Mentan Amran ke 2.500 Wisudawan Untad: Sukses Harus Kamu Rebut

SulawesiPos.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memompa semangat sekitar 2.500 wisudawan Universitas Tadulako (Untad) di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (20/8/2026), dengan pesan agar para lulusan tidak menunggu kesempatan datang, melainkan merebut sukses dan berani menciptakan lapangan kerja sendiri setelah meninggalkan kampus.

Amran menegaskan gelar sarjana bukan titik akhir, melainkan awal pertarungan untuk membuktikan kemampuan di dunia nyata.

“Sukses harus kamu rebut. Tidak ada jalan lain. Kalau mau sukses, harus berjuang,” kata Mentan Amran di hadapan para wisudawan Untad, Kamis (20/8).

Ia lalu menceritakan masa sulit setelah lulus kuliah saat datang ke Jakarta dengan sisa uang sekitar Rp300 ribu dan sempat tidur di masjid untuk bertahan hidup.

Pengalaman itu, kata Amran, membentuk keyakinannya bahwa keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti mengejar masa depan.

“Kalau mau sukses, anak-anakku, dapat tekanan. Tekanan pertama adalah jangan minta uang. Tekanan kedua jangan minta warisan. Tekanan ketiga, jangan mendaftar-mendaftar. Ciptakan lapangan kerja,” tegasnya.

BACA JUGA:  Bawa Harapan di Lokasi Terdampak Bencana, Mentan Amran Beri Rp1 Miliar untuk Anak Yatim dan Janda

Semua Tekanan Harus Diubah Jadi Tenaga Bertarung

Amran mengatakan dunia selepas kampus menuntut daya tahan lebih besar daripada sekadar kemampuan akademik karena kegagalan, kerugian, penolakan, dan kritik merupakan bagian dari proses.

“Guru terbaik adalah yang menghinamu, yang mencaci maki kamu, yang memfitnah kamu. Itulah guru terbaik, karena dia latih kita untuk menjadi petarung,” ujarnya.

Ia mengibaratkan perjuangan membangun usaha seperti mengebor sumber air yang pada awalnya hanya mengeluarkan lumpur sebelum akhirnya memancarkan air jernih.

“Yang dibutuhkan adalah endurance, ketahanan kita. Kalau bisnis itu sama dengan bor air. Kalau masih muda itu lumpur keluar. Tapi setelah tembus, ada air jernih yang memancar sepanjang masa. Itulah bisnis. Pada saat mau tembus, di situ orang menyerah,” katanya.

Amran juga menekankan kampus tidak cukup hanya melahirkan pencari kerja, tetapi harus mendorong lahirnya inovator, petani modern, peneliti, dan pengusaha pertanian baru.

“Bukakan pintu jalan pemuda Indonesia untuk mengantar Indonesia menjadi super power. Jangan kita ego hidup,” tegasnya.

BACA JUGA:  15 Ton Beras Sudah Tersalurkan, Program 100 Ton IKA Unhas Terus Berjalan

Mahasiswa Bertanya, Mentan Langsung Janjikan Bantuan

Dalam dialog, seorang mahasiswa Fakultas Pertanian menyampaikan kebutuhan sarana penelitian di lahan sekitar dua hektare agar bisa dipakai lebih produktif untuk praktik dan riset.

Merespons itu, Amran langsung menjanjikan bantuan sumur bor, hand tractor, serta dukungan benih dan bibit untuk pengembangan lahan tersebut.

“Kasih pompa sumur bor untuk pertanian. Kerjakan, jangan main-main. Setelah itu tanam jagung dan mulai penelitian di situ. Kasih hand tractor satu. Kalau mau benih boleh, mau bibit boleh. Tapi bor airnya dulu supaya lahannya bisa terus ditanami dan digunakan untuk praktik,” ujar Mentan Amran.

Perhatian serupa diberikan kepada alumni Untad yang tergabung dalam Brigade Pangan setelah mereka menyampaikan telah mengelola lahan ratusan hektare bersama sekitar 15 anggota, tetapi masih menyewa alat mesin pertanian karena keterbatasan modal.

SulawesiPos.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memompa semangat sekitar 2.500 wisudawan Universitas Tadulako (Untad) di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (20/8/2026), dengan pesan agar para lulusan tidak menunggu kesempatan datang, melainkan merebut sukses dan berani menciptakan lapangan kerja sendiri setelah meninggalkan kampus.

Amran menegaskan gelar sarjana bukan titik akhir, melainkan awal pertarungan untuk membuktikan kemampuan di dunia nyata.

“Sukses harus kamu rebut. Tidak ada jalan lain. Kalau mau sukses, harus berjuang,” kata Mentan Amran di hadapan para wisudawan Untad, Kamis (20/8).

Ia lalu menceritakan masa sulit setelah lulus kuliah saat datang ke Jakarta dengan sisa uang sekitar Rp300 ribu dan sempat tidur di masjid untuk bertahan hidup.

Pengalaman itu, kata Amran, membentuk keyakinannya bahwa keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti mengejar masa depan.

“Kalau mau sukses, anak-anakku, dapat tekanan. Tekanan pertama adalah jangan minta uang. Tekanan kedua jangan minta warisan. Tekanan ketiga, jangan mendaftar-mendaftar. Ciptakan lapangan kerja,” tegasnya.

BACA JUGA:  Mentan Amran: Produksi naik, Target Serap Gabah 2026 Capai 4 Juta Ton

Semua Tekanan Harus Diubah Jadi Tenaga Bertarung

Amran mengatakan dunia selepas kampus menuntut daya tahan lebih besar daripada sekadar kemampuan akademik karena kegagalan, kerugian, penolakan, dan kritik merupakan bagian dari proses.

“Guru terbaik adalah yang menghinamu, yang mencaci maki kamu, yang memfitnah kamu. Itulah guru terbaik, karena dia latih kita untuk menjadi petarung,” ujarnya.

Ia mengibaratkan perjuangan membangun usaha seperti mengebor sumber air yang pada awalnya hanya mengeluarkan lumpur sebelum akhirnya memancarkan air jernih.

“Yang dibutuhkan adalah endurance, ketahanan kita. Kalau bisnis itu sama dengan bor air. Kalau masih muda itu lumpur keluar. Tapi setelah tembus, ada air jernih yang memancar sepanjang masa. Itulah bisnis. Pada saat mau tembus, di situ orang menyerah,” katanya.

Amran juga menekankan kampus tidak cukup hanya melahirkan pencari kerja, tetapi harus mendorong lahirnya inovator, petani modern, peneliti, dan pengusaha pertanian baru.

“Bukakan pintu jalan pemuda Indonesia untuk mengantar Indonesia menjadi super power. Jangan kita ego hidup,” tegasnya.

BACA JUGA:  Dunia Krisis Pangan, Indonesia Justru Surplus Berkat Kerja Mentan Amran dan Tim Pertanian

Mahasiswa Bertanya, Mentan Langsung Janjikan Bantuan

Dalam dialog, seorang mahasiswa Fakultas Pertanian menyampaikan kebutuhan sarana penelitian di lahan sekitar dua hektare agar bisa dipakai lebih produktif untuk praktik dan riset.

Merespons itu, Amran langsung menjanjikan bantuan sumur bor, hand tractor, serta dukungan benih dan bibit untuk pengembangan lahan tersebut.

“Kasih pompa sumur bor untuk pertanian. Kerjakan, jangan main-main. Setelah itu tanam jagung dan mulai penelitian di situ. Kasih hand tractor satu. Kalau mau benih boleh, mau bibit boleh. Tapi bor airnya dulu supaya lahannya bisa terus ditanami dan digunakan untuk praktik,” ujar Mentan Amran.

Perhatian serupa diberikan kepada alumni Untad yang tergabung dalam Brigade Pangan setelah mereka menyampaikan telah mengelola lahan ratusan hektare bersama sekitar 15 anggota, tetapi masih menyewa alat mesin pertanian karena keterbatasan modal.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru