Investigasi Awal Ungkap 300 Ikan untuk MBG di Karo Dibiarkan 12 Jam di Suhu Ruang, 361 Siswa Keracunan

SulawesiPos.com – Investigasi awal Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap dugaan kelalaian dalam penyimpanan bahan baku ikan menjadi salah satu penyebab insiden keamanan pangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Sekitar 200 hingga 300 ekor ikan disebut tidak disimpan dalam freezer dan dibiarkan pada suhu ruang selama 12 jam hingga lebih dari 12 jam sebelum diolah.

Kepala BGN Sudaryono mengungkap temuan tersebut saat menjenguk korban di Rumah Sakit Haji Medan, Minggu (16/8/2026).

Menurutnya, kondisi itu menunjukkan adanya pelanggaran dalam pengelolaan bahan pangan yang seharusnya mengikuti rantai dingin (cold chain).

“Kami coba cek investigasi sementara. Jadi, itu kelalaian ada pada pengolahan. Bahan baku ikan itu sebagian besar dimasukkan ke freezer, tapi ada sekitar 200 sampai 300 ekor yang tidak masuk freezer,” ujar Sudaryono.

Ikan yang tidak masuk freezer tersebut kemudian dibiarkan dalam kondisi suhu ruang selama belasan jam.

BACA JUGA:  BREAKING NEWS: Presiden Copot Dadan Hindayana dari Jabatan Kepala Badan Gizi Nasional

“Itu kemudian ditaruh di suhu ruangan dalam kurun waktu 12 sampai lebih dari 12 jam,” tambahnya.

BGN Perketat Pengawasan Dapur MBG

Sudaryono menilai penyimpanan ikan pada suhu ruang dalam waktu lama berisiko mengganggu keamanan pangan.

Bahan mentah seperti ikan membutuhkan penanganan dan penyimpanan dengan suhu yang sesuai untuk menjaga kualitas serta mengurangi risiko kontaminasi.

Karena itu, BGN menyatakan tidak akan memberikan toleransi terhadap kelalaian dalam proses pengolahan makanan MBG.

“Tidak boleh ada kelalaian, tidak boleh! Zero tolerance, enggak boleh lalai. Dan saya minta kepala dapur atau siapa pun yang merasa enggak sanggup kerja, keluar saja daripada kemudian membahayakan nasib nyawa seseorang,” tegasnya.

Sebagai tindak lanjut, BGN memperketat standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan di seluruh dapur MBG.

Sekitar 27.000 kepala dapur di berbagai wilayah Indonesia diminta memperketat pengawasan pada setiap tahapan pengolahan makanan, mulai dari penerimaan bahan baku hingga makanan siap disajikan.

BACA JUGA:  Kejagung Bongkar Dugaan Jual Beli Titik SPPG Program MBG, Tiga Eks Petinggi BGN Jadi Tersangka

Insiden di Karo sebelumnya terjadi pada Kamis (13/8/2026). Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara mencatat 361 siswa dari SMA Negeri 1 Berastagi serta SMA dan SMK Swasta Bersama diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG.

Ratusan siswa tersebut mendapat penanganan di empat rumah sakit dan satu klinik. Sebanyak 270 pasien menjalani rawat inap, sedangkan 89 lainnya menjalani rawat jalan.

Salah satu pasien yang dirujuk ke RSU Haji Medan disebut mengalami kondisi paling berat dan membutuhkan pemantauan intensif.

Direktur RSU Haji Medan Yulinda Elvi Nasution mengatakan pasien tersebut mengalami nyeri hebat pada bagian perut yang muncul berulang hingga membutuhkan pemberian obat pereda nyeri.

“Merasa kesakitan dari perutnya itu. Sebelum begitu lah, rasa nyeri, nyeri, nyeri sekali. Terus ditambah analgesiknya dari dokter, disuntikkan baru dia tenang,” kata Yulinda.

SulawesiPos.com – Investigasi awal Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap dugaan kelalaian dalam penyimpanan bahan baku ikan menjadi salah satu penyebab insiden keamanan pangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Sekitar 200 hingga 300 ekor ikan disebut tidak disimpan dalam freezer dan dibiarkan pada suhu ruang selama 12 jam hingga lebih dari 12 jam sebelum diolah.

Kepala BGN Sudaryono mengungkap temuan tersebut saat menjenguk korban di Rumah Sakit Haji Medan, Minggu (16/8/2026).

Menurutnya, kondisi itu menunjukkan adanya pelanggaran dalam pengelolaan bahan pangan yang seharusnya mengikuti rantai dingin (cold chain).

“Kami coba cek investigasi sementara. Jadi, itu kelalaian ada pada pengolahan. Bahan baku ikan itu sebagian besar dimasukkan ke freezer, tapi ada sekitar 200 sampai 300 ekor yang tidak masuk freezer,” ujar Sudaryono.

Ikan yang tidak masuk freezer tersebut kemudian dibiarkan dalam kondisi suhu ruang selama belasan jam.

BACA JUGA:  Sudaryono The Hambalang Boys Jadi Kepala BGN, Ini Lingkar Loyalis Muda Prabowo yang Mendapat Jabatan Strategis

“Itu kemudian ditaruh di suhu ruangan dalam kurun waktu 12 sampai lebih dari 12 jam,” tambahnya.

BGN Perketat Pengawasan Dapur MBG

Sudaryono menilai penyimpanan ikan pada suhu ruang dalam waktu lama berisiko mengganggu keamanan pangan.

Bahan mentah seperti ikan membutuhkan penanganan dan penyimpanan dengan suhu yang sesuai untuk menjaga kualitas serta mengurangi risiko kontaminasi.

Karena itu, BGN menyatakan tidak akan memberikan toleransi terhadap kelalaian dalam proses pengolahan makanan MBG.

“Tidak boleh ada kelalaian, tidak boleh! Zero tolerance, enggak boleh lalai. Dan saya minta kepala dapur atau siapa pun yang merasa enggak sanggup kerja, keluar saja daripada kemudian membahayakan nasib nyawa seseorang,” tegasnya.

Sebagai tindak lanjut, BGN memperketat standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan di seluruh dapur MBG.

Sekitar 27.000 kepala dapur di berbagai wilayah Indonesia diminta memperketat pengawasan pada setiap tahapan pengolahan makanan, mulai dari penerimaan bahan baku hingga makanan siap disajikan.

BACA JUGA:  Awal Mula Kedekatan Dadan dan Prabowo, Berawal dari Cemara Udang yang Layu di Hambalang

Insiden di Karo sebelumnya terjadi pada Kamis (13/8/2026). Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara mencatat 361 siswa dari SMA Negeri 1 Berastagi serta SMA dan SMK Swasta Bersama diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG.

Ratusan siswa tersebut mendapat penanganan di empat rumah sakit dan satu klinik. Sebanyak 270 pasien menjalani rawat inap, sedangkan 89 lainnya menjalani rawat jalan.

Salah satu pasien yang dirujuk ke RSU Haji Medan disebut mengalami kondisi paling berat dan membutuhkan pemantauan intensif.

Direktur RSU Haji Medan Yulinda Elvi Nasution mengatakan pasien tersebut mengalami nyeri hebat pada bagian perut yang muncul berulang hingga membutuhkan pemberian obat pereda nyeri.

“Merasa kesakitan dari perutnya itu. Sebelum begitu lah, rasa nyeri, nyeri, nyeri sekali. Terus ditambah analgesiknya dari dokter, disuntikkan baru dia tenang,” kata Yulinda.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru