kawasan dapat menerima dampak berbeda berdasarkan letak geografis, musim, suhu laut setempat, dan interaksi dengan pola iklim lain.

BACA JUGA:  Sulsel Berpotensi Hujan Hari Ini, Pinrang dan Enrekang Diprediksi Hujan Sedang

Sebagian kawasan Amerika Selatan, Australia timur laut, Asia Tenggara, Afrika bagian selatan, dan Pasifik barat berisiko mengalami kekeringan serta gelombang panas lebih berat.

Daerah lain seperti sebagian Amerika Selatan, Afrika Timur, Amerika Serikat bagian selatan, dan Eropa barat laut dapat menghadapi curah hujan berlebihan, banjir, atau badai yang lebih kuat.

Atmosfer yang lebih hangat dapat menampung lebih banyak uap air, sehingga ketika hujan turun, volumenya berpotensi lebih besar dan menciptakan banjir ekstrem.

Pada wilayah yang mengalami kekurangan hujan, suhu tinggi mempercepat penguapan, mengeringkan tanah, mengurangi ketersediaan air, serta memperbesar risiko gagal panen dan kebakaran hutan.

WMO menegaskan belum terdapat bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi atau kekuatan setiap El Niño, tetapi pemanasan samudra dan atmosfer jelas dapat memperbesar dampak gelombang panas, hujan ekstrem, dan kekeringannya.

Kajian IPCC sebelumnya menemukan indikasi bahwa variabilitas dan intensitas ENSO meningkat sejak sekitar 1950 dibandingkan periode historis panjang, tetapi perubahan alami selama berabad-abad membuat hubungan langsungnya dengan pemanasan antropogenik masih terus diteliti.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau FAO memperingatkan bahwa El Niño dapat memicu gagal panen, kematian ternak, peningkatan utang rumah tangga, kehilangan pendapatan, serta perpindahan penduduk untuk mencari pangan dan air.

Peristiwa El Niño 2015–2016 memengaruhi lebih dari 60 juta manusia dan mendorong permintaan bantuan kemanusiaan sekitar 5 miliar dolar AS di 23 negara, sehingga peristiwa yang lebih kuat dapat menghadirkan risiko sosial-ekonomi jauh lebih besar.

Komoditas seperti beras, gandum, jagung, kopi, kakao, gula, minyak sawit, dan produk peternakan dapat mengalami gangguan produksi apabila kekeringan atau banjir melanda kawasan penghasil utama secara bersamaan.

Lonjakan harga pangan akibat gangguan iklim akan paling berat dirasakan rumah tangga miskin karena mereka menggunakan bagian pendapatan yang lebih besar untuk membeli makanan.

Indonesia Berhadapan dengan Ancaman Kekeringan dan Kebakaran

Indonesia berada di sisi barat Pasifik tropis sehingga El Niño umumnya mengurangi pembentukan awan dan curah hujan, terutama selama musim kemarau.

BMKG memperingatkan bahwa Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan selatan, Sulawesi, dan Papua selatan berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal selama Juli–Oktober 2026.

Dampak tersebut dapat berlanjut atau meninggalkan konsekuensi hingga 2027 melalui penurunan cadangan air, mundurnya musim tanam, berkurangnya produksi pangan, kebakaran hutan dan lahan, gangguan kesehatan, serta tekanan terhadap pembangkit listrik tenaga air.

El Niño tidak selalu membuat seluruh wilayah Indonesia kering pada waktu bersamaan karena pengaruhnya dapat diperkuat atau dilemahkan oleh suhu perairan Nusantara, Monsun Asia–Australia, Madden–Julian Oscillation, dan Indian Ocean Dipole.

Perkiraan terbentuknya Indian Ocean Dipole positif pada 2026 perlu mendapat perhatian khusus karena fase tersebut dapat mengurangi pasokan uap air dari Samudra Hindia menuju Indonesia dan memperburuk kekeringan akibat El Niño.

BACA JUGA:  Hujan Terjadi Sepanjang Hari di Sulawesi Selatan 13 Februari

Pengalaman 1997–1998 dan 2015–2016 menunjukkan bahwa kombinasi El Niño kuat, kekeringan, lahan gambut kering, serta pembakaran dapat menghasilkan kebakaran luas dan kabut asap lintas negara.

Ancaman itu membuat persiapan tidak boleh menunggu sampai sawah mengering atau api meluas, melainkan harus dimulai melalui pengelolaan waduk, perlindungan gambut, penyiapan benih tahan kekeringan, penyesuaian kalender tanam, dan penguatan sistem peringatan dini.

Tahun 2027 Bukan Sekadar Rekor Angka

Rekor suhu global bukan hanya persoalan angka dalam tabel klimatologi karena setiap tambahan sepersepuluh derajat meningkatkan kemungkinan gelombang panas, kekeringan, hujan ekstrem, pencairan es, kenaikan muka laut, kerusakan ekosistem, dan kematian terkait panas.

Suhu yang lebih tinggi juga memperbesar risiko tekanan panas bagi pekerja luar ruangan, penyakit kardiovaskular, gangguan ginjal, dehidrasi, memburuknya kualitas udara, serta meluasnya sejumlah penyakit yang ditularkan nyamuk.

Lautan yang makin panas mengancam terumbu karang melalui pemutihan massal, mengubah persebaran ikan, menurunkan produktivitas perikanan, dan melemahkan perlindungan alami wilayah pesisir.

Bagi kota-kota besar, kombinasi perubahan iklim dan pulau panas perkotaan dapat membuat malam tetap panas sehingga tubuh manusia tidak memperoleh kesempatan memulihkan diri setelah terpapar suhu tinggi pada siang hari.

Peristiwa El Niño 2026–2027 juga dapat menjadi gambaran sementara tentang kondisi panas yang akan dianggap lebih umum pada akhir 2030-an apabila emisi gas rumah kaca tidak segera diturunkan.

Alarm Sains untuk Bertindak, Bukan Sekadar Menakut-nakuti

Prakiraan 2027 sebagai tahun terpanas harus digunakan sebagai jendela persiapan bagi pemerintah, ilmuwan, petani, pengelola air, tenaga kesehatan, pelaku usaha, dan masyarakat.

Pemerintah perlu memperbarui peta risiko kekeringan, mengamankan cadangan pangan, memperbaiki irigasi, menyiapkan tempat perlindungan dari panas, memperketat pencegahan kebakaran, dan memastikan kelompok rentan menerima informasi lebih awal.

Sektor pertanian perlu memanfaatkan prakiraan musim untuk menyesuaikan waktu tanam, memilih varietas tanaman yang sesuai, menghemat air, memperluas asuransi pertanian, dan menghindari penanaman serentak pada wilayah berisiko tinggi.

Masyarakat dapat mengurangi risiko melalui penghematan air, perlindungan anak-anak dan lanjut usia saat gelombang panas, pencegahan pembakaran lahan, penghijauan lingkungan, serta kepatuhan terhadap peringatan BMKG.

Adaptasi memang dapat mengurangi korban, tetapi tidak akan cukup tanpa mitigasi berupa penghentian pertumbuhan emisi, percepatan energi bersih, perlindungan hutan, efisiensi energi, dan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

El Niño akan melemah kembali sebagai bagian dari siklus alam, tetapi panas akibat karbon dioksida yang terakumulasi di atmosfer dapat bertahan selama ratusan tahun.

Karena itu, ancaman 2027 bukan sekadar ramalan tentang satu tahun yang sangat panas, melainkan peringatan bahwa umat manusia sedang memasuki masa ketika rekor iklim dapat terus dipecahkan jika akar krisis pemanasan global tidak segera ditangani. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru